Ayo Siaga, Beberapa Wilayah Gunungkidul Rawan Bahaya Longsor

oleh
Peta Risiko Longsor Wilayah DIY. Dok: PRB, Dept Teknik Geologi FT UGM

BMKG telah membuat prakiraan, intensitas hujan lebat diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa waktu mendatang. Hujan lebat disertai fenomena siklon atau angin kencang sudah terjadi dan sempat mengakibatkan kerusakan beberapa rumah warga di wilayah Semanu.

Diluar angin kencang, ada yang perlu diwaspadai saat terjadinya hujan lebat, yaitu bahaya tanah longsor bisa saja terjadi. Berdasarkan peta kerawanan bencana tanah longsor hasil pemetaan Pusat Pengurangan Risiko Bencana Departemen Teknik Geologi UGM, beberapa wilayah di Gunungkidul ditengarai merupakan daerah rawan bahaya longsor dengan risiko tinggi sampai sedang.

Beberapa daerah dengan risiko tinggi pada umumnya berkontur (bentuk muka bumi) dengan perbedaan yang tajam dari area lembah ke perbukitan atau sebaliknya. Wilayah tersebut antara lain: seputar perbukitan dan lembah di Patuk, Gedangsari, Nglipar, Semin, Purwosari, Panggang, dan sebagian kecil wilayah Paliyan dan Playen. Dalam Gambar peta risiko rawan longsor diindikasikan dengan area berwarna merah

Daerah dalam zone Ledok Wonosari (Wonosari, Karangmojo, sebagian Semanu, sebagian Ponjong, sebagian Playen) yang berkontur datar terindikasi berisiko rendah untuk kerawanan terhadap kelongsoran. Dalam peta ditandai dengan warna hijau.

Sementara itu, diluar wilayah tersebut di atas terindikasi sebagai kawasan berisiko sedang terhadap kerawanan longsoran. Dalam peta ditandai denagn warna antara hijau kemerahan.

Mendasarkan pada peta risiko longsor tersebut, ada baiknya dalam musim penghujan ini semua meningkatkan kesiagaan terhadap risiko bencana tanah longsor di wilayah masing-masing. Meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko bencana bukanlah upaya untuk menakut-nakuti warga.

Meningkatkan kesiapsiagaan terhadap risiko bencana akan lebih baik, karena akan mampu mengurangi terjadinya risiko yang fatal dan risiko kematian akibat bencana yang mungkin terjadi.

Berikut dipaparkan siklus yang mesti dilakukan dalam penanggulangan risiko bencana, yaitu: 1) Pencegahan dan Mitigasi (berisi rencana penanggulangan bencana yang terdiri dari pencegahan dan mitigasi), 2) Kesiapsiagaan (di dalamnya termasuk proses peringatan dini dan rencana kontinjensi),  3) Tanggap Darurat (ketika terjadi bencana maka dilakukan operasi tanggap darurat termasuk pemulihan darurat), 4) Pemulihan (upaya pemulihan yang perlu dilaksanakan paska bencana).

Siklus Penanggulangan Bencana. Dok: PRB Dept Teknik Geologi FT UGM.

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya