Ayo Swadaya Budidaya Ikan untuk Atasi Kesulitan Peroleh Ikan Segar

oleh
Kampanye budidaya ikan segar di Saptosari. Foto: DKPGK/Swara.

Masyarakat sering melontarkan berbagai alasan terkait masih rendahnya konsumsi makan ikan. Aneka alasan yang sering ditemui mulai dari harga ikan, tidak suka dengan rasa atau bau ikan yang amis, mudah rusak atau tidak awet, dan yang paling banyak adalah ikan sulit didapatkan atau jarang pedagang yang menjual ikan.

Memang komoditas ikan baik ikan air tawar maupun ikan laut masih jarang dijumpai pada pasar-pasar di Gunungkidul dibandingkan dengan komoditas lauk pauk lain seperti daging ayam atau daging sapi. Namun, sebenarnya ikan memiliki kandungan gizi yang tidak kalah dengan komoditas lauk pauk lainnya tersebut. Bahkan ikan bisa dikatakan bebas dari kandungan obat-obatan kimia yang biasa digunakan dalam pemeliharaan ayam atau sapi.

Dalam kegiatan Kampanye Makan Ikan di TK Masyithoh Kepek I, Saptosari Selasa (2/4) lalu, Suparna SP, penyuluh perikanan Kecamatan Saptosari menyampaikan solusi pada orang tua murid untuk bisa melakukan budidaya ikan secara swadaya.

“Jika kita kesulitan mendapatkan ikan di pasar, mengapa kita tidak budidayakan sendiri? Budidaya ikan sangatlah mudah dilakukan, tidak memerlukan biaya yang besar dan lahan yang luas,” ulas Suparna.

Suparna mencontohkan, budidaya ikan lele dengan menggunakan kolam buis beton. “Cukup bangun kolam di pekarangan rumah dengan biaya hanya 200 ribuan, kita sudah bisa mendapatkan ikan sekaligus pupuk alami bagi tanaman di pekarangan kita,” terangnya.

“Dengan padat tebar rendah, kita bahkan tidak perlu membeli pakan ikan. Cukup mencari hewan-hewan yang banyak ditemukan di pekarangan atau sawah, seperti: bekicot, keong-keong kecil dan sebagainya sudah bisa mencukupi kebutuhan makan lele. Limbah air kolam pun bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman yang dapat ditanam di pekarangan seperti sayuran dan lain sebagainya,” imbuh Suparna.

Dengan begitu, tidak ada alasan lagi untuk tidak mengkonsumsi ikan. Manfaat lain berbudidaya ikan adalah diperolehnya pupuk alami tanaman di sekitar kolam. (DKP-GK/Bara).

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.