Jika Kesuksesan Menjadi Candu

oleh
Sukses. Dok: Hipwee.

Kata sukses sering kita dengan dan diucapkan oleh orangtua, guru, teman dan sanak saudara. Saat menghadiri pesta pernikahan pengantin mendapat ucapan: Semoga cepat sukses ya. Anak ulang tahun di kartu ucapan ada tulisan: semoga menjadi anak yang sukses. Tulisan di syukuran kelahiran anak : mohon doa semoga menjadi anak yang sukses, berguna bagi bangsa …..

Jadi semenjak kecil sampai dewasa ini kata-kata sukses sudah dibenamkan dalam otak kita. Sehingga dalam bawah sadar apapun tindakan dan pikiran kita arahkan untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan seperti apa? Tentu kesuksesan mainstream seperti punya harta, jabatan atau sukses dalam studi sampai ke jenjang yang tinggi.

Namun kita harus hati-hati lho. “Sukses” sebenarnya bukanlah kata atau tradisi dalam kehidupan spiritual. Cita rasa “sukses “  lebih ke arah duniawi, hal inilah yang perlu diwaspadai. Sementara hidup yang sesunggunya adalah mengolah hal-hal yang bersifat spiritual. Tradisi untuk menguatkan spiritualitas sebenarnya tidak penah berbicara soal “sukses” ini.

Hidup spiritual berpegang para prinsip moral: hidup yang baik dan benar, alih-alih sukses. Sehingga yang perlu dipegang adalah prinsip moral bahwa : tak ada hidup benar dan baik dalam hidup yang salah dan jahat. Tentu sukses tidak dilarang tetapi harus diwaspadai.

Adalah Reinhard Marx yang memberi ajaran tentang bagaimana meraih hidup benar dan baik tersebut. Reinhard Marx memberi resep “empat keutamaan”. Keutaamaan menurut Reinhard ini bukanlah sesuatu yang muluk-muluk, agung dan jauh dari kehidupan. Ternyata malah  memuat hal yang sangat sederhana. Hidup kita akan menjadi utama jika kita mengenakan nilai-nilai yang pas dan sreg dengan yang kita rasakan. Empat keutamaan yang membuat hidup menjadi pas dan sreg  ini adalah : kebijaksanaan, keadilan, ketabahan dan tahu batasnya.

Dalam masyarakat Jawa hidup itu diarahkan untuk ngudi kawicaksanan.  Kebijaksanaan ini akan memandu hidup kita dengan akal sehat. Akal yang sehat itu bagaimana? Salah satunya akal yang mampu membedakan nilai-nilai. Akal sehat mampu membedakan nilai benar dari yang salah. Mengambil yang baik dari yang jahat. Di sini perlunya rasionalitas alias berpikir kritis yang dalam pengetahuan dikenal sebagai langkah atau metode ilmiah. Menghadapi suatu masalah dan berusaha memecahkannya secara sistematis, tidak anut grubyuk asal membenarkan suatu pendapat karena dianut oleh banyak orang. Pun dalam nilai-nilai agama seyogyanya membiarkan manuasia penganutnya tetap dibimbing oleh cara berpikirt kritis ini.

Dalam kebijaksanaan tersirat perlunya kecerdasan. Namun bukan sekedar cerdas saja yang notabene bisa diperoleh dari membaca banyak buku. Di sini diperlukan kepekaan terhadap suara hati dan rajin mengolahnya dengan akal sehat.

Dalam kesuksesan lebih mengandaikan diraih oleh orang yang pintar, kuat, berkuasa. Dan mengesampingkan yang bodoh, miskin dan lemah. Padahal dalam diri mereka tidak jarang ada mutiara kebijaksanaan.

Kedua keadilan. Hidup yang tidak adil akan merusak hidup itu sendiri dan membawa ketidakbahagiaan. Bagaimana tolok ukur keadilan ini. Secara prinsip bisa dikatakan: apa yang kamu inginkan untuk dirimu, buatlah itu juga untuk orang lain. Itulah keadilan. Dengan kata lain kalau kita tidak suka diperlukan seperti itu ya jangan memperlakukan orang seperti itu.

Keadilan lebih bersifat keluar dari dalam diri kita, ada empati, perhatian terhadap lain. Tidak hanya mengejar untuk diri kita sendiri. Dasar inilah yang berbeda dengan kesuksesan. Karena jika hanya mengejar kesuksesan saja kita bisa mengabaikan orang lain dan tidak peduli dengannya. Sehingga terlalu mengejar kesuksesan akan terjerumus dalam sikap ketidakadilan.

Ketiga, ketabahan. Ketabahan bukanlah menjadi orang yang kaku. Namun di situ ada kekuatan sekaligus kelenturan. Sikap lentur menghadapi situasi yang serba berubah namun juga kuat tidak mudah patah atau mutung. Ketabahan ini juga berarti kita betah menghadapi konflik, tapi bukan berarti menjadi sumber konflik. Dalam kehidupan modern ini dan era merebaknya medsos kita sering dipameri foto-foto tentang hal-hal yang menyenangkan: makan enak, pergi wisata, keluarga bahagia, materi tercukupi.kesannya hidup serba enak tidak ada masalah.

Walaupun di balik itu kita tidak tahu senyatanya. Lalu banyak yang berlomba mengejar kesenangan untuk ikut-ikutan dipamerkan di medsos. Hedonisme saat ini menjadi berhala baru di masyarakat. Akibatnya banyak yang tidak tahan konflik. Yang dipikirkan ternyata tidak seperti yang dihadapi. Lalu mudah nglokro, tidak semangat dan mudah marah, protes kenapa hidup kok susah amat sih. Di sinilah diperlukan ketabahan, kuat tetapi juga lentur.

Keempat, tahu batas. Pada anak-anak bisa diajarkan tentang tahu batas ini soal makan dan minum agar setelah dewasa menjadi lebih peka. Bahwa kita juga mesti tahu batas kerja sehingga bisa menyeimbangkan antara waktu kerja dan waktu untuk istirahat. Waktu untuk kantor dan waktu untuk keluarga. Pikiran untuk mengejar materi, uang dan keseimbangan pikiran untuk mengolah dan merefleksi pengalaman. Dalam hidup yang tahu batas ini kita juga tidak akan memperlakukan alam semena-mena. Karena ia juga seperti manusia yang ada batasnya (carriying capacity). Sehingga eksploitasi sumbedaya alam juga bisa seimbang dengan recovery-nya.

Jelas tahu batas ini bertentangan dengan sukses. Karena sukses yang penting mengejar sebanyak-banyaknya mumpung ada kesempatan. Lalu orang yang dihantui sukses ini bisa terjerumus ke dalam sikap serakah, mau menang sendiri dan kemurkaan.

Empat keutamaan ini seperti kuda yang menarik kereta kehidupan kita. Lalu diam-diam sebenarnya di sini ada perlawanan prinsipil dengan kesuksesan yang ditawarkan oleh kehidupan modern. Karena cita rasa sukses yang ditawarkan hidup modern belum tentu pas dan sreg. Tidak mungkin jika sukses malah membuat hidup tidak bahagia.

****

 

Tentang Penulis: Heru Tricahyanto

Heru Tricahyanto
Saya seorang manusia biasa saja, lahir besar, dan tinggal di Wonasari. Bisa jadi karena cinta Gunungkidul atau memang kepepet ndak berani merantau yaaa. Sehari-hari menjadi tukang servis komputer, bakul wedang di Kopi Angkringan Wonosari kalau malam, kadang juga kelayapan ke Jogja sekedar melepas kangen (pada siapa?). Saya ndak bisa menjadi orang yang spesial pada satu hal, alias orang generalis, sehingga ndak lulus program Doktoral, karena memang gak kuliah doktoral (hehehe).