Karawitan-Putri

oleh
Sajian Karawitan Putri Kabupaten Gunungkidul di Festival Karawitan Putri antar Kabupaten-Kota se-DIY, Minggu 28 April 2019

Lali-jiwa, sotya-rekta ing kalpika.
Asareya, mirah sun bantali asta.
(Wangsalan; Cakepan Jineman “Mara Kangen”)

Para putra dan para putri melakukan olah seni-karawitan. Seni-karawitan, tentu, bersifat rawit. Putra dan putri mengalunkan rawitnya gendhing karawitan. Sifat gendhing karawitan berpasangan: soran (keras) dan lirihan (rawit, lembut). Adat-tradisi telah mewariskan paratanda bahwa instrumen karawitan lazim menampakkan diri sebagai berpadunya pasangan-yang-saling-melengkapi: satu keras, satu lembut. Penabuhnya para putra, sindhennya para putri. Ada tabuh, ada ‘wadah’ yang ditabuh. Ada kosok, ada yang digesek. Ada yang khusuk nabuh, ada yang kajibah: nywara. Ini berhubungan dengan psiko-seksual atau tidak, ini berhubungan dengan pembagian mana bidang-putra mana bidang-putri atau tidak, ini berhubungan dengan kesetaraan putra-putri atau tidak, kali ini saya tidak akan menguliknya.

Yang jelas, ini karawitan. Dan ini karawitan-putri; sebagai incon karawitan-putra (didominasi putra) atau karawitan putra-putri. Jelas, para penabuh dan sindhennya: putri. Para putri bersifat: rawit (lembut). Para putri, dalam durasi yang dibatasi (35 menit), menyajikan gendhing karawitan soran (keras) dan lirihan (lembut). Para pengrawit putri menyuguhkan pergumulan keduanya.

Para putri wani-wani menyajikan gendhing karawitan. Para putri ‘menggantikan’ peran para putra: nabuh dan nuthuk gender-saron-bonang-kendhang-gong; seorang putri ngosok rebab; seorang putri mugut-memetik siter. Seorang putri (sindhen) celuk-celuk (memanggil-manggil), ditujukan kepada para pemerhati seni karawitan: Lali jiwa, satya-rekta ing kalpika; Asareya mirah sun bantali asta. Begitu halus dan dalam makna di sebaliknya; begitu sulit bagi awam menemukan wangsulan-nya.

Para-putri gonas-ganes nada-bicaranya. Para-penonton merem-melek karenanya.

Diikuti oleh lima kontingen kabupaten-kota seluruh DIY sebagai hasil seleksi masing-masing kabupaten-kota, Festival Karawitan Putri Tingkat Kabupaten-Kota se-DIY tahun 2019 (Minggu, 28 April 2019) bermateri dua gendhing soran (Gendhing Wani-wani Laras Slendro Pathet Nem dan Gendhing Tlosor Laras Pelog Pathet Barang) dan dua Gendhing Lirihan: ber-Laras Slendro Pathet Sanga dan ber-Laras Pelog Pathet Barang, yang pembiayaannya menggunakan Dana Keistimewaan Tahun Anggaran 2019. Narasumber festival tahun ini adalah Trustha, M.Hum dan Sukamto Suryamadyo, S.Sn. Tim pengamat yang ditunjuk: Drs. Sukisno, M.Sn. (UNY), Murjono (RRI), Sadipan (Seniman Karawitan asal Gunungkidul), Dra. Sukristi, M.Sn. (ISI), dan Dra. Sri Suhartini, M.Sn. (ISI). Aspek penilaian masing-masing kontingen meliputi: teknik, garap, dan keselarasan aspek etika dan estetika seni karawitan. Penghargaan kepada kontingen kabupaten-kota berupa penghargaan kelompok dan penghargaan perorangan. Dalam festival ini, kelompok Karawitan Putri Kabupaten Gunungkidul menyajikan Gendhing-soran Wani-wani Laras Slendro Pathet Nem dan Gendhing-lirihan Jineman “Mara Kangen”dilanjutkan Sekar Macapat Pocung dilanjutkan Ladrang Purnama Sidhi dilanjutkan Lancaran Kae Lho yang semuanya ber-Laras Slendro Pathet Sanga.

Kontingen Karawitan Putri Kabupaten Gunungkidul di Festival Karawitan Putri antar Kabupaten-Kota se-DIY yang didominasi anak muda, 2019. Swara/WG.
Kontingen Karawitan Putri Kabupaten Gunungkidul di Festival Karawitan Putri antar Kabupaten-Kota se-DIY yang didominasi anak muda, 2019. Swara/WG.

Sebelum kontingen karawitan putri Gunungkidul menyajikan kedua garap-gendhing itu, Sang Pelatih, Muchlas “Tubiest” Hidayat, memberikan keterangan bahwa para pengrawit putri kontingen Gunungkidul merupakan pilihan dari para peserta Festival Karawitan Putri antar Kecamatan se-Gunungkidul dan penentuan sebagai para penabuh sesuai dengan kebutuhan materi gendhing Festival Karawitan Putri Dinas Kebudayaan DIY Tahun 2019 yang akan disajikan. Bahkan pelaksanaan Festival Karawitan Putri antar Kecamatan se-Gunungkidul belum usai pun para pengrawit terpilih-tertentu itu telah ada. Jika pemilihan-penentuan menunggu hasil festival selesai, maka waktu untuk persiapan terlalu mepet, hasilnya kurang memuaskan. Jadi, olehnya, penggendernya si itu, pengendhangnya si itu, telah dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Muchlas “Tubiest” Hidayat selaku pelatih Kontingen Karawitan Putri Kabupaten Gunungkidul sempat menimbang-nimbang: untuk festival karawitan putri tahun ini potensi memeroleh penghargaan kelompok ataupun penghargaan perorangan berimbang di lima kabupaten-kota. Hal ini bisa dilihat dari pemetaan para penabuh putri di 5 kabupaten-kota. Bergantung faktor penyajian ketika pentas. Melihat hasil latihan yang sudah dilakukan, kontingen Gunungkidul ia perkirakan bisa masuk nominasi meskipun belum “spesial”; batas aman telah terlewati; petanya: draw! Masalahnya adalah terletak pada instrumen garap atau instrumen ngarep, yaitu kendhang, gender, dan rebab, karena pengrawitnya memang harus berlatar belakang sekolah seni seperti SMKI. Jadi, penabuh instrumen-ngarep masih diisi muka-muka lama (pengrawit putri yang dulu pernah mengenyam sekolah seni namun umurnya sudah lanjut seperti Bu Sawiyati). Para pengrawit putri Gunungkidul 70 persennya pemudi, 30 persennya angkatan tua. Meskipun tak menjadi syarat bahwa peserta harus didominasi oleh generasi muda. Dari 70 persen pemudi itu, yang berlatar belakang sekolah seni kurang lebih 40 persen, lainnya SMA, SMK, dan PT.

Pertimbangan lain berkenaan dengan kelancaran proses produksi (latihan) yang jika lancar dapat menambah optimalisasi hasil. Betapa tidak. Wilayah Gunungkidul termasuk wilayah yang luas. Jika memilih penabuh-bagus yang berasal dari wilayah yang jauh dari Pusat Kota Wonosari (Pendhapa Sewaka Praja di Kota Wonosari sebagai tempat latihan) maka ada konsekuensinya. Jika seorang penabuh diajak latihan di tempat yang jaraknya amat jauh dari rumah bagaimana: mau tidak, lelah tidak, duwe-laku (punya moda transportasi) atau tidak, dan lain-lain. Seperti Bu Sawi di atas tadi: tiap kali ia latihan ke Kota Wonosari harus ngojek dari Tambakromo Ponjong, sementara jarak  Tambakromo-Wonosari hampir sama dengan jarak Wonosari-Yogya. Namun karena kebutuhan teknis, Bu Sawi (pengendhang) tetap diperjuangkan bagaimana caranya agar ia dapat mendukung kelompok karawitan putri Gunungkidul di perhelatan festival karawitan putri tingkat kabupaten-kota tahun ini, lantas diharapkan dapat memeroleh penghargaan.

Sawiyati (Pengendhang), Tambakromo Ponjong. Swara/WG.
Sawiyati (Pengendhang), Tambakromo Ponjong. Swara/WG.

Karena bagaimana pun, berbagai festival, atau perlombaan, khususnya di bidang seni karawitan, merupakan tolok ukur sekaligus semacam undhan-undhan atau unton-unton andha: para kelompok karawitan ataupun perorangan di tingkat paling bawah berlomba untuk memeroleh penghargaan di festival level bawah, kemudian naik ke unton-unton selanjutnya yang lebih tinggi, dan kemudian tertinggi, dimana ‘penghargaan’ itu dikeluarkan oleh Dinas Kebudayan sebagai wali pemerintah.

Olah seni karawitan putri diwadahi oleh Dinas Kebudayaan, yang mengidentifikasi dirinya sebagai kundha-kabudayan, wadah presentasi aneka-budaya; maka Dinas Kebudayaan pun bersifat keputrian. Festival yang dilaksanakan tiap 2 tahun dan bersifat keputrian ini, dengan kelebihan dan kekurangannya, bisa dikatakan sebagai kundha, atau ‘api-kebudayaan’. Api-kebudayaan merupakan piranti untuk mewadahi kudhandhangan; rasa-kangen yang amat sangat kepada kehadiran kebudayaan. Api-kebudayaan, meskipun kecil nyalanya, harus selalu dijaga di wadah semacam ini. Bagaimana caranya?

Materi untuk lomba tahun ini memang berat bagi kontingen karawitan putri Gunungkidul. Meskipun sudah diinterpretasi dan didekati dengan bantuan sang pelatih, namun beratnya materi memang terasa. Latihan dilaksanakan cukup sesak dan dikejar waktu, kurang lebih sekitar 8 kali. Setelah kontingen karawitan putri dari lima kabupaten-kota selesai menyajikan gendhing soran dan lirihan, pengamat festival mengumumkan bahwa Kontingen Karawitan Putri Kabupaten Gunungkidul (penabuh berjumlah 28 putri, gerong berjumlah 6 putri, sindhen berjumlah 1 putri) memeroleh Penghargaan Terbaik Ketiga setelah kontingen Kabupaten Bantul dan Sleman, disusul Kota Yogyakarta dan Kabupaten Kulonprogo. Kontingen Karawitan Putri Gunungkidul yang memeroleh Penghargaan Terbaik Ke-3 (sama dengan prestasi 2 tahun lalu, 2017) mendapat uang pembinaan 6 juta rupiah. Untuk penghargaan perorangan khususnya kategori pengrawit-garap, Sumarningsih dipilih sebagai Pengrebab Terbaik dan diberi Penghargaan Plakat Ki Tjokrowarsito serta uang pembinaan 1,5 jt rupiah. Sementara itu para pengrawit-garap lain seperti: Sawiyati (pengendhang), Anik Rahayu (penggender), Sekar Ayu (pembonang), dan Endang Romiyati (sindhen) belum memeroleh penghargaan. Namun demikian, menurut Muchlas “Tubiest” Hidayat, prestasi ini cukup membanggakan dan memang sesuai dengan kapasitas para pengrawit putri Gunungkidul pada kenyataannya. Tetapi ini bukan akhir: ini laku terus-menerus menjaga kehidupan budaya; seperti ajakannya kepada siapa pun yang mencintai karawitan.

Ke depan, sentilnya, perkembangan karawitan putri Gunungkidul bertumpu pada animo para pengrawit putri untuk ‘menguasai’ instrumen-garap. Potensi para penabuh putri Gunungkidul untuk menguasai instrumen-garap memang berat. Para penabuh putri lulusan sekolah seni pun tidak banyak yang tertarik untuk nabuh, mereka cenderung memilih vokal. Tidak semua lulusan SMKI atau ISI kemudian nyanthol sebagai pengrawit (instrumen-tabuhan), banyak yang nyanthol sebagai sindhen-gerong (vokal). Di konteks umum, tanggapan atau pentas, putri berada pada posisi vokal. Apalagi penguasaan instrumen-garap memang memiliki kesulitan tinggi dan levelnya berbeda, maka seorang penabuh memang harus “mambu” sekolah seni (SMKI atau ISI). Bagi penabuh-putri yang tidak mambu sekolah seni memang berat, hanya satu dua yang mampu, dan itu pun harus nyantrik (bersekolah ke seorang empu namun bukan ber-platform sekolah-seni) lebih dulu.

Seperti yang sudah berjalan, para pengrawit putri Gunungkidul bisa dipetakan dari adanya festival antar desa dan kecamatan tiap tahun. Kelompok di tingkat desa, kecamatan, naik ke tingkat kabupaten. Data yang ia paparkan, komunitas-komunitas karawitan putri di Gunungkidul tetap mengadakan latihan, seminggu sekali atau sebulan sekali, dengan atau tanpa pendampingan dari Dinas Kebudayaan. Meskipun ‘tidak terpantau dan tidak terdampingi’, ada even atau tidak, kata Muchlas berikutnya, komunitas mereka tetap berjalan terus.

Endang Romiyati, Sindhen muda Gunungkidul. Swara/WG.
Endang Romiyati, Sindhen muda Gunungkidul. Swara/WG.

Hal itu merupakan kabar menggembirakan bagi perkembangan karawitan putri Gunungkidul baik perorangan maupun kelompok di waktu-waktu yang akan datang. Tak hanya gegap kala festival tiba.

Toh esok-lusa, ketika gempita festival karawitan putri telah usai, ketika penghargaan kelompok atau pun perorangan telah tercapai atau tak-tergapai, para putri harus kembali menapaki dan menaiki undha-undhan kerawitan (kelembutan) kehidupannya, menjaga nyala ‘api’ mereka sendiri: sebagai seniman-pesindhen, sebagai siswi sekolah seni atau SMA atau SMK atau Perguruan Tinggi, sebagai pedagang, sebagai ‘pegawai-negeri’, sebagai ibu rumah tangga, bahkan sebagai seorang putri yang menghargai kerawitan (kelembutan) budaya leluhurnya dengan berolah-tani. Mereka menghargai kehidupannya dengan mengolah karawitan-tanah dan menanam kelungidan-biji.

Para putri, seperti Nuryani (anggota kontingen karawitan putri Gunungkidul sekaligus petani asal Grogol Karangmojo), wani-wani melakoni hidup. Para putri ‘menggantikan’ peran para putra: para putri nabuh dan nuthuk tanah; para putri menggesek dan ngosok tegalan-sawah; para putri mugut dan memetik buah. Para putri siap menyajikan gendhing-alam nan rawit: para manusia mara-kangen pada tetanah; para-manuk begitu rindu nucuk-nucuk buah membanjiri tegalan-sawah.

Para putri bersuara indah seperti dalam Jineman “Mara Kangen”: Peksi-kresna, toya mijil jumantara; ini musim rindu, deras-air dari angkasa mengucuri tetanah. Para putri celuk-celuk manuk: Kudhandhangan dasihe kedanan ndika; keindahannya digilai oleh tanah-tanah.

Itu lah: para putri menghayati lungid nan rawit-nya lemah. Sementara lemah, adalah karawitan-putri yang tumpah-ruah.

[WG]