Kayu Jati Gunungkidul Miliki Kualitas Tinggi

oleh
Kebun jati di Gunungkidul. doc. KH

Dalam industri perkayuan, Indonesia memiliki berbagai macam kayu keras yang digunakan untuk arsitektur maupun mebelair. Sebut saja Kayu Jati, Kayu Ulin, Kayu Tembesu, Kayu Besi, Kayu Bengkirai, dan lain sebagainya. Jenis kayu tersebut tersebar di berbagai daerah. Di mana salah satu jenis kayu yang sering digunakan oleh masyarakat adalah kayu Jati.

Kayu jati dibanding dengan kayu keras yang lain, meskipun memiliki tekstur yang cukup keras, namun tingkat keawetan sangat tinggi. Bahkan tahan terhadap serangan rayap dan cuaca.

Kayu jati terkenal dan tersebar di wilayah Pulau Jawa. Salah satu wilayah penghasil produk kayu Jati adalah Gunungkidul. Gunungkidul menghasilkan kayu Jati yang berkualitas. Banyak penelitian yang dilakukan. Pernah dilakukan mahasiswa kehutanan Universitas Gajah Mada. Penelitian di hutan rakyat maupun hutan milik UGM menunjukkan, dilihat dari pertumbuhan dan diameter, kayu menunjukkan kualitas tinggi.

Dari segi pembentukan jenis barang, kayu Jati dengan kualitas tinggi cukup mudah untuk dibentuk menjadi suatu barang atau fungsi tertentu. Meskipun jenis kayu lain juga bisa dibentuk, namun mengingat tingkat kerasnya, jenis kayu keras yang lain justru akan merusakkan alat pembentuknya. Sedangkan kayu jati cukup mudah dibentuk.

Selain itu, hasil olahan kayu jati sebagian telah terbukti hingga berusia ratusan tahun, dan masih digunakan sampai hari ini. Hal ini bisa dilihat dari bangunan yang menggunakan kayu jati kuno ratusan tahun masih bisa digunakan hingga saat ini. Banyak pula yang tidak mudah dimakan rayap. Bukti inilah yang memerkuat, bahwa kayu jati sangat kuat digunakan untuk arsitektur dan produk olahan berguna lainnya.

Gunungkidul dengan curah hujan yang tidak cukup banyak sangat cocok untuk pertumbuhan Kayu Jati. Tempat tumbuh kayu yang tandus akan menjadikan pertumbuhan kayu lambat dan menghasilkan serat kayunya padat dan stabil.

Sehingga kualitasnya dipastikan lebih bagus dari kayu jati yang tumbuh di tempat dengan curah hujan tinggi dan tanah yang subur. Sebab, seratnya tidak padat.

Peningkatan Produktivitas Kayu Jati

Kayu Jati dengan kualitas yang baik dibutuhkan waktu tumbuh yang cukup lama. Kualitas dan diameter yang besar dibutuhkan waktu kurang lebih 40 tahun dengan kondisi kering di pohon. Namun demikian untuk kayu jati dengan usia 20 tahunan sudah bisa dipanen dan digunakan untuk bahan bangunan dan mebelair.

Untuk itulah perlu adanya usaha yang dilakukan, baik masyarakat maupun pemerintah daerah.

Pertama, masyarakat memiliki kemauan untuk bertani di daerah Gunungkidul dengan serius. Memiliki anggapan bahwa tanah sendiri juga bisa menghasilkan rejeki yang baik. Sehingga remaja usia produktif tidak perlu berbondong-bondong meninggalkan tanah kelahiran untuk bekerja dengan mata pencaharian tidak jelas. Di daerah bisa dengan menanam Kayu Jati sebagai investasi. Di sela sela waktu menunggu panen Kayu Jati bisa bertani dengan tanaman khas Gunungkidul dengan tanah yang mengandalkan tadah hujan.

Kedua,

Penanaman kayu Jati tidak dilakukan dengan cara konvensional seperti biasa dilakukan masyarakat selama ini. Namun dilakukan secara keilmuan yang baik. Dilakukan perawatan seperti yang dilakukan pada pohon Jati di perkebunan milik pemerintah.

Ketiga,

Perawatan kayu Jati secara modern menggunakan cara-cara yang benar dapat dilakukan dengan cara sosialisasi dan pelatihan pemerintah kepada masyarak bagaimana menanam pohon Jati yang baik. Informasi tersebut dapat memerluas wawasan masyarakat tentang cara bertanam Kayu Jati. Dengan demikian kualitas Kayu Jati dapat meningkat baik.

Upaya-upaya tersebut dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menanam Kayu Jati. Selain itu kualitas KayuJati yang baik akan meningkatkan permintaan masyarakat akan Kayu Jati dari Gunungkidul yang bekualitas. Tentu saja hal ini akan meningkatkan taraf ekonomi masyarkat dan perputaran bisnis yang baik yang terjadi di Gunungkidul.

Tentang Penulis: Ummi Azzura Wijana

Ummi Azzura Wijana
Ibu muda, pengajar di salah satu SMK di Kota Magelang. Aktif dalam berbagai kegiatan kepenulisan. Juga aktif di FPNB dan Sastra Bukit Berbintang sebagai wujud kecintaan terhadap tanah kelahiran Gunungkidul.