Belati Penciut Nyali: Nyawa Hampir Melayang di Perantauan

oleh
Merantau dan bekerja di perusahaan komponen Astra Otomotif, Jakarta Timur. Foto: Toro.

“Dompet atau gue’ cuuuss…!” suaranya lirih namun terasa memekakkan telinga.

Kulirik sekilas tampak kilauan belati itu, dan tiba-tiba pikiranku terhenti. Dengan tangan gemetar kuraih dompet hitam di saku celana belakang. Entah, mungkin isinya 15-an lembar lima ribuan. Belum sampai dompet kuserahkan, pria itu langsung menyambar dengan tangan kirinya, dan buru-buru menguras isinya. Ia lalu melempar dompet tepat di depanku seiring langkah cepatnya meninggalkan gerimis malam. Aku tertegun.

Itu terjadi saat aku masuk kerja shift malam.

Meninggalkan kost di Rawamangun jam 22.30 WIB, kunaiki mikrolet ke arah Terminal Pulogadung. Suasana gerimis mengiringi berhentinya kendaraan warna biru itu. Segera kulangkahkan kakiku keluar ke arah bus jemputan di samping terminal. Tidak tahu datangnya dari mana, tiba-tiba seorang pria kurus mendekatiku, tangan kirinya merangkul pundakku. Astaga, tangan kanannya memegang pisau kecil menempel baju kotak-kotakku. Pas di bagian perut dan membuat nyaliku ciut. Lha, jelas belati bukan peniti!

Untung semua bisa berlalu, benda mematikan itu tidak menghujamku. Setelah kejadian malam itu, baru kurasa, betapa kejamnya ibukota!

***

Berbekal ijazah STM Elektronika, pada 1995, aku berkereta ke kota impian para remaja desa: Jakarta. Para pejuang masa depan terlihat berjubel berdesakan. Di situ, aku tinggal di kost sepupu yang menampungku. Tiap pagi membolak-balik koran mencari kolom lowongan. Tak henti memasukkan lamaran dan mengikuti test yang telah ditentukan.

Akhirnya, aku diterima menjadi karyawan di bagian operator maintenance pada perusahaan otomotif Astra Component Grup: PT. Gemala Kempa Daya Grup, Kelapa Gading. Kutorehkan tanda tangan pada Agustus 1995, dan… sah menjadi seorang buruh pabrik!

Bersama Ari, teman kampungku, kami kost di Pondok Kopi, dengan sewa 75.000 rupiah per bulan, satu kamar diisi dua orang. Lumayan ringan di kantong, sewa bisa dibagi dua, jadi 35-35. Rata-rata kuterima 600an ribu per bulan. Gaji pokok Rp.205.000,- ditambah uang makan dan lemburan. Ahhh, lumayan untuk anak usia 17-an.

Tiap gajian bisa pergi ke mall beli jeans, jaket, kaset, nonton film, maupun makan selayaknya anak kota. Bangga!

Kuurusi mesin-mesin mirip robot dan aneka kebutuhannya. Dengan satu pencetan saja alat ini bergerak otomatis, membolak-balik sendiri secara presisi, finalnya gear box Kijang sudah jadi. Semua dikendali dengan komputer buatan Jepang, begitu pula mesin hidrolik, motor listrik, bor, dan sistem CNC. Tugasku mengecek oli, water coolant, sistem elektrik, dan banyak alat hidrolik yang asyik.

***
Ibukota bagaikan gula. Semut berdatangan dari penjuru daerah dan saat libur kerja akan kembali ke asalnya. Mudik. Iya, tampak gagah ketemu teman kampung, bisa nraktir mie ayam, dan memamerkan Walkman Sony. Hehehe itu pengalaman pribadi.

Di akhir libur dan harus kembali ke ibukota dengan rindu yang masih menggebu, selalu kudendangkan lagu Koes Plus “Kembali ke Jakarta”. “Ke Jakarta aku jadi kuliiìii… iii..ii.i walaupun apa yang ‘kan terjadi… ”

So, demi keselamatan diri, jangan tidak pernah ciut nyali. Apalagi demi anak istri hi hi hi.

Tentang Penulis: Stef Listiantoro

Stef Listiantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.