Among Tani Dagang Layar: Apakah Itu?

oleh
Perahu jukung Sri Rejeki nelayan Pantai Siung selesai dari melaut. Swara/KH.

AMONG TANI DAGANG LAYAR, istilah ini sesungguhnya sudah nyaring bergema sejak 2012 lalu. Among Tani Dagang Layar merupakan konsep strategis yang digagas Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pertama kali dipaparkan oleh Sri Sultan HB X pada saat sebelum penetapan beliau menjadi Gubernur DIY 2012-2017.

Pesan kuat yang ditangkap dari gagasan Among Tani Dagang Layar pada dasarnya adalah sebuah harapan munculnya perubahan paradigma baru untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat DIY, melalui pembangunan wilayah yang lebih fokus pada transformasi dari Among Tani ke Dagang Layar.

Benarkah dan juga bisakah Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bagian dari pewaris tradisi agraris pedalaman era Kerajaan Mataram mentransformasi diri menjadi sebuah wilayah bertradisi maritim? Lebih tegas lagi dalam konteks per-Gunungkidul-an, bisakah mayoritas warga Gunungkidul yang secara tradisional dari petani merubah diri menjadi masyarakat bertadisi pesisir yang kental kegiatan pokok berdagang dan berlayar?

Pertumbuhan dan perkembangan sosio-ekonomi wilayah dan masyarakat DIY di kawasan pesisir sejujurnya memang masih terabaikan. Pembangunan dan pertumbuhan wilayah secara riil masih terkonsentrasi di wilayah-wilayah perkotaan, entah pusat kabupaten/kota dan desa yang menjadi pusat-pusat kecamatan. Dari wilayah Girisubo Gunungkidul di timur ke barat sampai wilayah Temon Kulonprogo belum tampak pusat pertumbuhan sosio-ekonomi, kecuali di kawasan Kretek Parangtritis Bantul yang secara tradisional memang sudah lama berkembang sebagai destinasi wisata pantai.

Among Tani Dagang Layar merupakan salah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat berupa pembangunan dari daratan beralih ke maritim. Menjadikan pembangunan DIY menghadap ke selatan, artinya pembangunan difokuskan ke daerah pesisir DIY. Secara praktis, implikasi visi misi tersebut tentunya menjadikan fokus pembangunan DIY pada 3 wilayah kabupaten yang memiliki wilayah pesisir, yaitu: Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Gunungkidul.

Secara kewilayahan, pembangunan infrastruktur wilayah pesisir DIY memang sedang digenjot secara serentak. Menurut Dinas PUPR DIY, pembangunan JJLS (jalur jalan lintas selatan) dengan panjang lebih dari 70 km pada 3 wilayah kabupaten tersebut ditarget selesai pada 2018. Demikian pula, pembangunan Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto di Kulonprogo terus digarap. Ditambah pembangunan bandar udara baru di wilayah Temon Kulonprogo sebagai pengganti Bandara Adisutjipto yang ditarget mulai bisa beroperasi 2019/2020. Pembangunan infrastruktur transportasi tersebut diharapkan dapat memacu dan mempercepat pertumbuhan kawasan pesisir.

Pada saat penetapan kembali Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur DIY 2017-2022, strategi DIY yang akan lebih memfokuskan diri pada pembangunan masyarakat maritim kembali ditegaskan. Strategi yang diterapkan tidak sekadar dalam jargon Among Tani Dagang Layar, tetapi melalui rumusan yang lebih luas lagi, yaitu “Menyongsong Peradaban Samuder Hindia untuk Kemuliaan Martabat Manusia Jogja”.

Selain pembangunan fisik kewilayahan secara besar-besaran, maka perubahan atau transformasi kultural masyarakat sebagai subjek pembangunan tentu menjadi faktor utama keberhasilannya.

.

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi awal 1970 di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.