Bayam yang Hampir Dicampakkan

oleh
ilustrasi stigma. sumber; istimewa.

Di halaman samping rumah kami tumbuh dengan suburnya tanaman bayam. Mereka tidak kami tanam, tumbuh sendiri secara liar. Cukup dibiarkan saja tahu-tahu batangnya sudah tinggi dengan daun yang lebar. Bila yang tua-tua dicabut beberapa hari kemudian tumbuh tunas-tunas kecilnya menggantikan yang tua. Bayam yang tumbuh di kebun kami bukan bayam yang sering dijual di pasar sayuran. Jenis bayam ini tidak “cantik” di pajang karena daunnya lebar, berbingkul-bingkul. Untuk sayur juga tidak begitu enak karena daunnya keras.

Pagi ini 2 batang bayam kucabut mau kubuang karena nampak sudah tua dan tinggi mengganggu tanaman lain.  Hampir saja kubuang ke tempat sampah, namun melihat daunnya yang hijau dan lebar niat itu kuurungkan. Beberapa daunnya kupetik, lalu batangnya kutanam lagi.Daunnya kuiris-iris, dicampur dengan tepung lalu digoreng. Sebentar saja di meja makan tersedia penganan yang layak untuk menemani sarapan kami.

Kitapun kerapkali dengan cepat menghakimi orang lain dengan stigma dan label-label. Secara tidak sadar kita turut “membunuh”nya dengan label dan stigma tersebut. Yang nampak hanyak keburukannya saja tidak ada yang berharga sama sekali dari orang itu.

Bolehlah kita coba untuk melihat seseorang dengan mata dan hati yang baru agar kita sendiri terbuka bagi hal-hal yang baik dari semua orang. Apa manfaatnya? Kita akan lebih mudah bersyukur dan merasakan hidup. Bersyukur karena dengan hal-hal sepele dan sederhana yang kita terima dari orang-orang yang kita jumpai kita terima kebaikan mereka. Akan berkurang rasa marah, kecewa dan gerundelan lain digantikan dengan rasa syukur atas kebaikan orang-orang yang kita jumpai.

Tentang Penulis: Heru Tricahyanto

Heru Tricahyanto
Saya seorang manusia biasa saja, lahir besar, dan tinggal di Wonasari. Bisa jadi karena cinta Gunungkidul atau memang kepepet ndak berani merantau yaaa. Sehari-hari menjadi tukang servis komputer, bakul wedang di Kopi Angkringan Wonosari kalau malam, kadang juga kelayapan ke Jogja sekedar melepas kangen (pada siapa?). Saya ndak bisa menjadi orang yang spesial pada satu hal, alias orang generalis, sehingga ndak lulus program Doktoral, karena memang gak kuliah doktoral (hehehe).