Inilah Penjelasan Sains Bagaimana Kita Meyakini Hal-Hal Mistis

oleh
Human brain map. Sumber: Humanbrainfacts.org

Sampai sekarang, masyarakat masih memercayai hal-hal yang berbau mistis atau takhayul. Bahkan, ada di antara kita yang mungkin mempercayai bahwa kejatuhan kotoran cicak, kedatangan kupu-kupu di dalam rumah, ada ular di depan rumah, bermimpi bertemu leluhur, dan sebagainya merupakan pertanda bahwa sesuatu hal penting akan terjadi dalam hidup.

Rupanya, memercayai mitos dan takhayul tidak hanya terjadi di antara orang Indonesia saja, atau orang-orang Asia saja. Menurut survei terbaru, tiga perempat orang Amerika juga masih banyak yang percaya pada hal-hal yang dianggap mistis. Bahkan, satu dari lima orang Amerika mengaku pernah melihat hantu.

Hal ini mendorong para psikolog untuk menguraikan alasan di balik kejadian yang dianggap mistis. Seperti dilansir dari BBC, para psikolog berpendapat, beberapa manusia memang tidak dapat melepaskan diri dari takhayul dan cerita rakyat lama.

Saat manusia memercayai hal-hal semacam itu, maka timbul perasaan yang menguntungkan dan seseorang memiliki cukup alasan untuk memahami suatu kejadian. Mengapa hal ini terjadi? Karena otak manusia memang selalu berusaha mencari jawaban dan makna di balik setiap peristiwa.

Kepercayaan pada hal-hal mistik atau kepada paranormal ini diyakini menjadi semacam perisai untuk mencari jawaban. Misalnya saat terjadi kematian, kehilangan pekerjaan, bencana alam, dan sebagainya.

“Ini adalah keadaan yang tidak menyenangkan. Saat kita tidak dapat mengendalikan siituasi, kita akan mengaitkannya dengan hal-hal di sekitar kita,” kata Jennifer Whitson, psikolog dari University of Texas yang menekuni persepsi pola, serta penilaian, dan pengambilan keputusan.

Beberapa pengalaman paranormal mistis sudah dijelaskan berdasarkan penelitian aktivitas aneh di otak. Semisal terkait fenomena kerasukan setan atau benda yang bergerak sendiri, ada respons yang ditunjukkan aktivitas otak sebelah kanan yang mengatur pengolahan visual.

Namun demikian, menurut Adam Waytz di Northwestern University di Illinois, ada cara lain untuk memahami tentang takhayul atau paranormal, yaitu dengan anthropomorphism.

Anthropomorphism adalah pandangan terhadap makhluk bukan manusia yang memiliki kemampuan seperti manusia. Misalnya, adanya roh saat badai yang bisa menyebabkan sakit, atau saat dahan pohon menyentuh daun jendela, kita berpikir ada hantu yang ingin mengirimkan pesan.

“Manusia menciptakan kepercayaan pada hantu karena manusia tidak percaya bahwa alam semesta itu tanpa tujuan,” kata Waytz. Menurut dia, ini bentuk umum dari kita saat merasa tidak bisa mengendalikan kehidupan.

Terkait hal aneh tersebut, Tapani Riekki, psikolog dari Universitas Helsinki Finlandia mencoba untuk menjelaskan berdasarkan penelitian yang dilakukannya selama beberapa tahun terakhir.

Riekki meneliti dua kelompok orang terkait pandangannya terhadap paranormal, yakni orang yang skeptis dan orang yang percaya paranormal. Kedua kelompok diminta untuk melihat animasi bentuk gerakan sederhana.

Ternyata, orang yang percaya paranormal lebih cenderung melihat semacam niat di balik gerakan. Ini tercermin dalam aktivitas otak yang lebih besar yang berkaitan dengan teori pemikiran dan memahami motif orang lain.

Orang yang percaya hal-hal mistis juga cenderung melihat wajah-wajah tersembunyi dalam foto sehari-hari. Temuan ini dikonfirmasi oleh tim lain di Universitas Amsterdam yang menemukan, bahwa orang yang percaya paranormal cenderung melihat ada sosok yang berjalan di dalam cahaya.

Selain itu, orang yang memercayai paranormal memiliki penghambat kognitif yang lebih lemah dibandingkan dengan orang yang skeptis. Kemampuan ini membantu orang-orang skeptis untuk menyingkirkan pikiran yang tidak diinginkan.

Sementara itu, makalah lain juga melaporkan bahwa orang yang percaya hal-hal mistis cenderung punya kepercayaan diri yang lebih besar dalam membuat keputusan. Hal ini membuat mereka tidak mudah melepaskan apa yang telah dipercaya. Meski demikian, rupanya memercayai paranormal tidak selalu negatif.

Percobaan lain menunjukkan bahwa berbagai kepercayaan takhayul dapat meningkatkan kinerja dan keterampilan. Hanya dengan memakai pakaian atau membawa benda yang dianggap beruntung untuk menghadapi ujian, performa orang yang meyakini takhayul bisa menjadi lebih baik. Sebab, hal ini dapat meningkatkan kepercayaan pada kemampuan diri.

***

Referensi: Sains Menjelaskan Alasan Kita Masih Memercayai Hal-hal Paranormal, Michael Hangga Wismabrata, Kompas.com.

Tentang Penulis: A Widyaningtyas

A Widyaningtyas
Tinggal di Yogyakarta. Senang memasak, traveling, dan menulis.