Hindari 5 Gaya Hidup yang Dapat Memicu Stress
Padatnya kegiatan pada jam kerja sering menjadi pemicu tekanan dalam bekerja Dok: id-techinasia

Tidak bisa dipungkiri seiring pesatnya perkembangan jaman dan teknologi, semua orang “dipaksa” untuk bisa melakukan segala sesuatu dengan cepat, cermat, dan sesuai target. Semua entitas organisasi, entah insititusi pemerintah maupun swasta selalu memacu pegawai atau karyawannya untuk dapat bekerja dengan cepat dan tepat. Terlebih institusi swasta yang berorientasi profit, apabila seorang karyawan tidak dapat memenuhi target yang ditetapkan perusahaan, maka pihak perusahaan tidak akan segan-segan untuk memecat karyawan yang tidak memenuhi standar kinerja.

Demikian pula target tugas sekolah atau kuliah dapat menjadi deraan para siswa atau mahasiswa, apabila mereka tidak cermat dan malas-malasan melakukan tugas sejak awal. Hal seperti ini sebenarnya dapat memicu gaya hidup yang tidak sehat, karena untuk menyelesaikan deadline tugas sekolah atau kampus kebanyakan mereka tidur sampai larut malam, lalu paginya harus berangkat lagi ke sekolah. Sungguh menguras tenaga dan mudah memicu stres. Karena waktu yang terbatas jarang para pegawai kantor atau perusahaan, pelajar dan mahasiswa memiliki pola hidup yang teratur dan sehat.

Gaya hidup seseorang menentukan kualitas kehidupannya. Jika gaya hidup sehat, maka akan menikmati kualitas kehidupan yang sehat. Namun jika gaya hidup buruk, maka kualitas hidup juga akan buruk.

Karena itu, hindarilah beberapa gaya hidup yang bikin stres berikut:

1. Terbiasa Selesaikan Pekerjaan dengan SKS (Sistem Kebut Semalam)

Sejak jaman sekolah dan kuliah, pelajar dan mahasiswa sering mengenal definisi yang salah kaprah dari Sistem SKS. SKS tidak dipahami sebagai sistem kredit semester (sistem mencicil kelulusan mata kuliah yang harus diikuti), tetapi SKS dipahami sebagai Sistem Kebut Semalam.

Gaya hidup ini adalah gaya hidup yang rawan memicu stres. semua ditunda sampai saat akhir. Memang ada orang yang terpacu menyelesaikan pekerjaan bila sudah tidak ada waktu lagi. Masalahnya adalah kalaupun itu membuat mereka menjadi lebih produktif, harga yang dibayar lumayan mahal. Mereka rawan menderita stres. Itu sebab sebaiknya jika dapat menyelesaikannya hari ini, selesaikanlah. Atau, jika tidak, mulai kerjakanlah sedikit demi sedikit. Mencicil tugas setiap hari adalah lebih baik daripada mengerjakannya secara tiba-tiba.

2.Mengerjakan Banyak Pekerjaan Dalam Waktu yang Bersamaan

Gaya hidup ini adalah gaya hidup yang tidak memiliki prioritas. Semua dianggap penting. Mungkin seseorang merasa sungkan menolak atau merasa sanggup melakukannya. Yang menjadi masalah adalah kalaupun sanggup melakukannya, mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus rentan menimbulkan stres. Seseorang menjadi kewalahan dan seringkali ada yang tertinggal atau terlupakan. Kadang hasilnya pun tidak terlalu baik. Jadi, sebaiknya menjadwalkan diri untuk mengerjakan satu hal sampai tuntas sebelum mengerjakan hal lainnya.

3.Memaksakan Diri Jauh Diluar Kemampuan

Gaya hidup ini adalah gaya hidup perfeksionis, semua yang dikerjakan harus sempurna. Semua memang harus mengerjakan pekerjaan sebaik-baiknya sehingga mencapai standar terbaik. Sudah tentu standar terbaik di sini adalah standar yang terbaik buat setiap orang. Sikap ini tidak salah namun jangan sampai terjebak ke dalam pola hidup yang segalanya harus sempurna dan membuat terus merasa tidak puas dan memaksa untuk terus memperbaiki diri tidak habis-habisnya. Jika seseorang tidak bisa mencapainya, maka akan merasa stres.

4.Tidak Pernah Merasa Puas

Gaya hidup ini adalah gaya hidup tidak mensyukuri apa yang dimiliki atau apa yang telah dihasilkan. Terkadang seseorang terbiasa untuk terus-menerus melihat apa yang belum dimilikinya. Tidak jarang seseorang merasa tidak puas karena membandingkan diri dengan orang lain dan melihat apa yang mereka miliki. Akhirnya cenderung menjadi tidak bahagia dan tertekan.

Ada baiknya dan memang sebaiknya senantiasa mensyukuri apa yang dimiliki. Gaya hidup tidak puas rentan merusakkan hubungan dengan orang yang terdekat. Pada akhirnya seseorang menjadi terus mengeluh dan menuntut mereka untuk menjadi seperti yang dikehendaki atau menyediakan apa yang diinginkan. Akhirnya orang-orang terdekat menjadi tertekan karena merasa tidak dihargai. Apa pun yang mereka kerjakan akan dirasakan selalu kurang.

5.Selalu Berpikir Negatif

Menjadi orang yang visioner dan berpandangan jauh ke depan adalah baik. Namun jika seseorang memiliki gaya hidup yang selalu mengkhawatirkan hal-hal yang jauh didepan dan belum tentu terjadi akan membuat stres. Tidak ada yang tahu tahu hari esok, jadi, sesungguhnya setiap orang tidak dapat memastikan hari esok. Jika tidak dapat berserah, maka hati akan terus dipenuhi kekhawatiran. Seseorang menjadi terus memikirkan apa yang akan terjadi walaupun tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi dan membuatnya stres.

Facebook Comments
Bagikan melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Swara1
News Reporter
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya