Kebermaknaan Hidup Penari Jathilan

oleh
Pentas kesenian jathilan di Gunungkidul. Foto: Wahyu Widayat/Swara.

Setiap orang pada dasarnya menginginkan hidupnya bermakna. Sesiapapun menginginkan dirinya dapat berguna bagi dirinya sendiri, bagi orang lain, serta masyarakat dan lingkungannya. Di sisi lain, perasaan bermakna dan juga migunani tumraping liyan (berdaya guna bagi sesama) secara alamiah dapat memunculkan kebahagiaan pada diri pribadi setiap orang.

Begitu pula para pelaku seni jathilan yang masih penuh semangat berupaya melestarikan tari jathilan juga menginginkan kebermaknaan hidup dalam dirinya pribadi. Taqwin, dalam tugas akhir jenjang sarjana Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga (2012) telah mengeksplorasi bagaimana kebermaknaan hidup pelaku kesenian jathilan.

Penelitian ini dilakukan pada paguyuban kesenian jathilan Satrio Mudho Budhoyo, Blunyahrejo, Karangwaru, Tegalrejo, Yogyakarta, Dengan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode fenomenologi, telah dilakukan pengumpulan data melalui teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan focus group discussion. Kemudian teknik analisis data dilakukan dengan tahap epoche, phenomenological reduction, imaginative variation, dan synthesis.

Hasil riset tersebut menunjukan, bahwa pelaku kesenian jathilan menemukan sumber-sumber kebermaknaan hidup yang dapat teridentifikasi dalam tiga ranah,  yaitu: 1) ranah personal yang mencakup: a. pendalaman catur nilai (nilai kreatif, nilai pengalaman/penghayatan, nilai sikap, dan nilai pengharapan), b. bertindak positif (konteks personal), dan c. pemahaman diri. 2) ranah sosial dan interpersonal, yang mencakup: a, bertindak positif (konteks interpersonal) dan b. pengakraban hubungan. 3) ranah transendental, dalam bentuk spiritualitas pelaku seni jathilan.

Melalui proses indentifikasi, sumber-sumber kebermaknaan hidup tersebut telah terinternalisasi (merasuk) dalam diri pelaku kesenian jathilan, sehingga memunculkan kebebasan berkehendak. Kebebasan berkehendak inilah yang kemudian memunculkan kehendak hidup bermakna, terus memunculkan akan arti hidup dari pelaku kesenian jathilan, sehingga pada akhirnya akan memunculkan kepuasan hidup.

Kepuasan hidup ini terwujud dalam bentuk kebahagian hidup, di mana pelaku kesenian jathilan merasa bahagia sebagai seorang pelaku kesenian jathilan.

****

Referensi: Taqwin, Kebermaknaan Hidup Pelaku Kesenian Jathilan, Tugas Akhir Sarjana Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan Kalijaga, 2012.

 

 

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi, 1970, di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.