Hati-hati dengan Perilaku yang Tiba-Tiba Menjadi Lebih Agamis

oleh
Religiusitas dan kesehatan jiwa. Foto: Yale Campusspress.

Berhati-hatilah dengan perilaku yang tiba-tiba menjadi lebih agamis, bersikap berlebihan melakukan ketaatan aturan agama baik dalam kata-kata maupun perilaku, karena apabila tidak cermat justru merupakan pertanda serius adanya permasalahan kesehatan jiwa. Mungkin pernyataan semacam ini bakal mendapatkan sanggahan keras di tengah masyarakat, namun, berbagai penelitian menunjukkan ke arah adanya problema kejiwaan.

Marcia Purce, seorang profesional yang memberikan advokasi para penderita bipolar mengingatkan, perilaku keagamaan yang terlihat berlebihan, terlihat lebih shaleh, terlihat lebih aktif melakukan ritual kadang justru sedang menunjukkan adanya gejala-gejala (symptoms) gangguan jiwa berat yang dialami.

Sebagaimana telah teridentifikasi secara medis, bagian dari gejala gangguan mania dan hipomania (bipolar atau manik depresif) adalah peningkatan minat pada agama atau kegiatan keagamaan. Gejala ini tidak secara khusus ditemui pada kasus gangguan bipolar saja, karena gejala ini juga biasa terjadi pada kasus skizofrenia, skizofreniform, skizoafektif, dan gangguan psikotik lainnya.

Perilaku menjadi lebih agamis atau religiusitas yang meningkat ini berupa berbagai bentuk. Beberapa contoh (perilaku penderita gangguan kejiwaan di Amerika) adalah kondisi berikut:

  • Kasus 1: Janie dibesarkan pada keluarga Protestan, tetapi berhenti pergi ke gereja pada usia remaja. Namun, setelah timbulnya gejala bipolar, ia mulai pergi ke lebih dari satu layanan ibadah dalam satu minggu, ia aktif menjadi sukarelawan, ia bergabung dengan kelompok belajar, dan mencari konseling agama secara pribadi dari lembaga pelayanan gereja.
  • Kasus 2: Ed belum pernah ke kebaktian atau acara keagamaan dalam hidupnya, tetapi ketika gejala gangguan mental sedang terjadi pada dirinya (yang kemudian didiagnosis sebagai skizofrenia), ia mulai berbicara dengan teman-teman tentang Tuhan lebih banyak dan lebih lagi, ia membaca Alkitab, akhirnya jatuh berlutut dan berdoa dengan lantang di mana pun dia berada.
  • Kasus 3: Terri, seorang penganut Yahudi yang saleh sepanjang hidupnya (sedang mengalami gangguan skizoafektif), ia menjadi yakin bahwa Tuhan merasa dirinya tidak layak dan berusaha bunuh diri.
  • Kasus 4: Jerry, yang memiliki gangguan bipolar, mulai lebih berminat pada keyakinan agamanya ketika gejalanya mulai menyerangnya, ia merasa menemukan bahwa orang-orang di sekitarnya membantu menopangnya di masa-masa sulit.

Dokter yang merawat Terri (kasus 3) mungkin akan segera mendiagnosis, bahwa yang bersangkutan sedang mengalami apa yang disebut sebagai delusi agama. Tetapi, dalam Janie (kasus 1) dan Ed (kasus 2), kemudian dilakukan diagnosis sebagai mengalami delusi agama akan menjadi prematur. Dalam kasus Jerry (kasus 4), keyakinan yang dimiliki Jerry bakal dipandang lebih mendukung pemulihan dirinya daripada menjadi bagian dari masalah.

Profesor H.G. Koenig, psikiater dari Duke University menuliskan temuannya, sekitar sepertiga dari penderita gangguan psikosis memiliki delusi agama, namun tidak semua pengalaman religius adalah gangguan psikotik. Lebih lanjut ia mengatakan, situasi delusi yang dialami mungkin bermanfaat bagi pasien (seperti pada kasus Jerry). Ketika delusi agama tidak segera terlihat, dokter yang merawat perlu memeriksa keyakinan dan perilaku keagamaan pasien dengan penuh hati-hati.

Apa itu Delusi Agama?

Delusi didefinisikan sebagai “keyakinan keliru yang dipegang teguh“. Delusi sering diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai waham. Ada berbagai jenis delusi, termasuk delusi paranoid atau penganiayaan (paranoid and persecution delusion), delusi referensi (reference delusion), delusi kebesaran atau merasa diri menjadi tokoh agung (grandeur delusion), delusi kecemburuan (jealously delusion), dan delusi lainnya.

Dua di antara jenis delusi tersebut, secara khusus dapat mengekspresikan diri mereka dalam konteks agama, seperti contoh berikut:

  • Khayalan paranoid religius: “Iblis mengawasi saya, mengikuti saya, menunggu untuk menghukum saya jika saya melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai,” atau “Jika saya memakai sepatu saya, Tuhan akan membakar mereka untuk menghukum saya, jadi saya harus untuk bertelanjang kaki sepanjang waktu.” Halusinasi pendengaran, seperti, “Suara-suara terus mengatakan kepadaku ada setan di kamar saya,” sering dikombinasikan dengan paranoia agama.
  • Delusi kebesaran: “Tuhan telah meninggikan aku di atasmu, orang-orang normal. Dia mengatakan kepadaku bahwa aku tidak butuh bantuan, tidak perlu obat. Aku akan ke surga dan kalian semua akan pergi ke neraka,” atau “Aku adalah Kristus yang dilahirkan kembali.”

Efek Budaya pada Delusi Agama

Hal yang menarik, sebuah analisis melaporkan studi yang tampaknya menunjukkan kejadian delusi agama yang lebih tinggi di antara pasien skizofrenia di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen daripada di populasi lain. Sebagai contoh:

  • Tingkat delusi agama di Jerman adalah 21,3% vs 6,8% di Jepang.
  • Tingkat delusi agama di Austria adalah 21% vs 6% di Pakistan.

Budaya ternyata memiliki dampak yang kuat terhadap delusi keagamaan. Hal ini didukung oleh temuan, bahwa di Mesir, fluktuasi frekuensi delusi agama selama 20 tahun telah dikaitkan dengan perubahan pola penekanan agama. Analisis yang sama melaporkan, bahwa tingkat 36% dari delusi agama diamati di antara pasien rawat inap gangguan skizofrenia di AS. Selain itu, penelitian menemukan, bahwa dalam kasus khayalan paranoid, para penganiaya lebih sering merupakan makhluk supernatural di antara orang Kristen daripada di antara Muslim dan Buddha.

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.