Inspirasi dari Semut

oleh
Semut. Swara/Heru.

Semut merupakan hewan yang sangat umum kita temui. Baik di rumah, di kebuh, sawah, pekarangan, sungai, di hamper semua tempat. Umumnya mereka kita lihat sedang berbaris panjang sekali atau sedang mengerubungi makanannya yang berupa hewan mati atau makanan yang terjatuh di tanah atau lantai.

Lihat saja bila kita menjatuhkan sejumput kecil makanan di lantai, sebentar kemudian ternyata sudah dikerubungi semut. Lalu mereka membentuk barisan membawa makanan tersebut dalam potongan kecil-kecil menuju ke sarang. Setiap bertemu satu sama lain mereka “salaman” lalu berjalan lagi melanjutkan perjalanan. Apakah yang terjadi bila segumpal makanan tersebut hanya dihabiskan sendiri oleh seekor semut, jelas dia tidak akan kuat membawanya ke sarang.

Dalam ilmu entomologi, cabang dari ilmu biologi yang mempelajari tentang serangga, semut digolongkan dalam kelompok binatang yang memiliki pranata sosial. Binatang ini tidak hidup menyendiri tetapi secara bergerombol dalam satu sarang. Untuk memenuhi kebutuhan makannya mereka saling bekerjasama sehingga itu sering kita lihat semut-semut berkerumun di sekeliling makanan.

Semut tidak bisa berpikir, perilakunya digerakkan oleh insting yang diturungkan secara genetis. Namun bolehlah kita belajar soal “kecerdasan” semut ini. Kecerdasan berkerumun kawanan semut memungkinkan tercapainya tujuan besar. Tujuan ini tentu tidak bisa dicapai bila dilakukan sendirian

Kalau diamati  lebih teliti lagi saat berkerumun tadi ternyata kawanan semut tidak ada yang memimpin, semua berjalan hampir secara otomatis.  Tak satu pun dari “pelaku” itu perlu mengarahkan usaha kelompok untuk mencapai tujuan besar, tidak pula dibutuhkan pimpinan yang terpusat. Namun toh ternyata tujuan untuk memperoleh makanan yang mereka butuhkan bisa tercapai.

Sedikit banyak pengalaman mengamati semut ini bisa menjadi inspirasi kita untuk lebih banyak “berkerumun” menyelesaikan tugas-tugas sosial dalam keluarga dan masyarakat. Kita tidak bisa hanya fokus pada memenuhi kebutuhan sendiri atau keluarga saja. Kebutuhan masyarakat juga hendaknya kita jadikan agenda dalam hidup dan karya kita sehingga kita bisa lebih terlihat. “Sudah bukan waktunya lagi hidup dalam kenyamanan,” kata seorang pemuka sebuah agama. Lebih-lebih kaum muda, tidak elok hidup nyaman di dalam kamar sementara di luar rumah masyarakat membutuhkan kehadiran kita.

***

Tentang Penulis: Heru Tricahyanto

Heru Tricahyanto
Saya seorang manusia biasa saja, lahir besar, dan tinggal di Wonasari. Bisa jadi karena cinta Gunungkidul atau memang kepepet ndak berani merantau yaaa. Sehari-hari menjadi tukang servis komputer, bakul wedang di Kopi Angkringan Wonosari kalau malam, kadang juga kelayapan ke Jogja sekedar melepas kangen (pada siapa?). Saya ndak bisa menjadi orang yang spesial pada satu hal, alias orang generalis, sehingga ndak lulus program Doktoral, karena memang gak kuliah doktoral (hehehe).