Apa Itu Gangguan Stress Pasca Pemilihan?

oleh
Pemilu 2019. Foto: istimewa.

“Apapun hasil Pilpres dan Pileg, kita selow saja. Nggak usah senang berlebihan atau sedih berlebihan. Menang aja umuk, kalah aja ngamuk!” Itulah nasihat yang jamak sering kita dengarkan. Mudah didengarkan, namun tampaknya tidak mudah untuk diterapkan.

Karena ungkapan kegembiraan yang berlebihan terkadang dapat menyinggung pihak yang kurang beruntung karena perolehan suaranya lebih sedikit dari yang diharapkan. Demikian pula kondisi sebaliknya. Kekalahan, kesedihan, apalagi merasa dicurangi, merasa teraniaya terkadang bisa menyulut suatu tindakan yang tidak terduga.

American Psychological Association (APA) telah melakukan survei tahunan “Stres di Amerika” selama dekade terakhir. Mereka telah merilis temuan tahun 2016-2017. Hasilnya, ternyata sungguh tidak menggembirakan. Secara keseluruhan, tingkat stres di antara orang Amerika telah meningkat, kondisinya lebih tinggi daripada kondisi setiap tahun selama 10 tahun terakhir (termasuk tahun-tahun resesi mulai tahun 2008). Orang Amerika ternyata hidupnya sangat tertekan!

Dalam survei tersebut, mayoritas orang Amerika menunjuk iklim politik negara mereka sebagai sumber tekanan yang meningkat. Banyak kaum Demokrat yang merasa lebih tertekan daripada kaum Republik. Tetapi mayoritas Republikan dan Demokrat mengakui, mereka sama-sama merasa tertekan oleh kekhawatiran mengenai masa depan negara mereka.

Laporan tersebut menemukan, bahwa peningkatan tingkat stres juga mengakibatkan insiden yang lebih tinggi terkait gejala-gejala kesehatan fisik maupun jiwa, termasuk: sakit kepala, perasaan kewalahan, cemas, dan depresi. Dalam survei tersebut, responden juga memiliki lebih banyak perhatian untuk memikirkan keselamatan pribadi mereka daripada di masa lalu.

Semua gejala tersebut membuat beberapa orang berspekulasi bahwa banyak yang mengalami apa yang sekarang disebut Post Election Stress Disorder (PESD) atau gangguan stress pasca pemilihan. Sementara menunggu hasil penelitian lanjutan yang lebih mendalam, data awal tampaknya menyarankan bahwa gagasan PESD ini sungguh nyata dan merupakan “sesuatu yang tak dapat dianggap remeh.”

Begitu banyak orang yang tampaknya merasa berkecil hati, bingung, dan tertekan oleh iklim politik dan masa depan bangsa. Dan gejala stres mereka dapat menyebabkan masalah potensial dalam fungsi pribadi, sosial, dan pekerjaan mereka. Meskipun tidak ada jawaban sederhana untuk mengatasi stres, ada prinsip-prinsip bermanfaat yang dapat digunakan untuk mengelola stres dengan lebih baik.

Kembali mempertimbangkan manajemen stres melalui kerangka biopsikososial mungkin sangat membantu mengatasi gejala PESD ini.  Menghadapi gejala stres biologis atau fisik dengan menggunakan intervensi yang mempromosikan kesehatan seperti olahraga dan strategi relaksasi untuk menurunkan gairah fisiologis adalah tempat yang baik untuk memulai.

Kegiatan seperti yoga, meditasi, latihan fisik, doa, dan sebagainya menarik dan bermanfaat bagi banyak orang.  Gejala psikologis dapat diatasi melalui membangun fungsi kognitif yang positif, seperti melihat gelas setengah penuh daripada setengah kosong dan bekerja untuk menerima apa yang tidak dapat diubah namun juga melakukan upaya untuk mengubah apa yang memang bisa diubah.

Akhirnya, intervensi sosial dapat mencakup mendapatkan dukungan dari orang lain dan menjadi bagian dari kelompok yang sehat dan mengurangi stres. Jelas, kita semua saat ini berada pada kondisi kehidupan yang penuh gejolak dan tingkat stres yang sangat tinggi. Gangguan Stres Pasca Pemilihan sebenarnya mungkin adalah sesuatu yang memang harus kita atasi untuk waktu-waktu mendatang.

Terlepas dari kecenderungan situasi politik secara umum dan pandangan politik orang per orang di negara manapun yang berdampak pada munculnya PESD, kita semua sesungguhnya juga dapat menemukan cara untuk mengatasi stres dengan lebih baik, dan untuk menyempurnakan keterampilan dan upaya penanggulangan di kemudian hari.

Apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi PESD ini mungkin juga dapat kita bagikan untuk membantu orang lain yang mengalami gejala PESD. Ini karena suka atau tidak suka kita hidup di tengah kebersamaan.

Lantas, apa yang Anda pikirkan dengan situasi politik saat ini? Ayo bersama-sama tanggulangi gangguan stres pasca pemilihan mulai dari diri sendiri!

***

Referensi: https://www.psychologytoday.com/us/blog/do-the-right-thing/201702/post-election-stress-disorder-is-it-thing

Tentang Penulis: A Widyaningtyas

A Widyaningtyas
Tinggal di Yogyakarta. Senang memasak, traveling, dan menulis.