Karang
Batuan karang pantai selatan Gunungkidul. Foto: Wg.

Sekarang ‘nguda-rasani’ karang. ‘Ngudani’, menelanjangi, memang ‘kerja’ mengasikkan. Tetapi sesuatu kalau sudah dalam kondisi “wuda” (telanjang), biasanya kurang asik. Iya, kan?

Eh.

Gunungkidul adalah karang. Gunungkidul adalah ‘watu-karang’. Indahnya Gunungkidul adalah indahnya batu karang dan lemah karang. Tengadahnya batu karang (karena perang terus-menerus dengan sinar matahari, air, angin, dan api) tertumpuki lemah karang. Pekarangan-pekarangan (baru) lahir di atas batu dan lemah karang. Tegalan, sawah, pakebonan, dusun, desa. Pekarangan-pekarangan baru (Karangawen, Girisuba; Karangsari, Semin; Karangasem, Paliyan dan Ponjong; Karangmojo; Karangtengah, Wonosari; dan lainnya), kemudian, melahirkan para ‘pengarang’: penggarap batu dan lemah karang.

Juga para penggarap kata-kata: watu, watu-karang, padhas, lemah-karang, ngelmu-karang.

Para pengarang jaman kuno dan pengarang jaman kini ‘mencoba’ memindahkan suasana keindahan alam seperti batu-batu karang ke dalam suatu karya dengan untaian kata-kata. Untaian kata berbentuk ‘wantah’ (makna-lahir; ‘thin’) dan mitis (makna-gaib; makna- batin; ‘thick’). Makna-nyata dan makna-semu (‘pasemon’/paralambang); keduanya sering digunakan. Bahkan: keduanya, menurut saya, saling menggantikan (‘ijol-ijolan panggonan’). Para pengarang menawarkan kode: bahwa makna yang lebih ‘wantah’ atau luaran hendaknya dijauhi. Namun terkadang juga sebaliknya: yang ‘wantah’ didekati. Yang umum: makna yang lebih dalam/batin hendaknya diikuti. Bagi sebagian orang, makna-wantah yang hendaknya dijauhi itu justru didekati. Demi berbagai tujuan.

Orang-orang yang memiliki ketakutan berlebih terhadap kewantahan-kata (kelahiran) biasanya mudah marah, mudah merasa terhina dan ternistakan, bahkan mudah menistakan segala yang dianggap bukan-ilmu; mungkin karena yang melulu dianggap kenyataan ya yang di luaran; kemanusiaannya dinalarkan dan dirasakan ‘kalah’ oleh kemanusiaan-batu. Orang-orang yang tidak takut terhadap kewantahan-kata (berlaku kebatinan) tak mudah marah, tak mudah merasa terhina dan ternistakan.

Kelahiran dan kebatinan suatu kata atau konsep kata seperti [watu], [karang], [pekarangan], [watu-karang], [ngelmu-karang] dan sebagainya saya kira tak benar-benar berhenti pada kebakuannya pada suatu ruang-waktu. Namun ‘menyelaraskan diri’ pada dinamisnya alam.

Para pengarang, termasuk para penggarap sawah dan tukang batu, adalah orang-orang yang pandai mengolah ‘galih’: pikiran dan hati/rasa. Perubahan kondisi, bahkan hingga level ekstrim, menstimulan para pengarang memformulakan kata-kata ‘baru’ menggunakan nalar dan rasanya. Kata-kata kemudian dituntaskan maknanya lebih mendalam; lebih batin. Makna-kata (oleh pengarang) dikosongkan. Dengan tindakan. Laku. Maka, dimensi suatu ilmu, bagi keJawaan dan keBatinan, dipandang bukan melulu sebagai bentuk-bentuk: parawacana, wacana, maupun poswacana saja, namun juga ‘laku’. Laku-hidup. Ada kriya. Ada kerja. Ada aksi. Ada tandang-gawe.

Mungkin, ‘manjing’-nya kata-kata dan laku itu adalah konsepsi ‘logos’ atau ‘ilmu’ yang diformulakan oleh para pengarang Jawa (para pujangga; seperti Ranggawarsita, Mangkunegara IV) sebagai ‘ngelmu’. Yaitu bersatunya makna ‘watu’ dan ‘lemah’ dengan dimensi kerja ‘among-watu’ dan ‘among-lemah’ yang dilakukan oleh para among-tani di Gunungkidul.

Meskipun dimensi kerja ‘among-watu’ dan ‘among-lemah’ telah dilakukan setiap hari selama kurun waktu yang panjang, ‘watu’ dan ‘lemah’ yang tampak ‘wantah’ pada suatu kondisi tertentu dapat bersifat ‘gaib’/misteri di mata/nalar/batin para among-tani. Watu dan lemah adalah ‘makhluk’ gaib. Alam adalah gaib.

Tampaknya, yang gaib tak hanya golongan makhluk-gaib. Ngelmu-karang (yang diwariskan para mistikus dan pengarang Jawa) tak hanya berhubungan dengan makhluk-gaib: beberapa di antara kita mungkin “memperalatnya” untuk suatu kepentingan. Manusia itu sendiri adalah gaib. Tindak-tanduknya yang dianggap nyata pun gaib. Manusia-manusia gaib pada kegaibannya sendiri dan saudaranya. Manusia gaib pada ‘ilmu pengetahuannya sendiri’. Pada alam. Lingkungan. Watu. Lemah. Air. Tumbuhan menahun. Musim. Teknologi. Sastra. Manusia Gunungkidul gaib terhadap karang-karangnya sendiri. Kegaiban tentang diri sendiri dan alam ‘berbahaya’ bagi tajamnya batin. Keindahan giri/gunung, goa, pantai, grojogan, kali, tumbuh-tumbuhan khas, tajamnya batu karang dan sebagainya, justru bisa sangat-sangat ‘berbahaya’ bagi kebatinan.

Batin manusianya. Pikir dan batin manusia bisa ‘kera’: kurus-kering.

Yang batin/gaib dikelola. Diangon. Batu-batu karang yang gaib, batu-batu padhas yang pating-cringih, batu-batu parang yang keras, lalu diolah. Dipekonah. Diformulakan. Dipukul. Diparang. Dijadikan lahan garapan. Ditumbuhkan pekarangan. Ngelmu-karang tentang pertanian gunung-karang sebagai alih-ubah batu-batu karang yang dipekarangkan (dibuat pekarangan, perkebunan, dan pertanian) tanpa disertai pemahaman dan perasaan sifat karang (jika karang diparang terus-menerus oleh air, panas, dan angin dapat berubah menjadi ‘glintiran-glintiran’ atau ‘glindhingan-glindhingan’ mahakecil; debu/’dust’, ‘lebu’) dapat membahayakan nalar dan batin. ‘Lebu’: tempat bagi yang semi (bumi).

Ngelmu-karang di lahan pekarangan baru memang bertujuan seperti “ngelmu-karang” pada umumnya, yaitu untuk meraih: derajat hidup berkulawangsa (kawiryan), kecukupan-material (kebendaan) dari hasil bercocok tanam di atas lebu, serta ilmu-pengetahuan yang cukup berkenaan dengan kepentingan perikehidupannya sehari-hari (tanem-tuwuh). Kulawangsa manusia tumbuh-kembang. Pemolaan (pranata) alih ubah tanah-hutan, tanah-bekas-bengawan, dan tanah-batu-karang menjadi pekarangan rumah-tangga kulawangsa manusia mau tak mau harus memperhatikan dan mengedepankan keseimbangan biosfernya: tumbuh-tumbuhan penguat-penyubur lemah/lebu. Mungkin keberadaan “karang-kirna”, pohon-pohon buah-buahan yang jaman dulu banyak ditemui di pekarangan/tegalan/pinggir sawah bisa dihidupkan kembali (pohon nangka, pohon mangga, pohon dhuwet, dll.). Tujuannya: menguatkan, menyuburkan, dan mempercepat pembentukan ‘lebu’ (lemah), hingga suatu saat jika ada kegaiban-kegaiban alam yang tiba-tiba muncul bisa digunakan sebagai ‘jaga-jaga’.

Meskipun demikian, para among-tani tetap sadar bahwa alam adalah sumber kegaiban.

Kulawangsa manusia harus berhati-hati. Harus waspada. Manusia atau manungsa atau manusa, mengapa berbeda dengan hewan atau tumbuhan karena ciri yang melekat padanya adalah ‘man’ (waspada). Lha wong telah waspada pun manusia kerepotan menghadapi gaibnya alam. Muncul “karang-abang” (bukan dalam arti: kebakaran oleh api; namun air berwarna coklat-kemerahan) di pekarangan-pekarangan.

Kelembutan/kegaiban/kebatinan alam, di sebalik watu-karang lemah-karang (thick), perlu diwaspadai. Bukan melulu sebagai unsur yang sewaktu-waktu ‘mengancam’ dan ‘merongrong’ kemanusiaan, justru sebaliknya: diwaspadai sebagai sumber ilmu dan laku. Sebagai siklus dan ritus perbaikan diri. Manusia dan alam. Jika pun siklus perbaikan diri manusia/alam terjadi (dan baru saja terjadi), maka kita, semoga, masih bisa ‘mondhok-karang’: ikut mengamankan diri (mengindung) di pekarangan-pekarangan saudara. Dalam hangat omahnya. Dan bahkan, jika mungkin, di dalam siklus manusia/alam itu kita mampu ‘gumregah’, bertumbuh menjadi “kembang-karang”: bunga yang mampu hidup di atas batu-karang; keindahan-kehidupan yang ‘thukul’ di atas keserbasulitan, di atas alam yang sedang menyuguhkan kegaiban-kegaiban.

Kegaiban-karang, telah sepantasnya, mengajak kita untuk selalu: “eling”.

Bukankah para pengarang mengingatkan: “eling” (ingat kepada Tuhan serta nilai-nilai keTuhanan) dan “waspada”? Wedatama (ngelmu-utama) ‘ngelingake’ kita agar selalu mencoba menjadi ‘manusa’ waspada: manusia yang selalu awas dan melek berelasi dengan alam-lingkungannya? Manusia-karang. Manusia-gaib. Manusia waspada.

Caksana: bijaksana.

Lha, sementara saya? Tetap saja laksana ‘padhas-karang’: keras-kepala sekeras batu-batu karang di pesisir dan gunung karang.

***

[WG]

Facebook Comments
Bagikan melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Swara1
News Reporter
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya