Bambang Ekalaya: Belajar Memanah ditemani Patung Sang Guru

oleh
Persembahan Ekalawya kepada Guru Drona. Dok: Mahabharata. (Geeta Press, Gorakhpur ).

Dalam pewayangan Jawa dikenal seorang tokoh bernama Bambang Ekalaya. Seorang pemanah yang keahliannya melebihi Arjuna. Berbeda dengan dengan Arjuna yang digambarkan tampan, “playboy” karena sering membikin puyeng asmara para puteri jelita, sang Bambang Ekalaya ini adalah tokoh yang serius, “straight to the point“, tidak neko-neko, seorang pembelajar gigih, sangat patuh dan setia pada sang Guru sampai jempol tangan pun diirisnya ketika diminta sang guru.

Dalam bahasa India, Bambang Ekalaya dikenal sebagai Ekalawya (Dewanagari: एकलव्य; IAST: ékalavya). Ekalawya adalah seorang pangeran dari kaum Nishada dalam wiracarita Mahabharata. Kaum ini adalah persekutuan dari suku-suku pemburu dan manusia hutan (adivasi). Ia merupakan anak angkat dari Hiranyadanus, pemimpin kaum Nishada, dan merupakan sekutu Jarasanda. Ia memiliki kemampuan yang setara dengan Arjuna dalam ilmu memanah. Bertekad ingin menjadi pemanah terbaik di dunia, ia melamar sebagai murid Drona, tetapi ditolak.

Dalam bahasa Sanskerta, kata Ekalavya secara harfiah berarti “ia yang memusatkan pikirannya kepada suatu ilmu/mata pelajaran”. Sesuai dengan arti namanya, Ekalawya adalah seorang kesatria yang memusatkan perhatiannya kepada ilmu memanah. Dalam pedalangan Jawa, Ekalawya disebut Bambang Ekalaya atau Bambang Ekawaluya, atau dengan sebutan Bambang Palgunadi.

Pupus Harapan Menjadi Murid Begawan Drona

Dengan keinginan yang kuat untuk menimba ilmu panah, ia datang ke Hastinapura untuk berguru langsung pada Drona, guru para Pandawa dan Korawa, bangsawan Kuru. Namun, permohonannya ditolak, karena Drona khawatir bahwa kemampuannya bisa menandingi Arjuna, salah satu Pandawa.

Di samping itu, Drona berjanji untuk menjadikan Arjuna sebagai satu-satunya kesatria pemanah paling unggul di dunia. Ini menggambarkan sisi negatif dari Drona, serta menunjukkan sikap pilih kasih Drona kepada murid-muridnya, sebab ia sangat menyayangi Arjuna melebihi murid-murid yang lainnya.

Membuat Patung Guru Drona dan Belajar Otodidak 

Penolakan Drona tidak menghalangi niatnya untuk memperdalam ilmu keprajuritan. Ia kemudian kembali masuk kehutan dan mulai belajar sendiri. Sebagai motivasi dan inspirasi, ia membuat patung berbentuk Drona dari tanah dan lumpur bekas pijakan Drona, serta memuja patung tersebut seakan-akan itu Drona yang asli. Berkat kegigihannya dalam berlatih, Ekalawya menjadi seorang prajurit dengan kecakapan dalam ilmu memanah, yang sejajar bahkan lebih pandai daripada Arjuna.

Suatu hari, saat ia sedang berlatih di tengah hutan, ia mendengar suara anjing menggonggong ke arahnya. Tanpa melihat sumber suara, Ekalawya melepaskan beberapa anak panah, dan tepat menyumpal mulut anjing tersebut. Anjing tersebut tidak terluka, tetapi sumpalan anak panak membuatnya tak bisa menggongong. Ia pun meninggalkan Ekalawya.

Saat anjing yang tersumpal itu ditemukan oleh para Pandawa dan Drona, mereka kebingungan karena sejauh pengetahuan mereka, tidak ada orang yang mampu melakukan keterampilan memanah seperti itu, selain Arjuna. Kemudian mereka melihat Ekalawya, yang memperkenalkan dirinya sebagai murid dari Guru Drona.

Tentang Penulis: A Widyaningtyas

A Widyaningtyas
Tinggal di Yogyakarta. Senang memasak, travelling, dan menulis.