Ayah Masih Mengumpulkan Uang

oleh
Pasar Argosari Wonosari. Foto: KH.

Bila kita pergi ke pasar tradisional, entah untuk belanja atau sekedar melihat-lihat barang-barang yang dijual oleh pedagang, tentu akan ketemu dengan begitu banyak orang. Di Pasar Argosari Wonosari, dari saat mulai mencari tempat parkir motor, kita sudah disambut oleh juru parkir. Di dekat parkiran motor, ada beberapa tukang becak yang sudah tua menanti penumpang. Ternyata becak masih laku di jaman ojek online.  Kemudian, saat mau naik ke lantai dua juga ada pedagang angkringan yang sudah buka walaupun hari masih pagi.

Pagi itu, aku bertemu dengan seorang gadis kecil anak seorang tukang becak. Duduknya menggelesot di lantai pasar yang jelas tidak bersih. Umurnya kurang lebih 7 atau 8 tahun. Rambutnya lurus hitam kemerahan panjang sebahu. Wajahnya  nampak polos dan manis walau tidak begitu bersih.  Jarang juga sepagi seperti ini terlihat anak kecil usia sekolah masih duduk-duduk di pasar.

Sengaja kudekati dan kutanya apakah ia sudah sekolah. Di belakangnya ada sebuah becak milik ayahnya. Di tangan mungilnya yang juga kotor, ada penganan, yang ia makan dengan penuh riang dan gembira. Ketika saya dekati dan bertanya, apakah sudah sekolah, dengan ringan ia menjawab,” Sri belum sekolah, ayah masih mengumpulkan uang”.

Jawabannya cukup menohok orang dewasa sepertiku. Ada dua hal yang cukup dalam dari jawaban Si Sri kecil itu. Jawaban bagian pertama: Sri sekolah, seperti hendak menyampaikan adanya kesadaran dan pengakuannya. Si Sri anak kecil itu sadar betul teman-teman seusianya umumnya sudah sekolah. Namun di sisi lain, ia juga sadar walaupun ia seharusnya berada di bangku sekolah, namun mengakui bahwa memang belum sekolah. Tohokan kedua disampaikan Si Sri lewat kata-katanya: Ayah masih mengumpulkan uang. Jika kalimat tersebut disampaikan oleh orang dewasa tentu nuansa yang ditimbulkan biasa saja. Namun dengan usianya yang baru sekitar tujuh tahun, ia ternyata bisa mengerti betul keadaan orang tuanya.

Ketakberdayaannya karena belum sekolah adalah akibat dari kurangnya biaya, yang saat ini masih terus diusahakan oleh ayahnya dengan mengumpulkan dari hasil bekerja mengayuh becak. Dan Si Sri ternyata mengerti betul bagaimana ayahnya mencari nafkah. Anak yang masih kecil ini ternyata sudah mengerti dan ikut merasakan kesulitan hidup keluarganya. Ia sendiri tidak lari dari kesulitan tersebut namun ikut merangkul dan menemani kesulitan ayahnya dengan  duduk menggelesot di lantai pasar sambil menikmati penganan di tangannya.

Pertanyaan selanjutnya bagi kita orang dewasa, darimana anak kecil seperti Sri memperoleh kesadaran dan empati terhadap orangtuanya?  Secara mudah tentu mudah kita duga, kemungkinan besar adalah dari orantuanya. Namun yang lebih penting diungkap adalah bahwa hal ini membuktikan bahwa sejak lahir anak adalah pribadi yang utuh. Seorang anak bukan sebatang ranting yang untuk dibengkak-bengkokkan, bukan sekedar kertas kosong untuk ditulisi, dan juga bukan lilin plastis yang bisa sekehendak hati bisa dibentuk. Juga bukan sekedar sekrup dalam sebuah mesin produksi milik para pemilik modal.

Sejak lahirnya ia adalah pribadi yang utuh. Perkara kemudian dalam usia belia Sri sudah menemukan kesadaran dan empatinya (walau nampak dalam perkara yang sepele) itu hasil dari lingkungan di mana ia hidup. Tetap bibit bahwa dalam dirinya ada kesadaran dan empati merupakan sesuatu yang dibawa sejak lahir kemudian ternyata bibit itu bisa bertunas walau ia hidup dalam keluarga yang sederhana.

Semoga Tuhan memberkati keluarga ini.

Tentang Penulis: Heru Tricahyanto

Heru Tricahyanto
Saya seorang manusia biasa saja, lahir besar, dan tinggal di Wonasari. Bisa jadi karena cinta Gunungkidul atau memang kepepet ndak berani merantau yaaa. Sehari-hari menjadi tukang servis komputer, bakul wedang di Kopi Angkringan Wonosari kalau malam, kadang juga kelayapan ke Jogja sekedar melepas kangen (pada siapa?). Saya ndak bisa menjadi orang yang spesial pada satu hal, alias orang generalis, sehingga ndak lulus program Doktoral, karena memang gak kuliah doktoral (hehehe).