Gulai Ayam Kampung

oleh
Gulai ayam kampung. Foto: Dwiretno/Swara.

Gulai ayam kampung memang maknyusss. Saya pribadi sangat menyukai gulai ayam kampung dibandingkan berbagai-bagai makanan lezat yang lebih ‘modis dan milenial’ lainnya.

Ketika sedang menikmati gulai ayam kampung, selalu muncul kenangan-kenangan masa kecil berkelebat menggoda dalam aromanya. Tergambar jelas dalam sekuel kenangan yang melintas, saya menunggui simbah kakung menyembelih ayam jago, mbah putri menjerang air dan kemudian menggunakannya untuk “mbubuti bulu ayam”.

Ketika ayam direbus, biasanya saya nyuwun kuah kaldunya yang kemudian dengan hanya dikasih sedikit garam saya nikmati bersama nasi dan jantung ayam. Rasanya gurih kaldu ayam kampung asli tanpa campuran apapun. Dan setiap kali merebus daging ayam, ritual itu berulang.

Gulai merupakan salah satu masakan yang memperkaya khasanah makanan Nusantara. Gulai berasal dari Sumatera. Namun kemudian meluas ke Jawa dan Semenanjung Malaka yang tentunya gulai menjadi berbeda rasa dan kekhasannya sesuai iklim dan kultur di daerah yang berbeda. Di Jawa, kuah gulai lebih ringan daripada gulai Sumatera yang bersantan kental. Tidak hanya daging yang diolah dengan bumbu gulai namun Pakis, daun ketela, rebung, jerohan kambing, juga jamak dimasak dengan bumbu gulai.

Bumbu yang berasal dari rempah-rempah pastinya juga menyesuaikan dengan ketersediaan di daerah masing-masing. Berbumbu dasar rempah-rempah kaya manfaat untuk kesehatan tubuh, bumbu Gulai Jawa terdiri dari kunyit, jahe, adas, lengkuas, merica, ketumbar,,serai,,daun salam, daun jeruk serta pala.

Beberapa waktu lalu, di rumah ketempatan acara Syawalan RT kampung, an kebetulan Gulai ayam kampung dipercaya sebagai sajian pelengkap acara. Seperti biasa ketika saya menikmati gulai ayam kampung.

Sekuel-sekuel kenangan masa kecil menyeruak kuat di setiap uar aroma, dan legitnya kuah.

Tentang Penulis: Dwi Retno Wahyuningsih

Dwi Retno Wahyuningsih
Warga Purwosari, Baleharjo. Guru abdi negara, hobby membuat decoupage, menari, membaca, menulis.