Apakah Tradisi Rasulan Itu Pemborosan dan Tidak Sejalan Ajaran Agama?

oleh
Sebuah warga dusun membuat gunungan Garuda Pancasila. Swara/Wage.

Ciri khas tradisi adalah penghidupan-kembali (mileniarisme) dan keberulangan-abadi (perenialisme). Para pembaca pasti sudah paham ciri khas tradisi tersebut. Dari Mbah Gugel atau buku-buku tentang keduanya pasti membahas tuntas tentang ciri khas tersebut.

Spirit mileniarisme dan perenialisme, menurut pandangan penulis, melatari cara berfikir setiap keluarga besar manusia. Keluarga besar mana yang tak ingin menghidupkan kembali spirit (baca: etos) yang pernah hidup di dalam keluarganya? Yang merupakan warisan leluhurnya?

Setiap anggota keluarga besar manusia mendambakan capaian-capaian keemasan yang pernah digapai oleh leluhurnya. Bahkan kalau perlu melebihinya? Menanti kehadiran anggota keluarga sebagai rasul, sebagai pemimpin, sebagai juru-selamat, sebagai penggembala, yang dapat menggiring anggota keluarga kepada kebahagiaan dan kemakmuran? Kita dengan sadar dan di bawah alam sadar, dengan sendirinya, mewarisi dan melaksanakan apa yang diturunkan, apa yang dicontohkan, apa yang diceritakan oleh leluhur kita sepanjang waktu. Bukankah demikian adanya?

Jadi, kemudian, Rasul adalah gerak-memusat-kembali. Memusat kepada teman-teman, handai-taulan, keluarga-keluarga, keluarga manusia. Memusat kepada yang-lain, namun yang-lain sebenarnya adalah anggota keluarga. Memusat kepada alam sekaligus dianggap sebagai bagian dari diri, ke pulung-ati alam. Artinya, Rasul memusat ke dalam diri sendiri. Memusat ke pancer rumah-tangga (omah). Memusat ke bale, ya Bale Desa atau Bale Dusun. Menghidupkan kembali ‘roh atau semangat desa’ di Bale Dhusun atau di Bale Desa.

Merti atau mrti itu pati, kematian. Mungkin karena orang Jawa sering menggunakan wancahan (kata yang dilesapkan suku katanya demi kepentingan percakapan sehari-hari), kata amerti (bukan pati; hidup) lama-lama diucapkan merti. Maksud frase merti-desa sebenarnya adalah amerti-desa. Namun kata merti juga bisa bermakna sebaliknya: hidup, atau menghidupkan. Kok bisa? Maksudnya menghidupkan roh atau spirit terhadap hal-hal yang dapat mewakili etos-komunal, melalui kerja: ngirim-donga itu: para leluhur, bibit-kawit desa, rohnya (sekali lagi rohnya) diyakini masih hidup.

Lhah badalah! Kepriye iki maksude? Jangan sampai Anda nanti salah memahami. ‘Menghidupkan’ dalam hal ini bukan berarti memberi tubuh pada roh agar hidup. Tapi menghidupkan dalam hati, dalam rasa, dalam pikiran-terdalam, bahwa yang telah merti (mati) sebenarnya rohnya amerti, masih hidup, masih dalam masa penantian dan perjalanan menuju kepada Maha Roh.

Lho lho, ini berbahaya! Jangan sampai Anda nanti salah tangkap. Menganggap orang yang melakukan upacara Rasul atau Merti Dhusun atau Merti Desa sama dengan menyembah roh para leluhur dusun/desa bukan menyembah Tuhan?

Masihkah Anda ikut kendhurenan? Setiap punya gawe mau itu peresmian gedung. mau itu ulang-tahunan, mau itu kawinan, ada tumpeng yang dikupeng bersama tetangga, sega tumpeng kadang diganti piramida roti, kemudian didoakan. Apakah Anda merasakan dan akan mengatakan bahwa Anda bukan sedang kendhurenan? Bahwa Anda menyembah tumpeng, bukan menyembah Tuhan? Tidak bukan?

Pembaca bisa saja menjawab: ya beda lah. Itu beda dengan keyakinan dan laku saya. Jika sekedar tumpeng sih, nggak pa pa. Tapi kalau berbau mitos-mitos, syirik namanya. Kalau saya tetap menyembah Tuhan, karena berdasar pada kitab suci, ikrar Nabi/Rasul, dan tentu saja bersifat syar’i. Sementara yang beberapa masyarakat lakukan itu menyembah benda mati. Anda tidak menyembah benda mati, uang misalnya?

Merti memang paradoks. Memule orang mati memang paradoks. Bukankah separadoks memule orang hidup yang gemar korupsi?

Karena itu, makna lain merti adalah wewulang atau ajaran. Merti di dalam dirinya adalah ilmu yang diwariskan lewat tradisi membersihkan diri (membersihkan nalar, hati, yang telah mati), membersihkan tempat-tempat khusus yang berhubungan dengan keberadaan leluhur, membersihkan niat.

Merti yang sebenarnya amerti, yaitu amerti desa, amerti dhusun, amerti bumi, adalah tindakan sesuci yang dilakukan keluarga manusia. Reresik bahasa dusunnya. Reresik dilakukan dengan pengorbanan, dengan persembahan: benda-benda, makanan, dan tenaga.

Dengan sesuatu yang dianggap memiliki nilai di dalam keyakinan religi (baca: ikatan) keluarga-keluarga. Sesuatu yang berharga. Dari makanan yang paling enak. Iuran (bahkan yang di paran pun ikut iuran). Demi kehadiran sebuah agama: ikatan bersama kulawangsa manusia.

“Mbuh ra ngerti aku mau rasulan neng omahe sapa, jenenge sapa, sing penting aku mangan wareg!”, begini kata teman penulis yang pulang dari acara Rasulan. Adat pesta-pora, khususnya kembul bujana andrawina tampaknya memang dimiliki oleh seluruh kulawangsa manusia.

Acara atau upacara Rasul memang identik dengan ngirim dhaharan atau disebut ater-ater ke sanak saudara, terlebih kepada para pepundhen agar bisa menikmati kembul bujana atau makan bersama. Atau sebaliknya, ngaturi sanak-saudara untuk dhahar. Dalam konteks ini pun, teman-teman dianggap saudara.

Sementara itu, upacara Rasul identik dengan ngirim-donga kepada para leluhur. Apakah para pembaca tidak mengirim doa kepada para leluhur, yang Anda pundhi dalam kehidupan Anda sesuai keyakinan dan syariat agama yang Anda-imani? Saya rasa tidak.

Rasul memang identik dengan makanan. Ibadah dalam agama-agama pun identik dengan makanan. Pesta makanan. Memindahkan pesta makanan dari ruang-waktu sakral mitis telah lazim dilakukan oleh umat beragama. Kebanyakan umat beragama mengalami laku ‘selibat’ dengan makanan sekaligus bersetubuh dengan makanan. Masih sedikit manusia yang hidupnya benar-benar telah ‘berselibat’ dengan makanan.

Yang termasuk bujana dalam Rasul adalah ingkung. Ingkung merupakan paralambang (lambang kuno; seperti halnya matahari, bulan, bintang, sebagai perlambangan nama Tuhan) manekung, berserah diri pada Tuhan.

Ingkung di Upacara Rasul dilengkapi dengan tumpeng. Tumpeng makna leksikalnya (sila melihat Bausastra Jawa), beras yang didang di kukusan menjadi nasi, yang kemudian ditumplak (ditumpahkan dari kukusan pada suatu tempat; berbentuk wutuh seperti kukusan-terbalik atau segitiga atau gunung) terbalik, mbathuk gunungan (bathuk yang atasnya semu lancip), bentuknya tidak putus atau pecah. Tumpeng adalah replika gunung.

Tumpeng di upacara Rasul adalah paralambang Gunung, atau kode adanya gunung-gunung. Menjadi sangat pas jika arak-arakan tumpeng di Upacara Rasul di Gunungkidul matumpa-tumpa, bertumpuk-tumpuk seakan tak putus. Gunungkidul adalah pegunungan, Gunungkidul itu gunung-gunung; seribu gunung.

Bagi seorang beragama Islam seperti saya, Rasulullah lazim mewakili diri Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dalam beberapa manuskrip Jawa, konsep rasulullah yang merujuk pada pribadi Kanjeng Nabi Muhammad disamakan dengan Roh Ilapi, yaitu roh yang mendasari semua ciptaan, termasuk manusia. Nur Muhammad istilahnya, cahaya yang menyinari semesta. Roh/energi semesta.

Melalui Nur Muhammad lah Tuhan, yang dalam tradisi Islam seperti yang diajarkan pada saya menyebutNya dengan {Allah}, yang secara ucapan hampir sama dengan konsep ketuhanan di agama Ibrahiman lain, yang jika dibandingkan dengan konsep Panteon Hindu dan non-panteon Budha tampak berbeda, menciptakan alam raya (jagad-ageng). Allah menciptakan alam dan unsur-unsurnya. Tumbuhan, hewan, dan manusia. Lewat sebuah roh awali. Lewat winih, atau biji. Beras. Palawija. Semua dianggap roh-roh, sebagai utusan-utusan Tuhan. Sebagai caraka. Sebagai rasul.

Agama-agama yang terlembagakan memiliki rasul: mengimani Manusia Unggul Pilihan Tuhan, karena tidak semua manusia pada ruang-waktu tertentu ditempatkan pada tataran unggul semua. Tumbuhan pilihan Tuhan; karena tidak semua tumbuhan pada ruang-waktu tertentu unggulan semua. Hewan pilihan; karena tidak semua hewan pada ruang-waktu tertentu terpilih untuk menemani manusia semua. Benda pilihan; karena memang tidak semua benda dipilihkan sebagai totem utama untuk segolongan masyarakat/umat. Tempat-tempat pilihan. Waktu pilihan. Semua kulawarga Gunungkidul merasakan dan merasukkan Upacara Rasul pada waktu mitis (sakral) tertentu. Hari Pasaran tertentu. Yang telah lekat di ikatan komunal keluarganya. Bisa Senen legi. Bisa Selasa Paing. Bisa Jumat Kliwon. Dan seterusnya.

Orang-orang yang menyebut dirinya ‘modern’, untuk berbagai kepentingan seperti politik pencitraan, menggunakan akronim dan penyingkatan kata  misalnya: GK, Nungki, Gunkid, Handayani, dll sebagai kode baru. Kode baru ini dirasa lebih singkat. Mudah diingat. Kode-kode baru dimitoskan berulang karena diasumsikan mengandung suatu spirit kehidupan sebelumnya; konsep kata sebelum diturunkan (andhahan kata). Spirit dalam kode yang mencitra.

Menurut penulis, pemitosan oleh orang-orang yang menyebut dirinya modern dengan teknik akronimisasi dan penyingkatan-penyingkatan sebenarnya hanya meniru atau melanjutkan ajaran orang-orang kuno. Tentu, ajaran kuno diwariskan melalui unsur-unsur kebahasaan arkais.

Orang-orang kuno menamai unsur kebahasaan arkais ini dengan “jarwa-dhosok”; secara leksikal berarti “makna yang didesakkan, didorong ke depan”. Jarwa atau jarwi adalah makna. Makna kata berupa kata jarwa-dhosok tidak berubah. Kata-kata (2 kata atau lebih) diringkas, dilipat, didesak, mewujud ‘mitem’ dalam istilah mitologi. Wujudnya bisa fonem (bunyi-bunyi bahasa; aksara), bisa morfem (suku-kata dan atau kata). Kode [G] atau {Gun} mewakili “gunung”; kode [K] atau {Kid} mewakili “kidul”. Pengkodean dengan pemisahan (pengusiran), pengumpulan (persatuan), pengumpulan-kembali, pewalian (perasulan), pemilihan manusia dan benda (totem) terpilih, telah lazim digunakan oleh keluarga manusia purwa, oleh alam dalam kosmogoni, oleh Tuhan dalam penciptaan dunia.

Di dalam diri Rasul yang jarwa-dhosok tersimpan konsep plutan, yaitu kata andhahan (turunan) yang proses pembentukannya dengan mluta, memisah dua kata kemudian menyatukan bagiannya. Tujuannya untuk menyingkat pengucapan. Mempercepat gerak. Melipat waktu. Tampaknya ini sama dengan kode-kode hiper-realitas dan hiper-modern seperti IG, WA, serta FB yang penulis-gunakan ini. Yaitu untuk mempersingkat dan melipat jarak.

Lipatan-lipatan dan penyingkatan-penyingkatan konsep bahasa oleh para leluhur lewat “jarwa-dhosok” atau “plutan” atau “wancahan” bukan merupakan identitas-beku atas kata yang telah berakhir makna literalnya, telah mencapai makna sebenarnya. Lipatan dan penyingkatan itu perlambangan kuno (para-lambang).

P(a)ralambang kuno dalam bentuk aksara, yang pada mulanya adalah wali atau “caraka” atau rasul atau utusan hakekat ketuhanan, dimitoskan oleh manusia dan digunakan sebagai lambang-lambang suci di cabang-cabang IPTEK, dari bentuk “segitiga suci” di gunungan-gunungan upacara Rasul itu, pembagian sirah-badan-suku di bentuk “bale”, bahkan hingga ‘hipertexts-language’ (HTML) yang mengisi bagian kepala-tubuh-kaki di bahasa pemrograman, yaitu bahasa “universal” untuk segala konten (baca: makna) web.

Titik berangkat filsafat bahasa tradisional adalah pemahaman terhadap ilmu pasemon atau paralambang ini, sejajar dengan pemahaman terhadap ilmu semiotika dan hermeneutika di bahasa ‘modern’ bagi orang modern.

Rasul, dengan demikian, bisa diurai sebagai “jarwa-dhosok”: beras-wangsul, di mana metodologi yang digunakan adalah “pluta” atau “wancahan”. Pengurangan atau pemotongan untuk kemudian dilakukan tindakan penyatuan kembali. Toh Rasul mengingatkan para keluarga Gunungkidul yang pada awalnya (pada waktu mitis tertentu: serba kekurangan dalam hal ekonomi, serba kurang pendidikan, dll.) utuh, kemudian ada beberapa anggotanya yang berkurang karena melakukan pengembaraan (lunga-paran; terserak mengembara golek urip di beberapa daerah), di suasana Rasul pulang (wangsul).

Rasul itu waktu berkumpul dengan keluarganya. Rasul pun mengingatkan para keluarga yang terserak di berbagai tempat ini kepada gunung, kali, tegalan, sumber, bale-dhusun, bale-dhesa, serta berbagai makanan khas Gunungkidulan, yang pada waktu mitis tertentu dulu pernah mengokohkan kehidupannya di desa.

Yang tampak ngegla wela-wela, Rasul ya secara leksikal bermakna “rasa” ini, adalah kenubuwahan biji beras bagi para among-tani. Rasul adalah rasanya hasil olah pertanian. Rasul adalah rasanya beras, rasanya tela, rasanya gembili, kacang, dhele, mbayung, dan sebagainya.

Rasul adalah mangsulake (membalik, mengembalikan) itu semua kepada Bumi yang melahirkannya. Rasul adalah rasa terdalam masyarakat agraris Gunungkidul kepada kekuasaan alam yang di sebalik kekuasaan alam itu bersemayam apa yang diyakini dengan kekuasaan Tuhan (Tuhan bermakna ‘Penguasa’; lihat Kamus Jawa Kuno Indonesia, PJ. Zoetmulder, halaman 1282). Ya, itulah rasa Rasul.

Namun, jika pun “rasul” hendak direlasikan dengan kenubuwahan Kanjeng Nabi Muhammad, bisa-bisa saja. Jika pun umat beragama selain Islam di Gunungkidul atau aliran keagamaan lain memiliki keyakinan bahwa makna batin upacara “rasul” berhubungan dengan tokoh suci dalam keyakinan agamanya ya sah-sah saja. Jika pun para penghayat keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa menganggap ritus rasul sebagai titik awal datangnya “pepadhang” (pencerahan) baru kenapa tidak?

Jika para among-tani Gunungkidul (dengan berbagai latar agama), yang bidang kerjanya benar-benar bertani, meyakini bahwa rasul adalah prosesi kembalinya (wangsul) ‘rasul’ (beras; biji kehidupan) di atas tadi, yang selama ini beras dan teman-temannya telah ditanam, dijaga, didoakan tiada henti, kepada Ibu Bumi dan Bapak Angkasa haruslah dihormati.

Jika Rasul adalah kembul bujana andrawina, iya benar. Memang tanpa hal ini makna Rasul menjadi ampang. Jika Rasul adalah sebentuk sedekah kepada liyan (manusia, alam-raya) untuk mendekatkan diri-manusia kepada alam dan Tuhan, memang sebaiknya.

Jika Rasul adalah melulu pesta rakyat dengan berbagai pertunjukan seni, memang itu adalah pesta rakyat. Rasul adalah perayaan rakyat pada waktu mitis pasaran. Rasul adalah kendhurenan. Jathilan. Reyogan. Wayangan. Karawitan. Tayuban. Kethoprakan. Campursarinan. Bukankah pesta atau perayaan telah menjadi adat-kebiasaan keluarga manusia di Bumi? Kapan pun?

Jika rasul secara fungsi bisa merekatkan persatuan dan kesatuan, keguyuban, kegotong-royongan, menumbuhkan rasa ‘melu handarbeni hangrungkebi’ alam lingkungannya sendiri, atau ‘mamayu hayuning bawana’ dalam lingkup Gunungkidul, ya demikian lah sebaiknya.

Namun jika Rasul diyakini hanya sebagai laku pemborosan, buang-buang waktu-tenaga, sekedar proyek pariwisata, dipaksakan kehadirannya oleh masing-masing rumah tangga, ya ora pa pa, ora dadi ngapa; memang ada yang meyakini demikian adanya.

Atau jika Rasul dianggap oleh sekelompok orang sebagai hanya budaya lokal yang ‘menyimpang’ dari tuntunan suatu agama, ya mangga dipersilakan. Ya, politik-identitas memang menjangkiti kulawangsa manusia sejak dulu khan? Kulawangsa manusia tak henti menafsirkan identitasnya, merekonstruksi identitasnya, meyakini identitasnya. Sebagai apa, sebagai siapa.

Seperti salah satu identitas gunungan Rasul di desa penulis pada tahun ini: Burung Garuda. Salah satu dusun di Gunungkidul mencoba mengidentifikasi semangat Rasul yang hidup di kesadaran kulawangsanya lantas diwujudkan gunungan Garuda.

Barangkali banyak di antara kita yang tak tahu, dan tak mau tahu, bahwa Burung Garuda lambang negara bangsa-bangsa se-Nusantara yang telah bersepakat membentuk suatu negara berketuhanan, berkemanusiaan, berkesatuan, berkerakyatan, dan berkeadilan bernama Indonesia (baca: Pulau-pulau Hindia).

Alih-alih dengan upacara Rasul kita mau menerima perbedaan-perbedaan latar-belakang kita sendiri-sendiri, apalagi paralambang yang hidup di dalam bangunan rumah kita sendiri. bahkan masih menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, atau berkenan mendengarkan cerita-cerita tentang gunungan, reyog, tumpeng, jangan-lombok, ingkung, yang berbeda-beda dari masing-masing dusun/desa se-Gunungkidul dan sekitarnya, namun tampaknya ada yang tak mau menerima perbedaan yang telah ‘disunahkan’ Tuhan atas alam raya dan seisinya, lebih-lebih meluangkan waktu untuk memaknai kembali apa itu arti mitos, keimanan, kebenaran, kepemelencengan akidah, serta kebenaran agama.

Para manusia Gunungkidul dan di beberapa wilayah sekitarnya mengalirkan rasul di aliran darahnya, yaitu winih-winih kehidupan yang terus-menerus disemai di Bumi Gunungkidul, telah dipanen, sedang dan akan selalu dihaturkan kembali oleh para kulawangsa Gunungkidul dengan berbagai latar pendidikan, agama, serta keyakinan, kepada Tuhan Pencipta Alam Raya, sembari nusulake (mengikutsertakan) rasa di setiap manifestasi tumpeng, jangan-lombok, ingkung, reyog-dhodhog, jathilan, dhoger, karawitan, kethoprak, tayub, campursari, ingkung, kendhuren, bersih-kali, dan ciri-ciri khas Rasul lain yang datang menghampiri setiap tahunnya. Rasa-rasa yang dimiliki oleh manusia Gunungkidul, lewat kasih-sayang Bumi Gunungkidul (beras, palawija, dll.), diwangsulake (dikembalikan) kepada Sang Maha Rasa; Tuhan Yang Maha Kuasa.

Yang dengan jelas tampak di mata adalah, jika kula lan Panjenengan-sami merasakannya, orang-orang dengan penuh semangat berduyun ke bale-dhusun atau bale-desa. Ke jantung massa, ke pusat masa. Orang-orang membawa serta gunung-dhiri. Orang-orang ngreyok, orang-orang ramai. Orang-orang menyusulkan dan menyusupkan rasa. Ya, rasa mendalam yang hadir dalam diri.

Rasanya gunungan itu menjadi tak terasa berat memikulnya. Yaitu, rasa-gunungan sebagai perlambangan Upacara Rasul, dengan bergotong-royong kita merayakannya, dilandasi perasaan kita yang beraneka-warna tentangnya (tunggal-aroro), meskipun keyakinan kita berbeda-beda tentang Upacara Rasul itu tetap saja kita laksanakan irisan-irisannya (roro-atunggal). Persis sebagaimana seloka dalam pupuh 139:5 Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular itu: “Bhineka Tunggal Ika“.

Karena rasul adalah transformasi rasa agar penokohan manusia-unggul (rasul, biji kehidupan) yang harus dilaksanakan oleh umat manusia terlahir kembali di tengah-tengah keluarga yang tentu selalu mencoba manekung kepada Tuhan; dengan teknik ngingkung. Harapan-harapan manusia-manusia Gunungkidul tentang kondisi masa-depan yang lebih baik telah kokoh sebagai dasar dan mengandung ajaran-kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur dimantrakan oleh para tetua.

Silakan Anda simak dan dengarkan dengan benar ucapan Ki Dalang ketika jejer pentas wayang Rasul di malam harinya: swuh rep data pitana bunyinya; rasa yang lalu, rasa yang kini, dan rasa yang akan datang, akan selalu hadir matumpa-tumpa (bertumpuk bak tumpeng dan gunungan)! Begitu terus tampaknya.

[Wage]