Benarkah Nyi Roro Kidul Menyeret Para Korban ke Dasar Pantai Selatan?

oleh
Observasi fenomena rip current di Pantai Krakal Gunungkidul. Dok: KH/2016

“Awas, jangan memakai pakaian warna hijau!”. Larangan itu sudah sangat kental terdengar di telinga kita ketika hendak berkunjung ke pantai selatan Gunungkidul atau pantai selatan lainnya di Pulau Jawa. Hilang dan tenggelamnya wisatawan di pantai Gunungkidul seringkali dikaitkan dengan legenda Sang Penguasa Laut Selatan Nyi Roro Kidul yang dikabarkan naik ke permukaan untuk meminta korban orang yang bermain di pantai.

Dalam mitologi disebutkan, Sang Ratu dan bala pasukannya mengumpulkan orang-orang yang lengah ketika bermain di pantai, untuk selanjutnya dijadikan budak kerajaan Laut Selatan. Mitos yang kental di masyarakat Jawa ini nampaknya tidak pernah hilang. Benarkah wisatawan yang hilang dan tenggelam terseret arus laut selatan ini karena dikehendaki sang penguasa laut selatan?

Secara ilmiah, terseret dan tenggelamnya wisatawan di pantai selatan disebabkan oleh fenomena Rip Current. Rip Current atau arus balik pantai merupakan arus yang arah gerakannya tegak lurus terhadap garis pantai. Arus ini berawal dari gelombang yang datang dari arah laut menuju pantai, ketika sampai di garis pantai pantai arus tersebut kemudian akan kembali ke arah laut.

Dinamika terjadinya rip current. Dok: Komitmen/Unpad

Dengan karakteristik garis pantai selatan Jawa yang saling membentuk teluk dan tanjung secara beriringan, hal ini mengakibatkan gelombang yang datang ke pantai menjadi pecah secara tidak beragam. Artinya ketika ada gelombang yang pecah dalam tempo lebih lambat ia akan sedikit tertahan di sekitar pantai dan berakumulasi dengan gelombang datang lainnya. Alhasil, gelombang yang terkonsentrasi pada satu titik ini memiliki energi yang lebih besar dibandingkan arus balik lainnya.

Secara kasat mata kita mudah tertipu, arus gelombang laut terlihat biasa-biasa saja, masih dalam kemampuan terkendalikan oleh ketangkasan olah gerak orang yang bermain air di pantai. Padahal, hasil observasi menunjukkan arus balik gelombang ini kecepatannya mampu mencapai 80 km/jam. Mari kita hitung dan bayangkan, betapa kencangnya gerakan arus balik tersebut. Arus berkecepatan 80 km/jam itu setara dengan gerakan mencapai 1.333,3 meter per menit atau 22,2 meter per detik. Dalam hitungan 5 detik saja, benda ringan yang mengapung terseret arus balik tersebut dapat terhempas sejauh kurang lebih 100 meter.

Rona Sandro pada tahun 2015 pernah menulis Fenomena Rip Current di Selatan Jawa. Arus ini merupakan penyebab utama kematian di laut dengan menyeret wisatawan ke arah laut lepas. Data menunjukkan, di pantai Pangandaran Jawa Barat tercatat ada 665 kasus akibatrip current selama 2007-2014. Di Jepang sebanyak 1120 kasus akibat rip current selama tahun 2013 dan di Amerika sebanyak 519 kasus di tahun 2012.

Selain disebabkan ketidakberagaman garis pantai, pembentukan arus ini kemudian juga diperparah oleh kuatnya angin serta variasi dasar perairan yang ikut memerangkap massa air tersebut di pinggir pantai, gelombang serta pasang surut perairan tersebut.

Cara Mengenali Rip Current

Pada dasarnya, kita dapat mengenali fenomena rip current ini dengan melihat permukaannya yang cenderung lebih tenang daripada gelombang lain yang datang menuju pantai. Kita juga dapat mengetahuinya dengan melihat permukaan pantai tersebut, di mana permukaan pantai yang lebih cekung dibanding yang lainnya akan semakin mengindikasikan fenomena arus ini dapat terjadi.

Contoh fenomena rip current di pantai Selatan Jawa. Dok: Komitmen/Unpad.

Agar semakin meyakinkan kita, maka kita dapat mengujinya dengan cara meletakkan sebuah benda mudah terapung, seperti botol pada gelombang yang bergerak ke arah kita dan melihat sejauh mana botol tersebut terseret arus. Adapun jika botol tersebut terseret sampai ke lepas pantai maka kita dapat menyimpulkan bahwa memang fenomena rip current terjadi di titik tersebut.

Menurut Short (2007), sebagaimana disebutkan Rona Sandro, ada 4 tipe rip current, yaitu:

  1. Accretionary beach rip, yaitu arus yang terjadi di pantai yang mengalami akresi dan berasosiasi dengan beach recovery saat tinggi gelombang kurang dari 1,5 meter dan kecepatan arus berkisar 0,5-1,5 m/s.
  2. Erosional (migratory) beach rip, yaitu arus yang berasosiasi dengan gelombang lebih dari 1,5 meter dan terjadi di pantai yang tererosi dan bergelombang tinggi.
  3. Topographic rip, yaitu arus yang disebabkan oleh keadaan topografi yang masif seperti jetty, karang dan groin.
  4. Megarip, yang merupakan tipe dari topographic rip yang berasosiasi dengan gelombang tinggi (>3 meter) dan terjadi di pantai berteluk dengan panjang 3-4 km. Arus ini bisa memiliki panjang (spasi) lebih dari 1 km dengan kecepatan arus di daerah neck rip mencapai 3 m/s.

Mungkinkah Lari Menghindar dari Rip Current?

Rip current ini merupakan pembunuh misterius yang dapat muncul secara tiba-tiba. Kita belum tentu mampu memprediksi kemunculan arus ini, walaupun kita telah mengetahui bagaimana karakteristik dan juga tipenya.

Dengan kedinamisan laut dan cuaca, bisa saja garis dan permukaan pantai, dasar perairan serta cuaca dapat berubah sewaktu-waktu sehingga kemunculan dari arus ini pun menjadi tidak terduga.

Apabila kita sampai terjebak di dalam kondisi rip current, maka yang dapat kita lakukan adalah hal sebagai berikut:

  1. Don’t fight the current. Jika sudah terseret arus, usahakan untuk tetap tenang dan jangan mencoba melawan arus tersebut.
  2. Swim out the current, then to shore. Jika kita bisa berenang, maka cobalah untuk berenang secara parallel ke sisi kiri atau kanan arus agar tidak terseret lebih jauh lagi. Setelah itu, baru bisa berenang kembali ke arah pantai.
  3. If you can’t escape, float or tread water. Jika tidak punya banyak sisa tenaga atau tidak sempat untuk melepaskan diri dari rip current, ikuti saja arusnya sampai tiba di kepala arus yang sudah melemah. Selama mengikuti arus, berusahalah untuk tetap mengapung dengan posisi telentang.
  4. If you need help, call or wave for assistance. Selanjutnya mencoba berenang secara paralel ke kiri atau ke kanan sembari menumpang gelombang yang menuju ke arah pantai untuk menghemat tenaga dan lambaikan tangan untuk memberi sinyal kepada Petugas Penjaga Pantai atau Tim SAR.

Dengan mengetahui fenomena Rip Current ini, kita mengetahui karakteristik dan perbedaannya dengan mitos yang berkembang selama ini. Fenomena rip current jelas tidaklah menyeret korban ke dasar lautan sebagaimana yang sering diungkapkan dalam mitos, tetapi rip current mendorong korban hingga sampai ke lepas pantai (menjauh dari garis pantai).

Upaya menyelamatkan diri dari rip current. Dok: Komitmen/Unpad.

Untuk itu, menjadi sangat penting ketika bermain di area pantai selatan adalah memperhatikan faktor keselamatan agar menjaga diri dari fenomena rip current yang berisiko menyeret korban menjauh dari garis pantai.

Dengan kata lain, dekonstruksi dan konstruksi mitos Ratu Laut Selatan yang menyeret korban ke dasar lautan sesungguhnya menjadi semacam tanda peringatan (warning), bahwa siapapun yang bermain air di wilayah pantai selatan harus: 1) mengetahui kemampuan diri untuk menjaga keselamatan diri, 2) mengenali karakteristik lingkungan pantai dan sifat pergerakan air laut yang dinamis, dan 3) waspada mengantisipasi risiko keselamatan yang bisa terjadi.

__

Ditulis ulang dari Makalah Fenomena Rip Current, Penyeret Laut Selatan (Kelompok Studi Instrumentasi dan Survei Kelautan, Universitas Padjadjaran, Bandung, 2015).

 

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya