“Bali neng Gunungkidul”

oleh
Angkringan "Bali neng Gunungkidul"

Aku adalah kamu
Kamu adalah dia
Dia adalah kita
[Kang Jantra]

Petuah orang-tua desa dan dituturkan berulang kepada para anak rantau: bawa lah pengetahuanmu dari desa (kabisan) untuk mencari penghidupan di perantauan (upa-boga); gunakan selalu tepa-sarira dan urmat-kinurmatan karena pada dasarnya manusia-manusia itu berbeda-beda tetapi merupakan gambaran masing-masing diri-sendiri; saya kira ini selaras dengan prinsip hidupnya.

Tempat-rantau merupakan tempat yang sangat kompetitif. Perubahan sosial-personal masyarakat kota amat cepat. Tentu, perubahan ini dengan tanpa meninggalkan semangat-khas-desa yang dibawa oleh kultur masing-masing perantau. Tempat rantau kaya percampuran berbagai macam budaya (kosmopolit). Fenomena angkringan, atau Hidangan Istimewa Kampung (HIK), atau warung-wedangan dan warung-kopi (warkop), bak tumbuhnya jamur di musim hujan, merupakan salah satu tempat bercampurnya beraneka budaya itu. Tempat-tempat seperti angkringan menggambarkan bagaimana khasanah ilmu pengetahuan-desa yang berupa aneka makanan dan minuman (tradisional desa) bergandengan-berjajar dengan eksistensi roti, goodday, atau ABC-Susu (tradisional-kota), di suatu tempat dan waktu yang amat senggang nan santai. Meskipun, sekarang ini, batas antara mana ilmu-pengetahuan desa dengan mana ilmu-pengetahuan-kota semakin tipis; mana orang-desa mana orang-kota semakin lentur; mana waktu-senggang mana waktu-kerja semakin kabur; bahkan terkadang bercampur-berbaur tanpa batas.

Iya, bisa saya simpulkan sementara bahwa kehidupannya tanpa batas kekakuan-kekakuan, bahkan keaku-akuan. Ia lelaki 40-an tahun. Ia berkumis lebat, berjenggot, berambut gondrong, berakik, ber-udud mbako linthingan. Ia  bernama Jantra; begini ia menyebut dirinya sendiri. Sebutan ini kemudian ia kabarkan kepada beberapa ‘saudara’ yang pernah hadir di angkringannya termasuk kepada saya dan teman-saya. Nama asalnya dari desa sebenarnya Bena Farispa, suka saja ia dengan sebutan jantra ini. Asal-usulnya dari Ngurak-urak Petir Rongkop. Ia (malam itu) memakai udheng-rerenggan (bukan blangkonan atau cetakan) dan kaos dan kathok hitam. Udheng ia-lilit-lilitkan di kepalanya, serupa mahkota. Barangkali melalui tata-caranya berpakaian seperti itu bukan gambaran sifat keaku-akuannya. Bukan. Namun ia sekedar hendak mengabarkan identitasnya dan mengingatkan asal-usulnya: ia, sekaligus saya dan teman-saya, adalah orang desa. Ia adalah orang Gunungkidul sisi selatan (Gunung Sewu), saya sisi utara (Batur Agung). Ia, dan saya, orang Jawa. Ia berbudaya udheng Jawa (baca: paham pengetahuan Jawa).

Kang Jantra sedang melayani pembeli. Swara/WG.
Kang Jantra sedang melayani pembeli. Swara/WG.

Dulu, Kang Jantra adalah pemuda dari Petir yang merantau ke Bali. Kemudian ia beristri wanita Bali. Karena suatu sebab sang istri diajak bali (pulang) ke Petir Rongkop. Setahun di Petir hanya lonthang-lanthung tak memiliki pekerjaan tetap menjadikannya memutuskan merantau ke Tangerang. Istri dan seorang anak ia tinggalkan di Petir. Di Tangerang kurang lebih 7 tahunan semenjak 2003 ia membuka angkringan di lingkungan pabrik. Hasilnya bisa dikatakan cukup, “Karena tempatnya strategis, Mas, lingkungan pabrik, ramai” begini ia menceritakan.  Tahun 2010, karena suatu sebab pula, bali (pulang) lah ia ke Petir. Untuk menyambung kehidupan keluarga di Petir ia kerja-buruh apa adanya, beraneka pekerjaan ditandangi, dari buruh-tani hingga udhak-udhak bangunan.