Jalur Cinomati Pleret Jadi Alternatif Rute Favorit Para Pelajon

oleh
Jalur Cinomati, Pleret Bantul. Foto: Putra S/Swara.

Putra pernah menjumpai pengalaman unik ketika melewati jalur Cinomati. Pada saat sore hari, ia beristirahat sejenak di tanjakan ekstrim tersebut, ia sempat menjumpai seorang pengendara motor yang grogi saat melewati tanjakan sehingga motornya mogok dan hampir terjatuh. Ia segera membantu pengendara tersebut, diajak istirahat sebentar, diberi tahu tips dan trip melewati tanjakan, kemudian diajak bareng-bareng beriringan naik ke arah Dlingo.

“Pernah pula saya menjumpai ada mobil pickup yang terperosok ke saluran jalan karena grogi sliringan dengan mobil yang datang dari atas. Ya, jalur Cinomati ini memang masih sempit mas. Padahal sekarang jalur ini boleh dibilang cukup ramai dilewati motor maupun mobil. Selain pelajon dari Gunungkidul, ada banyak pelajon dari bawah yang setiap hari juga naik ke arah Dlingo dan Gunungkidul lewat jalur ini,” ungkapnya.

Dari pengalamannya meniti jalur jalan yang ekstrim setiap hari dan dari niatnya berbagi informasi kepada sesama pelajon, saat ini Putra sering berhenti sejenak di belokan tanjakan Cinomati. Sembari memotret situasi perjalanan di jalur ini dengah HP, ia terkadang membuat rekaman video singkat dan mengirimkan situasi pantauan ke grup medsos para pelajon. Apa yang ia lakukan ini dimaksudkan sebagai cara menjaga keselamatan berkendara, khususnya bagi dirinya dan teman-teman sesama pelajon.

Ditanya tentang nama jalur Cinomati yang unik dan terkesan menyeramkan, Putra ternyata pernah bertanya kepada warga yang terdekat dari tanjakan tersebut. Dari keterangan yang diperolehnya, warga setempat juga tidak mengetahui mengapa tempat tersebut dinamakan Cinomati. Hanya didapat keterangan, bahwa sejak dahulu jalan atau tempat tersebut namanya memang Cinomati.

Jalur Cinomati rame pengendara ke arah Dlingo pada sore hari. Foto: Putra/Swara.

Berbeda dengan Putra, Andi Amel (43), pelajon dari Dusun Ngricik Wiladeg Karangmojo tetap memilih jalur Bukit Bintang. Menurut pekerja di salah satu gerai elektronik di Jl Urip Sumoharjo ini, meski jalur Patuk Piyungan sekarang lalu lintasnya sudah tergolong padat merayap pada jam pagi dan sore, ia mengganggap rute ini yang paling dekat dan cepat dari rumahnya ke tempat kerja.

Andi pernah mencoba jalur pertigaan Sambipitu – Nglanggeran – Petir – Jl Prambanan – Berbah – Jalan Solo. Hal ini dilakukan ketika jalan utama Patuk – Piyungan sedang ada perbaikan. Menurutnya jalur alternatif yang ia lewati ini masih sempit terutama di Nglanggeran – Petir. Namun, menurutnya jalur itu sangat membantu kelancaran perjalanan saat ada perbaikan di jalur utama.

Ia juga pernah mencoba jalan baru Nglanggeran – Ngoro-oro – Gayamsari – Prambanan. Jalur sampai batas Gunungkidul – Sleman di sebelah utara Ngoro-oro menurutnya sudah bagus, tetapi jalur di wilayah Prambanan Sleman belum semulus jalan baru di wilayah Gunungkidul. Ia mengira, jalur jalan baru tersebut belum begitu diminati pengendara karena memang masih belum selesai pembangunannya.

Jika dirata-rata, keberangkatan dari area Wonosari, maka waktu perjalanan para pelajon pada pagi atau sore tersebut rata-rata adalah 1,5 sampai 2 jam perjalanan, atau totalnya 3 – 4 jam setiap hari. Ini tentu bergantung pada situasi perjalanan di jalan raya. Menglaju kerja dari wilayah Gunungkidul ke wilayah Yogya Kota dan sekitarnya sesungguhnya hampir serupa dengan waktu tempuh para pekerja kommuter di Jabodetabek yang sehari-hari bisa menghabiskan 2 – 5 jam perjalanan per hari.

Semangat selalu sedulur-sedulur pelajon. Jerih lelahmu tidak akan sia-sia buat keluarga tercinta.

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.