Geopark Bukan Sekadar Taman Batu

Salah satu bongkah bebatuan yang dipajang di “Taman Wisata Geopark” di sebelah barat Lembah Ngingrong Mulo Wonosari. Swara/Wage.

Turi-turi putih ditandur neng Kebon Agung [Nartasabda].

Ada yang pernah membayangkan Gunungkidul memiliki taman bunga raksasa. Gunung-gunung, jalan-jalan, atau pekarangan-pekarangan di Gunungkidul penuh dengan tanaman/bunga khas Gunungkidulan, semacam ‘kebon-agung’ atau ‘garden’. Sementara itu, saya membayangkan ada ruang-ruang terlipat dan tersembunyi di atas morfologi alam Gunungkidul. Ruang yang tak tampak oleh mata telanjang, tiba-tiba menyeruak, muncul ke permukaan pandangan mata bukan sebagai lokasi-absolut kebun Gunungkidul yang kering dan tandus, yang miskin vegetasi, yang minim perencanaan peruangan seperti halnya sebuah suaka benda-benda, benda hidup dan ‘benda-mati’. Apakah semua yang dikategorikan benda itu benar-benar mati, tak bergerak? Yang coba direkreasi, diciptakan ulang.

Mungkin ini laku bawaan manusia yang senang merekreasi sesuatu mencontohi ‘laku’ Tuhan. Hal ini jika menggunakan konsep teologi: Tuhan sebagai Yang Menciptakan Alam Raya. Namun sebagai lokasi-relatif-alternatif akibat angan-angan akut saya tentang akan benar-benar hadirnya taman-bumi di atas bumi Gunungkidul ini sebagai ‘eden’.

Sebagai turunan taman surgawi yang amat indah; penuh tetumbuhan, hewan-hewan, kali, luweng, goa, batu-batu cantik, tanah lempung, udara yang segar, juga manusia-manusia yang harmoni dengan kebon-agungnya, dengan alamnya. Mungkin, hanya mungkin, oleh orang-orang pinter di sekolahan, taman/kebon agung yang indah di angan-angan saya ini disebut geopark.

Yup, geopark yang telah dicanangkan itu.

Desain desa-global ‘memaksa’ desa-desa di seluruh penjuru bumi menciptakan geopark jadi-jadian. Konsep geopark yang ditawarkan nampaknya lebih condong dominan berhubungan dengan pemenuhan hasrat manusia modern terhadap ‘rekreasi’  atau wisata. Apakah yang dimaksud wisata geopark ini? Sebentuk piknik atau apa?

Geopark alamiah direkreasi oleh mesin desa-global menjadi geopark turunan. Rekreasi geopark tentu bertujuan untuk menyediakan papan ‘rekreasi’ bagi manusia yang mulai berjarak dengan geopark sesungguhnya.

Manusia, untuk mengatasi kejenuhan-kejenuhan dunianya yang simulasif, yang selalu ingin mencitrakan gerak simultan kembali ke alam, membutuhkan tindak ‘dolan-dolan’. Dolan-dolan dijual ke seluruh pelosok bumi. Ada yang dolan-dolan sembari jualan (komoditi). Ada yang sembari menenteng dan mencari makanan, sembari bermain-main.

Tampaknya, tindakan dolan-dolan di kebun geopark yang telah direkreasi oleh penguasa otoritas bukan bersifat dolan atau ndolani alam beserta sistem ilmu pengetahuan tentangnya. Bukan pula adat yang telah lekat pada laku masyarakat saban hari.

Diwujudkan lah, oleh pihak-pihak yang berkuasa itu, etalase. Untuk siapa? Ya pikniker, wisatawan. Ya masyarakat yang digolongkan belum ‘melek’.

Pajangan unsur-unsur geosfer di sebuah etalase (seperti di “taman bebatuan” Mulo itu, sebelah barat Ngingrong) memang usaha untuk meniru yang natural, yaitu unsur geosfer khas yang dimiliki oleh suatu wilayah.

Perlu kita sadari bahwa di kanan-kiri wilayah Gunungkidul terdapat bebatuan, tanah-tanah dan lapisannya (pedosfer), fosil, hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan endemik (wreksa gung, suket-suketan), juga air kali air telaga air banyusoca dan lain-lain.

Etalase geopark, oleh karena itu, hendaknya tak miskin unsur-unsur ilmu pengetahuan kebumian yang sangat luas dan universal; mengingat ilmu pengetahuan ‘manjing ajur-ajer’ dengan unsur geosfer. Mengikutsertakan unsur-unsur geosfer yang cenderung lengkap dibanding sekedar jenis bebatuan (rock/stones) seperti kapur/karst, breksi, ‘clay’, dan sebangsanya saja di sebuah geopark akan lebih mendekatkan kesadaran para pikniker/wisatawan kepada unsur-unsur geosfer.

Melalui ‘tindakan-suci’ mengunjungi suatu geopark, kesadaran akan unsur-unsur geosfer yang melimpah diharapkan dapat diwujudkan aksi nyata merekreasi sebuah kebon agung di wilayah dan sesuai ciri-khasnya masing-masing. Lebih lagi: ‘ngurip-uripi’ geosfer yang telah terberi di wilayahnya masing-masing.

Tindakan merekreasi bukan melulu untuk memenuhi hasrat penguasa proyek dan para pikniker saja namun secara perlahan menempatkan geosfer, Sang Bumi, pada derajat yang tinggi selevel ‘kebon’, ‘garden’, ‘park’, yang penuh diversitas vegetasi dan unsur-unsur geosfer lain, sebagai semacam museum alam a la Gunungkidul, atau suaka bagi unsur-unsur alam termasuk satwa (sato-kewan) dan manusia (antroposfer) di dalamnya, hingga wangsa manusia mampu hidup harmonis dengan-Nya. Suasana harmoni merupakan hasil dari tindak rekreasi dan ‘rekreasi’.

Dan pada akhirnya, rekreasi (penciptaan ulang) sebuah benda/ruang, terlebih yang berhubungan dengan konsep ‘rekreasi’/piknik, mau tak mau harus melaraskan dengan nilai gunanya bagi Bumi dan penghuninya (ekososial), interrelasi unsur-unsur pembentuknya, atau mungkin pendekatan-pendekatan ekologisnya. Minimal ya bagi pikniker dan wisatawan.

Agar: justru tak terjadi apa yang terus-menerus dikhawatirkan: kepunahan. Juga ‘kematian’. Bukankah batu-batu yang dilabeli benda-mati malah semakin ‘mati’? Jika tidak laras piye? Karena etalase geosfer akhirnya hanya pajangan yang artifisial? Hanya kekagetan-kekagetan pada eloknya alam yang ‘diketok-ketokke’?

Nggak pa-pa, lha wong sesuatu itu nggak laras bagi Anda pun bisa laras bagi saya. Atau sebaliknya. Itu pun sebutannya: sudah memenuhi standar rekreasi.

Suatu saat jika saya ingin piknik atau wisata atau rekreasi ke suatu ‘geopark’ alam, biar saya cari sendiri tempatnya yang lebih ‘yahud’ tanpa [i]. Jika pun tempatnya nggak ada di Gunungkidul, akan saya cari di angan-angan neurotik kepala saya. Saya kreasikan seindah-indahnya.

Karena seperti Anda, saya pun paham kebiasaan dan selera saya sendiri.

[Wage]

Facebook Comments
Bagikan melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Mungkin Anda Menyukai