Cegah Banjir Mustahil Berhasil Tanpa Pahami Aspek Hidrologi

oleh
Tempuran Kali Besole di Kota Wonosari. Dok: KH

Setidaknya bencana luapan sungai atau banjir yang tergolong cukup besar di Wonosari sejak lima tahun terakhir terjadi sebanyak dua kali. Saat ini, ketika curah hujan tinggi dengan durasi lama yang mengakibatkan debit air sungai naik sehingga banjir masih berpotensi terjadi.

Warga yang tinggal di permukiman dekat dengan Daerah Aliran Sungai (DAS), tepatnya sebelah selatan “Tempuran” pertemuan arus Sungai Besole dan Sungai Kepek, Karsito mengungkapkan, dari tahun 2012 sudah dua kali banjir menggenang kediamannya. Bahkan pernah terjadi hingga mencapai ketinggian dada orang dewasa.

“Faktor utama memang debit air naik luar biasa akibat curah hujan tinggi, sedangkan daya tampung sungai tetap, bahkan ada kecenderungan berkurang,” ujarnya, Selasa, (6/12/2016).

Lanjutnya, apalagi di daerah tempuran, arus air tidak bisa lancar mengalir, tetapi terjadi pusaran air sehingga laju air memiliki jeda yang berpotensi mengalir ke samping dan meluap apabila volume air melebihi daya tampung bantaran sungai.

Sementara itu, Kades Kepek Bambang Setiawan BS menyampaikan, khususnya di Desa Kepek sendiri terdapat beberapa titik yang seolah menjadi langganan terkena dampak luapan sungai, yakni di Trimulyo 1 tepatnya di RT 05, dan Trimulyo 2 tepatnya di RT 02 dan 03.

“Hampir tiap debit air naik tinggi pasti menyasar ke wilayah itu. Salah satu penyebab utamanya yakni talud sungai yang jebol. Saat ini perlu segera direhab karena longsor, karenanya mengakibatkan aliran air tidak lancar sehingga air masuk ke perkampungan,” terangnya.

Ia menyebutkan, upaya warga secara swadaya membuat pembatas talud dengan menumpuk pasir yang dimasukkan ke dalam karung, dirinya menilai hal semacam itu tidak akan bertahan lama, sehingga ia berharap kepada Pemkab melalui instansi terkait untuk segera memperbaikinya.

Selain rusaknya talud, ia juga menyebut bahwa perkembangan permukiman penduduk yang semakin padat menjadi pemicu tingginya volume air di sungai. Hal itu disebabkan karena daerah resapan air praktis berkurang seiring tertutupnya permukaan tanah oleh bangunan.

“Hal itu lumrah, karena Kepek merupakan kawasan kota di Wonosari sehingga semakin padat,” ulasnya. Beberapa upaya warga dan Pemdes setempat yang dilakukan sebagai langkah preventif yakni membuat sumur-sumur resapan pada tanah kas desa sebagai penahan air. Selain itu, dirinya juga selalu mensosialisasikan kepada warga melalui kelompok pemerhati sungai untuk tidak membuang sampah sembarangan. Dirinya mengklaim, bahwa warga Kepek tidak lagi memiliki perilaku membuang sampah ke sungai.

“Sampah sudah kita kelola secara mandiri. Kita juga antisipasi pencemaran sungai dengan pembangunan Sanimas dan pembuatan IPAL,” imbuhnya.

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya