Fasilitas Baru Di Gua Maria Tritis : Toilet Semewah Hotel

oleh
Fasilitas baru di Gua Maria Tritis. foto: Heru Tri C.

Gua Maria Tritis sudah dikenal sebagai tempat ziarah bagi umat Katolik yang banyak didatangi peziarah dari Jogja, Jawa Tengah Jakarta dan sekitarnya. Gua yang dulunya wingit ini pertama kali dipakai oleh Romo Arcadius Dibyawahjana SJ yang bertugas sebagai pastus Paroki di Wonosari pada tahun 1963-1973. Ia bersahabat dengan seorang tokoh agama Budha bernama S.Hadisumarta yang kemudian menjadi Pendeta Budha pada tahun 1972. Mereka berdua sering ke makam Ki Ageng Giring dan kemudian ke sebuah gua di Alas Gegiri daerah Singkil, Paliyan, untuk melakukan meditasi.

Saat Romo Laurentius Sutarno SJ bertugas di Paroki Wonosari, Kawasan peziarahan ini diperluas. Romo membeli beberapa bidang tananh yang nantinya akan menjadi jalur jalan salib, yaitu ritual berdoa umat Katolik untuk mengenang kisah sengsara Tuhan Yesus. Dengan pendekatan terhadap masyarakat areal pintu masuk sampai dengan jalan menuju ke mulut gua dilepaskan oleh masyarakat untuk dibeli pihak Gereja.

Papan informasi toilet untuk pria. foto: Heru Tri C.

Pembangunan terus berlanjut agar tempat ziarah ini nyaman. Jalur jalan salib yang terdiri dari 14 perhentian dengan jalan batu semakin lama dirasa kurang memenuhi kebutuhan umat yang datang. Peziarah yang datang semakin banyak dari kota-kota besar di Indonesia.

Kebutuhan utama para peziarah yang datang ke Gunungkidul sekaligus untuk rekreasi, adalah tempat toilet yang nyaman dan bersih. Karena keterbatasan air bersih, toilet yang  dibangun pada masa tugas Romo Sutarno dirasa tidak memadai lagi. Karena air yang terbatas menyebabkan toilet tidak bisa bersih sehingga berbau pesing. Keprihatinan ini yang ditangkap oleh Romo Ponco Sukamat SJ yang bertugas di Paroki Wonosari mulai tahun 2011.

Toilet pria di komplek Gua Maria Tritis. foto: Heru Tri C.

Berbagai cara diupayakan untuk mencukupi kebutuhan air agar toilet bisa digunakan dengan nyaman. Jalan terbuka saat ada Kelompok Doa Emaus dari Jakarta yang dengan iklas berkomitmen turut mengembangkan fasilitas yang diperlukan. Herman mewakili Kelompok Emaus saat pertama ke GMT merasa heran, ada tempat ziarah bagus, tapi kok banyak umat Jakarta tidak tahu dan sulit untuk mendapatkan toilet.

Akhirnya secara bertahap, melalui master plan yang sudah dibuat, sedikit demi sedikit akses jalan diperlebar dan beberapa fasilitas baru dibangun. Termasuk toilet yang saat ini ada 3 tempat. Toilet dibangun dengan bahan terbaik dan kualitasnya setara yang di hotel. Bangunan toilet ini cukup mewah dan mencolok dibanding kawasan sekitarnya yang berbatu.

Saat saya mencoba urinoir pria di dekat Wisma Emaus, sudah ada petugas kebersihan yang berjaga dengan peralatan lengkap. Urinoirnyan baru dan airnya cukup lancar. Tidak ada bau pesing di dalam toilet. Titik (49th) dari Wonosari menceritakan kesannya, Saya agak bingung pas masuk toilet, karena mewah sekali. Dan airnya kok otomatis mengalir terus. Ternyata otomatis juga berhenti setelah selesai menyiram. (Heru Tri)

Tentang Penulis: Heru Tricahyanto

Heru Tricahyanto
Saya lahir di Gunungkidul menyelesaikan SMP di Wonosari, lalu selepas itu ke Jogja sampai lulus kuliah. Belum pernah kerja kantoran walau punya ijazah, buka usaha komputer di Wonosari. Saat ini sedang menekuni hobi menulis dan usaha di bidang kuliner, yaitu warung Kopi Angkringan Wonosari (http://gopi.link/2f274)