Duwet: Buah Ungu yang Manis Sepet ini Semakin Langka

oleh
Tanaman dan buah duwet atau juwet atau jamblang. Foto: Penebar Swadaya.

Siapa yang pernah memakan buah Duwet? Buah berwarna ungu dan berasa manis-sepet ini dahulu cukup banyak ditemukan di berbagai wilayah dan pasar tradisional di Gunungkidul. Kini, buah duwet nampaknya agak sulit dijumpai. Ini menandakan semakin langkanya tanaman duwet. Sisa-sisa ketenaran tanaman ini masih dapat dilacak dengan pemakaian nama tanaman ini sebagai nama desa, seperti Desa Duwet di Wonosari, dan Desa Karangduwet di Kecamatan Paliyan.

Tanaman duwet (syzygium cumini) atau juga yang sering disebut sebagai tanaman juwet termasuk keluarga jambu-jambu an. Terdapat beberapa nama untuk tanaman duwet. Di daerah Jawa Barat, duwet dikenal dengan nama jamblang. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal dengan nama duwet atau juwet. Di Madura dikenal dengan nama dhalas atau dhuwak. Dan di Bali dikenal dengan nama jujutan.

Duwet merupakan tanaman yang memiliki rentang toleransi tinggi dalam hal syarat tumbuh. Duwet dapat tumbuh di hampir semua jenis tanah. Di beberapa negara asing buah ini dikenal sebagai jamlang, jambelang, duwet (Malaysia), duhat (Filipina), jambul, jamun, atau Java plum (Inggris). Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) dikenal sebagai Syzygium cumini.

Pohon Duwet (Jamblang) diperkirakan berasal dari Kawasan Asia dan Australia tropic. Tanaman duwet dapat tumbuh baik pada ketinggian hingga 500 mdpl.

Duwet merupakan tanaman berbentuk pohon dengan ketinggian dapat mencapai 20 meter dan batang dengan diameter 40-70 cm. Kulit batang duwet mudah pecah dan memiliki kandungan tannin hingga 8-19 %. Bagian atas permukaan daun berwarna hijau tua dan pada permukaan bawah berwarna hijau pucat. Daun tanaman duwet mengandung tannin 12-13 %.

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya