Ana Dina Ana Upa

oleh
Mbah Noyo. Sembari bertani warga sepuh Dusun Kedung Kandang Nglanggeran ini setia berjualan wedang, aneka minuman dan camilan makanan di warung pojokan rumahnya, yang sekaligus sebagai jalur trekking wisata air terjun Kedung Kandang Nglanggeran. | AW.

Ana dina ana upa. Sebuah ungkapan lawas yang tetap bermakna sampai kini. Bahwa sejatinya setiap hari senantiasa tersedia upa (bulir-bulir nasi) atau berkah atau hasil yang dipetiknya dari apa yang dikerjakan.

Apa iya? Jelas iya, asalkan tidak bermalas-malasan, ogah-ogahan, apalagi berpangku tangan kridha lumahing asta. Siapapun yang mau bekerja keras tanpa berkeluh-kesah, entah siapa yang sering dijuluki si pandai atau si bodoh, si cerdas maupun si bloon, pasti akan memetik hasilnya. Buah kerja, phala, nasi, upa pasti diperolehnya.

Ana dina ana upa merupakan spirit bekerja keras warisan para leluhur kita. Bagaimanapun sulitnya problema kehidupan pasti dapat terlampaui, asalkan mau bekerja keras, tidak patah arang, dengan beribu dalih tidak mengandalkan jalan pintas yang tidak semestinya.

Dalam usia sudah sepuh, Mbah Noyo seorang di Gunung Butak Patuk gigih mengisi keseharian dengan berjualan di warung sederhananya di pojokan pekarangan rumahnya.

Lare-lare kula merantau teng nJakarta mas. Kula kalih setri namung piyambakan mawon teng griya. Kula tesih remen nyambut damel. Teng kebon nandur pari napa tela. Niki kula marung, ngladosi wisatawan Air Terjun Kedung Kandang Nglanggeran,” ujarnya.

Tersedia beribu cara dalam mengisi indahnya kehidupan. Juga tersedia beribu-ribu cara untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul dalam kehidupan. Jelas, ana dina ana upa, … dan bunuh diri bukan solusi.

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya