Embung Batara Sriten: Surga Tersembunyi

oleh
Embung Sriten Pilangrejo. Foto: Ummi Azzura

Gunungkidul sebagai bagian wilayah geopark menyimpan berjuta kekayaan alam yang menakjubkan. Dari goa-goa yang eksotis dan air dari dalam tanah yang mengalir begitu bening dan sejuk. Alam yang menghijau dan pantai yang mengahampar dengan pasir putihnya. Karang yang kokok dihantam ombak yang tak berkesudahan. Karena pantai selatan memang terkenal dengan ombaknya yang besar.

Sesuai namanya, Kabupaten Gunungkidul didominasi oleh pegunungan yang merupakan bagian barat dari Pegunungan Sewu atau Pegunungan Kapur Selatan (dari nama alias inilah “Gunungkidul” diturunkan), yang membentang di selatan Pulau Jawa mulai dari kawasan tersebut ke arah timur hingga Kabupaten Tulungagung. Pegunungan Kidul terbentuk dari batu gamping, menandakan bahwa pada masa lalu merupakan dasar laut. Temuan-temuan fosil hewan laut purba mendukung anggapan ini. Kawasan ini mulai menjadi daratan akibat pengangkatan-pengangkatan tektonik dan vulkanik sejak Kala Miosen.

Di bagian utara, yang berbatasan dengan Kabupaten Klaten, terdapat kawasan perbukitan campuran gamping dan batuan beku sisa aktivitas vulkanik purba yang kemudian terhenti yang dinamakan Perbukitan Baturagung. Di selatan Baturagung terletak Cekungan Wonosari, berupa dataran ketinggian menengah yang terbentuk karena aliran Sungai Oya. Sungai ini bermuara ke Sungai Opak.

Cekungan Wonosari banyak menyimpan peninggalan dari masa prasejarah, sejak Zaman Batu Tua sampai Zaman Batu Baru, yang unik yang tidak dijumpai di kabupaten lain di Yogyakarta. Di bagian timur laut, berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri terdapat pegunungan kecil yang dikenal sebagai Pegunungan Panggung.

Gunungkidul dulu dengan sekarang sudah beda dalam pandangan masyarakat. Jika dulu Gunungkidul terkenal dengan daerah pegunungan yang gersang dan susah air sekarang menjadi daerah yang hijau dengan air yang melimpah. Meskipun tak bisa dipungkiri ada beberapa tempat yang mengalami kekurangan air saat musim kemarau. Namun usaha pemerintah daerah dalam bidang air bersih akhrinya kekurangan dapat teratasi dengan baik.

Salah satu usaha yang sedang digalakkan adalah dengan membuat embung, berupa telaga buatan yang digunakan untuk mengairi kebun dan lahan pertanian penduduk. Banyak sekali embung yang dibangun. Tersebar di beberapa wilayah di Gunungkidul. Sehingga wilayah Gunungkidul semakin hijau dan asri.

Sudut Embung Sriten Pilangrejo. Foto: Ummi Azzura

Salah satu embung di Gunungkidul yang sekarang digalakkan menjadi tempat wisata adalah Embung Batara Sriten. Terletak di Padukuhan Sriten Desa Pilangrejo Kecamatan Nglipar. Untuk mencapai tempat ini bisa melewati kota Wonosari ke arah utara. Lurus terus ke arah Kecamatan Nglipar. Selanjutnya aka nada petunjuk arah yang mengarahkan pengunjung ke Embung Batara Sriten.

Namun jika dari Yogyakarta melalui Jl. Wonosari kea rah Piyungan, Bukit Patuk atau Bukit Bintang. Setelah sampai jalan Wonosari atas ketemu pertigaan Sambipitu ke kiri menuju arah Nglipar, ketemu Perkebunan Hutan Kayu Putih, Pertigaan sebelum Pasar Nglipar ke kiri. Kemudian Jalan Nglipar-Ngawen, Kedungpoh, Pertigaan timur Kantor Kepala Desa Pilangrejo tepatnya Jl. Nglipar-Ngawen Km. 6,5 ke kiri. Perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalan aspal dan cor blok sambil melihat penunjuk arah ke Embung Batara Sriten dan Perbukitan Baturagung (Puncak Tertinggi Gunungkidul).

Embung Batara Sriten berada di ketinggian diproyeksikan sebagai agrowisata kebun buah di ataranya manggis dan kelengkeng. Berada di perbukitan Baturagung utara yaitu gunung yang merupakan puncak tertinggi di Gunungkidul atau puncak Tugu Magir dengan ketinggian sekitarĀ  896 mdpl. Terlihat pesona embung di atas awan dan pemandangan yang luar biasa indah dengan view 360Ā° kawasan persawahan, perkampungan, perbukitan, di bawahnya.

Jalan menuju Embung Batara Sriten sedang dibangun, dalam proses pengerjaan. Untuk itu bagi pengunjung harus hati-hati saat menuju daerah ini. Sebaiknya gunakan sepeda motor bebek bukan matic atau motor khusus pria. Karena tracking menuju Embung Batara Sriten terjal, jalan berliku, dan penuh tanjakan.

Namun jika sudah pernah ke sana bisa menggunakan mobil spesifikasi khusus seperti 4WD atau offroad. Pastikan pengendara ahli dalam mengoperasikan mobil yang dibawa ke lokasi Embung Batara Sriten.

Persiapan yang harus dilakukan yaitu kondisi tubuh harus fit. Kendaraan dalam kondisi prima, terutama rem harus berfungsi optimal. Saat naik harus waspada dan hati-hati, saat turunpun harus mengendalikan rem dengan baik supaya tidak terjungkal ke bibir jurang atau pinggir jalan.

Pada saat jalan menanjak/menurun, jika berboncengan, sebaiknya si pembonceng turun dulu dari kendaraan untuk berjalan sementara waktu, baru si pengendara bisa melanjutkan mengendarai kendaraan pelan-pelan. Selanjutnya berboncengan lagi setelah menjumpai jalan datar. Namun bagi pengendara yang sudah terbiasa melewatu jalur tracking seperti ini tidak harus turun.

Jika kondisi hujan, jangan memaksakan diri naik ke puncak karena jalan licin. Di sana batu yang ada adalah batu putih yang menghijau saat didera deras hujan dan licin saat ban motor melewatinya.

Kemudian bagi pengunjung yang membawa anak kecil, awasi secara khusus si kecil saat berada di lokasi embung atau puncak tugu. Beberapa area rawan bagi anak-anak tanpa pengawasan, karena berada di ketinggian.

Namun jangan khawatir, saat sampai di puncak, terutama saat pagi pengunjung akan mendapati sunrise yang luar biasa indahnya. Sekali ke sana pasti ingin ke sana lagi menikmati keindahannya.

Gazebo di Embung Sriten, bisa untuk melepas penat setelah mendaki. Foto: Ummi Azzura.

 

Facebook Comments

Tentang Penulis: Ummi Azzura Wijana

Ummi Azzura Wijana
Ibu muda, pengajar di salah satu SMK di Kota Magelang. Aktif dalam berbagai kegiatan kepenulisan. Juga aktif di FPNB dan Sastra Bukit Berbintang sebagai wujud kecintaan terhadap tanah kelahiran Gunungkidul.