Berdamai dengan Masa Lalu

oleh
foto oleh : Heru T.

Rita (30th) setiap awal tahun mesti mengenang pengalaman hidupnya. Ia lalu bercerita mengenai kisahnya beberapa tahun lalu saat menikah dengan pria pilihannya.  Keduanya mengambil cuti dari kantor masing-masing selama sebulan. Maklum mereka bekerja di dua tempat yang terpisah jauh, satu di Papua sedangkan suaminya di Sulawesi. Setelah menikah mereka masih punya waktu beberapa minggu untuk berbulan madu. Dan waktu pun  berjalan dengan cepat , masa cuti hampir habis.

“Suamiku mau pulang dahulu ke rumah orangtuanya. Setelah itu mau mengantarku ke Papua untuk kembali bekerja. Dia naik travel”.

Waktu itu awal Februari 2014 sungguh  kuingat tanggalnya. Berita mengejutkan dari keluarga suamiku. Katanya mobil travel yang ditumpanginya kecelakaan di Solo, dan aku harus segera ke sana hari itu juga. Lemas rasanya tubuh ini. Firasat tidak baik berkelebatan di benak. Tadi malam dia tidak bilang dan pesan apa-apa. Semoga tidak apa-apa, tapi tidak mungkin kalau tidak terjadi apapun yang fatal. Ah ……………. Aku tidak kuat membayangkan apa yang akan kuhadapi.

“Dan itulah yang kuhadapi, mobil travel kecelakaan ada 1 meninggal dan ia adalah suamiku tercinta. Aku menguatkan diri  menyalami semua tamu, teman-temanya kuliah dan saudaranya. Aku harus bisa mengantarnya sampai ke peristirahatan bagi tubuhnya.

“Peristiwa itu kini sudah hampir 3 tahun berlalu. Dan aku sudah mulai bisa mengambil pengalaman dari perjalanan hidup ini. Aku melanjutkan studi S2 di Jawa dan persiapan S3 ke Australia seperti yang kucita-citakan. Namun kadang-kadang ada rasa rindu yang hebat dan kemarin aku menulis di dinding Facebookmu” :

I met you 2 days ago in my dream. It was so amazing! I was hoping not to wake up because I wanted to be at your side forever! 
I love you… *sending you a hug

Charlie Chaplin pelawak yang sangat terkenal di dunia mahir membuat pendengarnya terbahak-bahak. Namun kehidupan pribadinya ternyata tidak seperti kehidupan panggungnya yang penuh tawa. Suatu kali ia  melawak di depan penontonnya dengan sebuah lelucon dan penonton tertawa.

Ia mengulangi lagi dengan lawakan yang sama, dan hanya sedikit penonton yang tertawa. Dan ia mengulangi lagi lawakan itu, dengan gaya dan kalimat yang sama. Bisa ditebak hasilnya, tidak ada penonton yang tertawa. Lalu di depan para penonton yang kelihatannya mulai bosan karena ia tidak mengularkan lawakan yang segar, Charlie mengatakan: “Kalau Anda  tidak dapat tertawa lagi atas lelucon yang sama, lalu mengapa Anda menangis dan menangis lagi pada kecemasan yang sama?”

Tentang Penulis: Heru Tricahyanto

Heru Tricahyanto
Saya seorang manusia biasa saja, lahir besar, dan tinggal di Wonasari. Bisa jadi karena cinta Gunungkidul atau memang kepepet ndak berani merantau yaaa. Sehari-hari menjadi tukang servis komputer, bakul wedang di Kopi Angkringan Wonosari kalau malam, kadang juga kelayapan ke Jogja sekedar melepas kangen (pada siapa?). Saya ndak bisa menjadi orang yang spesial pada satu hal, alias orang generalis, sehingga ndak lulus program Doktoral, karena memang gak kuliah doktoral (hehehe).