Bokong Sambernyawa

oleh
Watukong di Gunung Gambar Ngawen, diyakini sebagai tempat bertapanya RM Said. Foto: WG/Swara.

Keindahan dan keburukan ‘kempel’ menjadi satu. Kehadiran yang indah (bersemayam eros, hasrat yang ingin direguk) bersamaan dengan yang buruk (hasrat yang ingin ditinggalkan). Yang-indah dan yang-buruk ‘nglungguhke-bokong’ (bertempat) di suatu ikatan ruang-waktu. Yang-indah pun, dalam kondisi tertentu, kadang beralih-rupa menjadi yang-buruk. Bokong, berada di antara keduanya.

Bokong Indah vs Bokong Buruk

Orang-orang merasa ‘bokong’nya indah; mereka kemudian meletakkannya (‘bokong-indah’ itu) di ruang-pajang enak dipandang, agar orang-orang dapat melihati dan menikmati. Orang-orang merasa ‘bokong’nya buruk; mereka lantas meletakkannya di ruang tersembunyi, tertutupi. ‘Bokong-indah’ menyembul; ditonjol-tonjolkan. ‘Bokong-buruk’ tenggelam; ditutupi ‘cover’ tebal, jika perlu direka sedemikian rupa agar (kosok-bali) tampak menonjol.

Keadaan ‘bokong’ yang seperti ini, kadang menjadikan orang si empunya ‘bokong’ tak (mau) tahu letaknya kemaluan: di antara mereka justru ada yang ‘keplok-bokong’: menertawakan orang lain yang sedang menderita. Bahkan, tindakannya itu menggunakan teknik: ‘mledhingake bokonge’ (memperlihatkan bokongnya). Sementara yang ditertawakan juga merasa demikian, karena ‘dipledhingi’ oleh ‘bokong’ satunya (tak dianggap, diremehkan, dipermalukan).

Bokong Pusatnya Kehidupan

Di lain tempat, di dalam suasana yang serupa, orang-orang saling ‘adol-bokong’: jual-beli ‘papan-palungguhan’ (kursi-posisi-jabatan). Di tempat satunya lagi: ada orang-orang ‘megog-megog kegedhen bokong’ (melimpah harta kekayaannya); ‘kandel-bokonge’. E sebaliknya, di tempat itu pula, ada yang ‘tepos bokonge’: tak punya jabatan tak punya kekayaan, hingga ‘ngesod-ngesod’ dengan ‘bokong’ jalan kehidupannya.

Bokong, yang ‘kandel’ atau pun ‘tepos’, pusat kehidupan.

Barangkali begitu: ‘bokong’ itu pusat (‘pancer’). ‘Bokong’ itu titik ukur tubuh manusia. Tubuh diukur panjang-pendeknya atau tinggi-rendahnya berpatokan pada titik dimana ‘bokong’ berada. ‘Bokong’ digunakan sebagai piranti untuk mengukur tinggi-rendah derajat tubuh manusia. Tubuh manusia disebut pendek, atau tubuh manusia memendek, jika kondisinya “kak-kong”: ‘tungkak cedhak bokong’, tumit dekat dengan bokong. Sama halnya tubuh manusia disebut pendek pula jika “kong-ngel”: ‘bokong cedhak cengel’, tengkuk dekat dengan ‘bokong’.