Instalasi

oleh

Sebuah Karya Instalasi, Bukit Pathuk.[Swara/Kl]
Sebuah Karya Instalasi, Bukit Pathuk. [Swara/Kl]
Saya bukan perupa. Saya hanya mencoba membicarakan suatu ‘isu’.

Isu-isu modernitas (biasanya masuk dalam karya tema-tema urban), yang sering dimunculkan di ‘acara-acara besar’ tahunan semacam ArtJog atau Bienalle, banyak digunakan oleh para perupa sebagai dasar berfikir sebuah karya, instalasi dan patung. Bukan berarti pramodernitas atau tradisionalitas tak sering. Persepsi saya, modernitas, atau posmodernitas, di dalam tubuhnya bersemayam pramodernitas atau tradisionalitas. Seakan, modernitas merupakan bahasa baru. Dimana bahasa-bahasa pop yang digunakan dalam karya modern/posmo biasanya dipengaruhi gerak budaya, politik, atau trend suatu aliran seni rupa, juga kota, di masa kini. Dan tentu: pasar (market) sekarang.

Padahal?

Sebuah gerak pada prinsipnya meniru. Atau men-simulasi yang awal, yang natural, yang biologis (di dunia instalasi ada tema: refleksi kematian misalnya). Yang beberapa di antara alirannya mengkombinasikan antara yang natur dengan yang buatan, antara mekanik (mesin) dengan bios (organ). Yang, saya sangat yakin, memengaruhi cara berfikir seorang perupa (pencipta seni rupa).

Seni instalasi-patung, yaitu kombinasi keduanya, yang berupa konstruksi dimensi-dimensi, membawa ‘kesempatan’ untuk bersatu dengan para penglihat (ketika melewati tanjakan Pathuk, para penglihat dengan sengaja atau tidak bisa melihat karya ini; belum sampai tataran penikmat, alih-alih teoris, bahkan artist) dimana suatu karya seni dipasang. Di ruang publik. Di alam. Atau tempat-tempat ramai tertentu. Sebuah karya dipajang tentu bertujuan agar suatu karya terlihat, terpersepsi makna dan maksudnya. Terapresiasi.

Saya, yang menempatkan diri saya hanya sebatas penglihat, mengira karya seni yang dipajang di tanjakan-menikung Pathuk (yang sering terjadi: truk pertamina mengalami macet di sini) ini sebuah karya yang masih berlatarbelakang sebuah ide: pengarang/pencipta belum lah mati. Tuhan (pencipta karya), yang ditafsirkan oleh beberapa orang pada kata-kata Nietzsche bahwa telah mati, selalu memengaruhi (lewat kode-kode dalam karyanya) persepsi para penglihat, atau pemersepsi karya (persepsi saya Tuhan-nya kata-kata Nietzsche tak mati). Pencipta memang memaparkan makna yang fleksibel, yang diharapkan memendarkan persepsi yang fleksibel, menstimulan pengalaman batin para penglihat atau penikmat sesuai dengan ‘latar-belakang-dunia’ atau ‘pandangan-dunia’nya masing-masing. Sebab, seni pada dasarnya membuat indera manusia bisa menggapai level ‘manja’. Bermanja-manja. Dimanjakan.

Oleh pandangan dan penglihatan beserta tata-cara dan kapital pandangan dan penglihatannya masing-masing.

Adakah dampak, perubahan, akibat, yang dirasakan oleh para penglihat/penikmat (selain saya) oleh keberadaan instalasi patung ini? Ribet. Ndadak riset: resepsi (bukan resepsi pernikahan).

Yang gampang, orang pramodern bilang: senjata untuk memersepsi, meresepsi sesuatu ya (landheping) rasa. Mengapa kadang para penglihat berjarak, atau tak merasakan sensibilitasnya? Karena pengalaman pencipta melalui karyanya tak bisa dirasakan oleh para penglihat. Meskipun, salah satu motif seni posmo adalah sesuatu yang beda-baru. Yang sensasional. Yang tampak remeh. Bukan hal besar. Yang kadang-kala dikategorikan nihilistik-plural. Sebuah narasi, ide, pengalaman, dalam suatu karya tampak baru karena, mungkin, nihilnya pengalaman para penglihat (jika ditandingkan dengan pengalaman pencipta).

Maka, pilihannya adalah, para penglihat mencoba mendekati sebuah karya (berlatar pengalaman tertentu), menusuk pada konstruksi pengalaman yang dibangun oleh pencipta melalui kode-kode dalam karya (terlepas dari kecanggihan teknik penciptanya). Dengan pandangan-dunia yang diharapkan, paling tidak, beririsan dengan pandangan Si Pencipta. Tentu, tentang suatu ide yang dimaksudkannya.

Minimal, oleh sang perupa, sang pencipta, atau penanggung jawab proyek instalasi patung melalui tangan perupa, sebuah karya didasari maksud, ide, tujuan (meskipun sekedar artsy; hingga dalam penciptaan mbayari para artisan). Maksimal, maksudnya tanpa maksud.

Bagaimana ini maksudnya?

Jika saya mencoba meraba ide dasarnya (karena saya pastilah bukan kurator, atau perupa yang menguratori karyanya sendiri), dengan pandangan dunia saya, maka karya instalasi patung ini, karena dipajang di gerbang masuk Gunungkidul, yang bisa jadi dimaksudkan sebagai metode branding tehadap hal-hal yang berhubungan dengan keGunungkidulan melalui sebuah karya seni rupa, adalah pralambang manusia (laki-laki) Gunungkidul yang: 1) menyeret jala, barangkali gambaran para nelayan Gunungkidul sebagai mata pencaharian, sekaligus dekat dengan ikon wisata pantai; 2) kerja keras, menyelesaikan pekerjaan dengan kekuatan penuh; 3) bercaping, menyeret hasil bumi dalam karung; dan ini adalah kode yang ditekankan oleh ‘pencipta’. Sampeyan-sampeyan semua pun bisa dengan mudah menafsirkan ketiga persepsi saya tentang karya ini.

Saya tak tahu (dan sebaiknya saya tak tahu) karya instalasi patung ini karya siapa, perupa mana (Gunungkidul atau bukan), sudah punya ‘nama’ atau belum, dst. Jika saya tahu, dan saya tahu latar belakangnya, alirannya, makanan yang ia sukai, kalau berkarya sambil ngudud tidak, dan seterusnya seterusnya, maka persepsi saya tentang karya ini sedang mencoba mensimulasikan apa akan sangat terganggu. Apalagi kalau saya tahu bahwa si pencipta membuat instalasi patung itu hanya waton, tanpa dasar ide, tanpa tujuan apa-apa, menjadi begitu saja (karena waktu ngobrol bareng, waktu ngopi dan wedangan, ia, Si Pencipta, telah menjujurkannya pada saya). Tambah lagi si pencipta sudah mbocorke perspektif karyanya. Na, ini, maksud bahwa maksud suatu karya bisa jadi tak dimaksudkan dilabeli maksud.

Yang terang: kalau saya, barangkali kadang-kadang termasuk juga Anda, jika telah benar-benar tahu maksudnya (maksud pencipta; seperti manusia yang telah benar-benar tahu maksud Sang Pencipta Dunia), karya jadi nggak asik. Saya juga nggak asik: dengan persepsi saya yang bisa beraneka. Jika demikian menjadi tak ada perubahan dalam diri saya, yang ada hanya kecemasan dan kebingungan. Tak ada interpretasi. Tak ada ambiguitas. Tak ada yang tak-jelas. Tak ada yang tak ada. Tanpa yang luput.

Yang itu (persepsi yang beraneka, perubahan di diri saya sebagai penglihat, kecemasan, dan kebengongan saya sebagai hasil merasai suatu karya) justru menjadikan saya hidup. Kehidupan nalar dan batin saya yang berasal dari sebuah karya instalasi yang hidup. Itu adalah karya Si Pencipta yang (meski nihil info tentangnya) hidup; dalam keterputusan hubungan dengan karyanya sendiri yang dianggap mati (pencipta-mati) di atas.

Dan saya lebih suka mengatakan bahwa karya instalasi patung di tanjakan-menikung bukit Pathuk ini bukan sebagai pemicu hadirnya pendar pengalaman-pengalaman baru nan kreatif, utamanya dalam diri penglihat atau penikmat, namun sebuah bahasa ungkap (modern, posmo) tentang pandangan-dunia-bersama, yang hidup di kesadaran yang begitu dalam masyarakat Gunungkidul umumnya, yang telah kuno (pramodern) bersemayam, sebagai gambaran kedirian manusia Gunungkidul yang khas (sui-generis) dan nyawiji (inheren).

Ah, namanya juga dunia-simulasi. Dunia ‘lelaki’ (kekuasaan). Dunia-simulasi yang kelelakian dari istilahnya saja telah mengandung instalasi: memasang; menyatukan; mengonstruksi. Kadang demi memenuhi hasrat konsumsi. Pun demikian, tampaknya, meski dengan sembunyi-sembunyi, dunia-simulasi tetap berusaha melilitkan bulir-bulir sega atau sega-pulut (puli) dan peyek ikan teri di sebalik keramaian (jalur) wisata untuk bisa dinikmati. Yang benar-benar tahu mana yang natural dan mana yang simulasi ya hanya nurani: jala dan caping-gunung yang lekat saban hari di tubuh nelayan dan petani.

Bukan karya yang harus selalu dibayar tinggi.

[Swara/Kl]