Ayo, Jangan Sepelekan Penanganan Pasca Panen Padi

oleh
Penanganan pasca panen kunci penting kualitas dan produktivitas pertanian. Foto: Sus/DispertanGk/Swara.

Penanganan pasca panen padi sangat menentukan produktivitas dan kualitas hasil pertanian. Namun, masih banyak petani yang tidak begitu memperhatikan penanganan pasca panen. Akibatnya produktivitas dan kualitas hasil panenan padi tidak begitu menggembirakan.

Untuk meningkatkan kualitas dan pendapatan petani di Kecamatan Wonosari, sekaligus mendukung Desa Replikasi Mandiri Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan melalui Bidang Tanaman Pangan telah mengadakan kegiatan Pelatihan Tanaman Padi. Di dalam pelatihan tersebut juga disampaikan materi penanganan pasca panen.

Di lapangan, penanganan pasca panen bagi petani masih menjadi kegiatan pertanian yang sering diabaikan bahkan tidak diperhitungkan. Padahal faktor penanganan pasca panen yang sembrono akan berdampak pada kualitas hasil pertanian dan bisa berakibat menurunkan pendapatan petani.

Penanganan pasca panen mempunyai peranan penting untuk mendukung peningkatan produksi padi melalui penurunan kehilangan hasil dan peningkatan kualitas hasil. Untuk itu, para petani sangat perlu memperhitungkan seberapa besar kehilangan hasil dan penurunan jumlah hasil pertanian.

Hasil praktik lapangan membuktikan, satu bulir padi akan menjadi 20 – 25 rumpun tanaman dan dalam satu tangkai padi menghasilkan 150 – 200 bulir padi. Jadi, jika dalam panen banyak bulir padi yang terbuang, maka berapa kilogram produksi padi yang hilang menjadi tidak terasa. Karena itu, dengan penanganan pasca panen yang tepat diharapkan akan menekan susut hasil pertanian sekaligus memperbaiki kualitas padi.

GHP (Good Handling Practices) adalah cara penanganan pasca panen hasil pertanian yang baik dan disarankan. Tujuannya adalah untuk menekan susut hasil, mempertahankan mutu hasil, meningkatkan efisien, dan meningkatkan nilai produk secara ekonomis, serta memiliki daya saing.

Beberapa hal yang berikut ini dalam penanganan pasca panen agar susut panen 19,98% (BPS 1995/96) menjadi 10,82% (BPS 2005/2007) menunjukkan adanya perbaikan penanganan pasca panen, yaitu:

  • Pembinaan dan pengembangan kelembagaan pasca panen berbasis Gapoktan,
  • Penerapan sarana dan teknologi alat mesin pasca panen tepat guna,
  • Peningkatan kemampuan dan ketrampilan petani/Gapoktan,
  • Pendampingan, supervisi, serta
  • Pengawalan dibidang teknis dan manajemen usaha pasca panen.

Penanganan pasca panen padi pada hakikatnya merupakan subsistem dari sistem agribisnis padi yang mencakup kegiatan mulai dari panen sampai dengan menghasilkan beras atau tepung beras. Prinsipnya penanganan pasca panen meliputi beberapa tahap kegiatan yaitu panen, perontokan, pengeringan, penggilingan, pengemasan dan penyimpanan.

Titik kritis kehilangan hasil pada umumnya terjadi pada tahapan pemanenan, penumpukan sementara  hasil panenan padi dan perontokan padi untuk menghasilkan gabah. Penggunaan alas dan wadah dapat menekan kehilangan hasil, dalam penundaan perontokan juga menyebabkan kehilangan hasil yang disebabkan oleh  gabah yang rontok selama penumpukan atau dimakan binatang, kerusakan gabah  karena adanya reaksi enzimatis, sehingga gabah  cepat tumbuh berkecambah, terjadinya butir kuning,  berjamur atau rusak.

Karena itu, yang perlu diperhatikan dalam penumpukan padi sebelum dirontokkan adalah:

  1. Menggunakan  alas plastik pada saat penundaan perontokan padi,
  2. Penundaan boleh dilakukan tetapi tidak boleh  lebih dari satu malam dengan tinggi tumpukan padi  tidak lebih dari 1 m. Tanpa penundaan perontokan dapat menekan susut hasil 1 – 3% dan menekan terjadinya butir kuning dan rusak 1 – 2%.

Untuk memperlancar kegiatan di lapangan, perlu didukung dengan pengembangan Alsintan yang secara teknis dan ekonomis layak untuk diterapkan. Penanganan pasca panen padi sesuai kaidah SOP dan GHP mempunyai peranan yang penting dalam usaha menekan kehilangan hasil dan meningkatkan mutu gabah/beras. Penanganan pasca panen merupakan kegiatan strategis yang memerlukan partisipasi seluruh masyarakat. (Sus/DispertanGk/Bara).

Tentang Penulis: Basuki Rahmanto

Basuki Rahmanto
Toekang photo segala acara dan jurnalis KabarHandayani. Hobby jalan-jalan dan kuliner. Tinggal di Wonosari Gunungkidul.