Genthong, Klenthing, dan Kendhi

oleh
Genthong, klenthing, dan kendhi. Foto: Slametharjo/Swara.

Genthong, klenthing, kendi. Mungkin kata-kata itu terasa asing di telinga anak “jaman now” alias anak milenial, karena memang barang itu sudah terbilang langka. Jika adapun malah sudah berubah fungsinya, atau bisa jadi malah sudah sulit dijumpai.

Barang-barang tersebut pada jaman dulu selalu ada di setiap rumah tangga perdesaan, sebelum semuanya tergantikan dengan barang dengan fungsi sama tetapi berbahan baku plastik atau alumunium.

Karena itu, yuk kita kenalan dengan barang tersebut.

Genthong

Genthong adalah tandon air bersih berbentuk bejana terbuat dari tanah liat atau gerabah. Biasanya untuk menyimpan air dan diletakkan dekat dapur. Dalam kamus Jawa bernama Baoesastra Djawa karangan WJS Poerwadarminta terbitan tahun 1939. Pada halaman 144 disebutkan, bahwa genthong adalah alat dapur yang berfungsi sebagai tempat air, bentuknya besar seperti genuk. Tingginya biasanya sekitar 50 – 60 cm, lingkaran tengah berdiameter 1 meter dan bagian atas mengecil dengan lubang diameter 10 -15 cm. Genthong biasanya dilengkapi dengan siwur terbuat dari tempurung kelapa bertangkai bambu atau kayu, berfungsi untuk mengambil air dari dalam genthong.

Klenthing

Klenthing ini mirip dengan genthong tapi ukuranya lebih kecil lagi. Masyarakat Jawa menggunakan klenthing untuk mengambil air dari sumber air, seperti sumur, belik, pancuran, telaga, sendang, dan sebagainya. Klenthing ada yang berukuran kecil dan besar. Dalam Kamus Jawa Baoesastra Djawa karangan WJS Poerwadarminta (1939), klenthing biasanya berukuran kecil, sementara jun berukuran besar. Memang tidak dijelaskan secara rinci, ukuran kecil dan besarnya.

Kendhi

Kendhi adalah tempat air seperti teko yang terbuat dari tanah liat. Kendi dikenal di seluruh dunia dan berkembang di Mesir, China, Jepang, Thailand, dan Indonesia.

Kendhi ini dipakai untuk menyimpan air minum, agar tetap dingin dan dipakai sebagai persediaan minum sehabis dari ladang.

Pada saat ini, semua perkakas dapur ini nampaknya sudah semakin jarang ditemui di perdesaan sekalipun. Pada umumnya, perkakas tersebut sudah tergantikan dengan barang-barang dengan fungsi serupa tetapi bahan dasarnya dari plastik.

Tentang Penulis: Slamet Harjo

Slamet Harjo
Warga Nglipar Gunungkidul. Saat ini menjadi anggota DPRD DIY. Aktivis dalam bidang pertanian dan juga aktif berdiskusi dalam media sosial.