Kebon

oleh
Kacang Dawa di Kebon. Swara/WG.
Kacang Dawa di Kebon. Swara/WG.

Turi turi putih, ditandur neng Kebon Agung. Turi turi putih, ditandur neng Kebon Agung. Klaras tiba nyamplung kecubung kembange apa? Mbok ira, mbok ira, mbok ira kembange apa?
Kembang kembang melathi; aku milih kembang melathi. Kembang kembang melathi; aku milih kembang melathi. Aku seneng tindak kang suci sungkem mring Ibu Pertiwi.
[Turi-turi Putih, Nartasabda]

Rumah-rumah tradisional di Gunungkidul, termasuk rumah simbok atau ibu-saya, berada pada suatu ruang yang kanan-kiri depan-belakangnya disebut kebon, pakebonan (bukan bermakna ‘perkebunan’ dalam skala besar-luas yang dibackingi kapital besar). Bangunan rumah para kulawangsa di dusun/desa biasanya berada di tengah-tengah (pancer) pakebonan ini. Ada pula yang berada condong di sebelah depan atau sebelah belakang arah hadap rumah. Keduanya masih satu pola dengan yang depan. Pakebonan, dengan demikian, dan karena ruang tempat tinggal kulawangsa-kulawangsa dusun/desa lazim memiliki pekarangan (alas/utan/ara-ara yang dirambah dijadikan pekarangan-pekarangan baru [karang-anyar]), merupakan ruang yang mewadahi kehadiran sebuah rumah. Rumah ngiseni kebon. Kebon madhahi rumah. Kebon adalah wadah dimana sebuah rumah-tangga (bale-somah) beserta bangunan rumahnya (omah)—bahkan sebuah dusun/desa—tumbuh.

Kebon simbok-saya mengingatkan saya pada cerita tentang kebon surgawi: Taman Eden. Yaitu cerita tentang Kebon-Agung yang beberapa di antara kita sering membaca-bacainya di kitab suci, juga dari lelagon Turi-turi Putih Nartasabdan di atas. Mungkin karena saya ‘hidup’ di bumi maka kemudian Kebon Agung itu (enaknya) saya yakini sebagai Surga-Bumi; Surga Ibu Parwati/Pertiwi. Wangsa Indonesia, sebagai kumpulan ‘terbayang’ atas wangsa-wangsa se-Nusantara, memiliki tradisi Surga-Bumi ini: seorang simbok/ibu yang elok rupawan dan amat dipundhi oleh anaknya: Garud(ey)a. Ibu Pertiwi (selalu) dicoba dimerdekakan oleh sang anak. Tradisi Celtik atau Irlandia juga memiliki keyakinan bahwa surga berada di bumi. Kebun-surga mengabarkan tentang tumbuhnya pohon pengetahuan yang baik dan pohon pengetahuan yang ‘jahat’. Beraneka tumbuhan khas hidup di dalamnya. Bagi yang tinggal, tinggal menunggu buahnya matang atau gogrok dari pohonnya yang tinggi-tinggi. Kahyangan (tempat ketinggian; seperti beberapa kali para anak kulawangsa Gunungkidul yang lunga-paran menyebut wilayah-ibu Gunungkidul ketika mereka menunjuknya, merujuk pada makna tempat yang tinggi: tempat Sang Ibu mungguh), adalah tempat para leluhur mengajari bagaimana mengembangkan budaya bercocok tanam di kebon. Leluhur mengajarkannya di waktu purwa. Leluhur saya yang telah meninggal-dunia (jenat; dianggap mencapai tataran tinggi) disebut tinggal di alam kaswargan; ariloka, swargaloka; di alam ketinggian.

Di bawah cungkup, di suatu punthuk. Di sebuah pundhen.

Bentuk material susu (serupa punthuk/pundhen, salah satu gambaran ‘realitas’ kesurgaan) yang memancurkan intisari kehidupan bisa saya sejajarkan fungsinya dengan santen, yaitu susunya jagad yang berasal dari intisari buah kelapa (klapa, kalpa, yang bentuknya serupa susu pula; fase-kelapa yang biasanya digunakan untuk melambangkan ranumnya bentuk susu adalah cengkir) dan susu hewaniah yang berasal dari hewan ingon-ingon. Perwalian material atas kebon surgawi yang berbentuk susu-kehidupan bagi kehidupan harian simbok-saya di dusun adalah intisari buah kelapa: santen. Bisa dikatakan hampir setiap hari simbok saya olah-olah jejanganan (sayuran) berbahan santen; jangan-lombok yang paling saya suka. Lodheh berikutnya. Santen umum digunakan sebagai bahan-dasar (raw-material) pembuatan ubarampe berupa olahan makanan untuk keperluan ritus-sakral tertentu, misal: jadah-lemper untuk mantenan, jangan-lombok untuk rasulan, sega-gurih untuk slametan, apem untuk ariyadi, dan sebagainya. Dan, tentu, simbok-saya di kebon memiliki pohon kelapa sebagai turunan pohon kalpa di ‘realitas’ Kebon Agung/Surga itu, yang berdekatan dengan domestifikasi hewan di kandhang: sapi, wedhus, serta ayam.

Kebon Agung surgawi pun diturunkan. Kebon surgawi dikecilkan. Kebon Surga mewujud kebon simbok-saya.

Kebon Agung surgawiah yang telah mewijil kebon simbok-saya, secara etimologi berasal (baca: berlingga, berdasar) dari lingga/akar {ibu}, {ka-} + {ibu} + {-an}, yaitu rahim tetanah yang melahirkan dan menumbuh-suburkan, atau {empu}, yaitu berbagai jenis akar-akaran jae atau kunir yang bertubuh besar (perempuan). Kebon adalah perempuan (siti) yang melahirkan. Kebon berupa ruang yang asri (tak melenceng jauh jika diri Gunungkidul diwakili oleh salah satu konsep ruang: wana yang sari; di dalamnya, diri Gunungkidul, tentu dapat tumbuh segala tumbuhan dan hewan yang dilahirkan oleh si ibu atau empu Gunungkidul; para akar/oyod kehidupan). Simbok menanam empon-emponan (akar-akaran) seperti jahe, laos, dan kunir untuk bumbon dan usada (jamu) harian, di dekat brubuh sisi utara; dekat papringan. Pring atau bambu pun rasa-rasanya tanaman surgawi, terlebih bagi para kulawangsa di padhusunan seperti simbok-saya yang amat menggantungkan kehidupannya pada pring. Papringan di kebon simbok-saya dipanen tiap beberapa tahun sekali, untuk jagan pembuatan reng dan tali-temali harian: golek-pakan, ngerit suket, panen kacang-dhele-pari, dll. Pohon pete tak ketinggalan ditanam simbok-saya. Ada juga mangga, timoho, kepel, rambutan, jeruk, dan sawo.

Musim hujan (yang panjang) ini simbok menanam tela pendhem, uwi, dan pohung. Sementara jejanganan-nya: bayem, (le)mbayung, (e)lung, kacang-dawa. Wijen. Sledri. Lombok rutin ditanam tiap musim hujan. Kates/pepaya (ini kates tuwuhan, atau mungkin dulu simbok pernah nyebar biji kates di kebon, kemudian thukul dengan sendirinya). Pohon pisang selalu ada di kebon-simbok: pisang saba (kepok). Pisang saba memang saba (biasa menempati) kebonan di dusun. Pisang saba pisang endemik. Berbeda dengan pisang-raja (musaceae), jarang ditemukan di sekitar dusun saya. Memang, saya condong ke penafsiran bahwa kebon simbok-saya (dan kebon Anda atau kebon simbok-Anda) pada dasarnya mereplika bentuk kebon surgawi yang di dalamnya dapat ditemukan tanaman surgawi model Sang Musa (pisang-raja) dan familinya. Di dalam Eden ada bejana (kendhil, kwali), ada pohon kelapa, dan ada pohon pisang. Mengolah makanan dengan teknologi ini, sangat nikmat. Amat sehat.

Kebon para simbok menghasilkan tanaman pangan yang cenderung sehat dibanding tanaman ‘perkebunan’ yang pada saat tertentu dibeli oleh simbok sebagai variasi. Kebon, dalam bahasa organisme, tentu lebih organik sifatnya karena tak melulu untuk memenuhi kebutuhan pasar yang asal cepat, murah, dan berkualitas rendah. Berbeda pula dengan beberapa sayuran yang dibeli simbok ke pedagang sayur keliling (Si Pedagang ngonthel; kulakan sayur-mayur di Pasar Argasari sekitar jam 3 dini hari) yang tampaknya digege dan diobati, jejanganan di kebonan lebih sehat. Minimal, kebon dirabok pupuk organik dari kandhang sapi dan wedhusnya simbok. Terlebih jejanganan yang gumandhul (pala gantung) dan pinendhem (pala pendhem) tentu lebih sehat lagi dan bisa digunakan untuk terapi kesehatan para kulawangsa. Selain untuk kesehatan, pohon-pohon berguna untuk keindahan (asri, sari).

Barangkali kebon simbok-saya bisa disamakan dengan pertamanan yang asri.

Kebon simbok-saya tak lain tak bukan adalah bentuk lain tamannya para putri di kerajaan/istana, atau para dewi di kahyangan. Yah, sebenarnya jauh, tapi Patamanan, dilihat polanya, yang sering diwakili oleh presentasi bunga-bungaan dan buah-buahan, menunjukkan bahwa dirinya merupakan penghiburan bagi sang putri. Bunga dan buah mewakili diri dan seksualitas putri. Dengan keranuman dan indahnya bunga-bunga. Kebon simbok saya hampir mirip, karena ia adalah simbok bukan seorang putri, kebon banyak berisi jejanganan/sayur mayur (di dalamnya juga termasuk sayur buah-buahan). Kebon ya patamanan bagi simbok-saya. Sedikit bunga yang ia tanam, di depan pojok kanan rumah. Simbok saya, kalau sedang suntuk, dengan melakukan suatu pekerjaan di kebon mbuh itu nyapu atau dhudhuh atau nandur atau nyiram atau yang lain, hilang suntuknya.

Kebon simbok-saya yang tumbuh subur pepohonan di dalamnya adalah habitat hewan seperti burung. Burung pakebonan sering ngoceh di pagi hari; mengiringi aktifitas pagi simbok-saya. Di jeda aktifitasnya, tak ketinggalan simbok menyiapkan gelas-teko untuk wedangan. Wedangan menjadi ritual surgawi wajib di sela-sela kerja simbok saya di pakebonan. Segala bentuk kriya di kebon biasanya disambi menyelesaikan bentuk kriya lain yang berhubungan dengan kriya rumah tangga. Batas antara kriya kebon dan kriya rumah tangga memang tipis. Energi pemompa kerja keduanya ya wedangan. Wedang, tanpa ada bagian secuil pun yang lewat, adalah pengejok energi tubuh secara kimiawi (prinsip dasar alkimia: jak-jok atau tombah-tembeh wedang-panas yang merupakan persenyawaan sari pati kehidupan, saya sejajarkan dengan prinsip dasar di mitologi atau biologi tumbuhan lewat daun, batang, biji, bunga, buah-kering, dan akarnya yang ‘dipanaskan’ agar tumbuh). Yang bekerja di kebon menjadi hidup. Jadi melek. Prinsip dasar wedangan mirip dengan prinsip dasar kala simbok-saya olah-olah atau mangsak bahan-bahan dari kebon.

Pada pokoknya: palawija, palagantung, palapendhem, palakirna, serta bunga semua ada di kebon. Semua ditanam. Semua thukul. Semua tumbuh.

Sebagaimana kebon yang mengelilingi rumah membentuk konstruksi mandala, brubuh (pager; pagar) pun mengelilingi kebon simbok-saya. Ini merupakan turunan pagar seperti yang diceritakan di surga: kandhang. Kandhang berpagar. Tepi kebon simbok-saya yang dhempet (adu-oyod) dengan jalan atau kebon milik rumah tangga lain ditandai dengan batas pagar brubuh, pagar hidup. Ada juga rumah tangga yang memberi tanda batas antar kebon dengan pagar mati, yang sebenarnya berasal dari yang hidup, seperti bethek (pagar dari bahan bambu atau kayu). Di Gunungkidul, batas antar kebon lazim berbentuk kombinasi antara beteng watu gamping dan brubuh. Brubuh berupa tumbuh-tumbuhan dan bunga-bungaan, yang fungsinya bisa sebagai batas antar kebon atau rumah-tangga sekaligus berguna untuk pangan (manusia dan hewan) atau bernilai ekonomi.

Jika suatu saat simbok saya disibukkan dengan acara jagong atau rewang atau yang lain dan tak sempat golek-pakan ke alas-tegalan tempat rerumputan hidup karena beberapa apologi seperti kesoren atau keburu hujan, maka simbok saya ngamuki dedaunan mandhing, kancu (trikancu?), nangka, mahoni, dll., yang pohonnya hidup di tepi kebon sebagai brubuh itu. Aksi simbok saya seperti perang-brubuh di adegan pewayangan: amuk-amukan bekejaran dengan waktu. Perang-brubuh, dalam hal ini saya tujukan bagi simbok saya yang ngamuk dedaunan di brubuh hingga banyak daun-mudanya yang kepecok dan mati (muda), meski brubuhnya milik sendiri bukan brubuh tetangga, memang merupakan simbol mencegah keinginan/kehendak yang membabi buta: ingin sesuatu segera selesai tergesa. Para yang tumbuh mati tak peduli. Ingin hewan piaraan tak bengak-bengok minta jatah ijo-ijonan. Jika kadang-kadang saya membantu ngopeki pakan di brubuh, oleh simbok saya diwanti-wanti agar tak amuk-amukan mecoki daun yang masih muda. Brubuh sebagai batas kebon mau tak mau nyandhet (mencegah) si empunya kebon untuk tak ngamuk (agar tetap semi) dan tak ngrabasa atau ekspansi ke brubuh atau bahkan kebon rumah tangga yang lain. Saking tipisnya batas bahwa suatu brubuh itu milik simbok saya atau milik tetangga simbok-saya, tanaman/tumbuhan yang hidup di wilayah brubuh menjadi kabur: milik bersama atau dua-duanya tak ada yang (merasa) memiliki.

Oleh karena itu barangkali, brubuh (brebah, berbah) menjadi memiliki makna ‘bersama-sama’. Brubuh adalah batas bersama antara dua-tiga kebon atau rumah tangga. Brubuh adalah milik bersama dua pakebonan. Brubuh disokong batu, bambu, kekayuan, lazimnya berupa pagar-hidup berupa tumbuhan beraneka yang bersama-sama membentuk suatu pagar atau beteng atau batas. Brubuh yang bersama-sama membatasi pakebonan dan kadang menjadi milik bersama dua rumah-tangga nyegah apa yang berada di tetanah kebon suatu rumah-tangga agar tak dianggap milik bersama dengan rumah tangga lain.

Sering simbok saya kala akan njangan gori dan tak punya gori yang nedheng-nedhenge bisa diolah, simbok lantas nglumpati brubuh nuju ke kebon tetangga untuk meminta gori; tentu dengan meminta ijin terlebih dulu kepada empunya. Begitu juga sebaliknya, ketika tetangga simbok-saya akan ngoseng-oseng kates dan dhong so dan kebetulan di kebon simbok-saya keduanya banyak tersedia, maka si tetangga atas persetujuan simbok-saya bisa langsung ngopek seperlunya. Gori, yang setelah dionceki dan dirajang jadi banyak, berbentuk irisan-irisan, kadang dibagi-bagi ke beberapa rumah tangga untuk diolah bersama.

Bahkan cacahan-gori bisa melebar hingga berbeda rukun-warga (RW). Hingga beda dusun. Lain desa. Palemahan bekas rumah simbah saya di dusun lain, oleh simbok juga disebut kebon. Ditanami padi, kacang, jagung, ketela, layaknya tegalan-tegalan lain di Gunungkidul. Di sana juga tersedia beberapa jenis dedaunan dan jejanganan.

Lantas definisi kebon pun ikut meluas. Wilayah pakebonan semakin melebar, tak hanya kebon di kanan-kiri rumah simbok-saya. Kebon menjelma agung (ageng). Eh, simbok-saya pun bertiwikrama. Membesar. Melebar. Simbok-saya bertubuh wana-giri (hutan-gunung); simbok berbadan wana-arga (gunung-hutan). Simbok yang tadinya hanya kebon di kanan-kiri rumah menjadi kebon yang hutan, yang tegalan, yang pasawahan, dan yang pekarangan-pekarangan luas. Simbok-saya adalah ara-ara (baran: padang-luas). Batas kebon mengabur: kebon tingkat RT dengan kebon di luar RT. Sungai, tegal, gunung, hutan, goa, dan seterusnya, pada mulanya adalah bagian dari tubuh Kebon Agung, Kebon Bumi. Dengan itu, kebon bergerak kembali ke siapa kebon itu sesungguhnya. Pekarangan-pekarangan baru (karanganyar) tumbuh. Di sekelilingnya pohon-pohon besar pating krembyah dedaunnya (rongkob). Kemudian, pohon-pohon berubah menjadi dusun. Dan desa. Oleh para kulawangsa dusun/desa sesayuran, tetanduran, pepohonan, ditanam di tegalan. Di sawah. Pohon-pohon khas ditandur di pereng gunung. Ditumbuhkan di atas goa. Di atas punthuk dan gluthikan. Tumbuh di tuk/sumber. Di Kali. Di rahim tetanah berbatu.

Kebon Gunungkidul yang asri, wana-agri/wana-arga/wanagiri yang sari, Wanasari titik pusatnya. Gunungkidul adalah gunung-wana wana-gunung yang berpagar, berbatur; gunung yang wangi bunga (girisekar); bunga gunung (wanakusuma). Kebon Agung Gunungkidul dipagari bebatur/batur Agung: Gunung Batur (sisi selatan) dan Pegunungan Batur Agung (sisi utara).

Bagaimanapun, kebon itu ke-ibu-an; hal-hal yang berhubungan dengan tanah/rahim Gunungkidul adalah Ibu Gunungkidul. Kebon melahirkan para anak, para tetumbuh. Para kulawangsa. Paradesa, paradusun. Sementara itu para Ayah (tokoh Gunungkidulan) membantu keperanan Si Ibu ini: mengembangkan budaya di atas tanahnya. Ada beberapa taru yang lebih rindang dibanding yang lain. Ada beberapa tokoh yang lebih monjo dibanding tokoh lain. Berbagai jenis pohon tepung adu oyod (berdempetan) dan tumbuh, beserta akarnya. Sulur-suluran pating sluwir (keindahan kebon adalah kalangenan ornamentatif, sebagai stimulan munculnya produk-produk budaya tinggi, seperti digambarkan di naskah-naskah kuno Nusantara), ornamen tumbuhan menyulur: suruh, bligo, kacang dawa, dll. Pohon-pohon besar tergerai rambutnya (ngrongkob) hampir menyentuh tanah. Beberapa di antaranya adalah pohon-pohon yang biasa ditemukan di kebon-kebon di dusun/ desa: kepel, klumpit, beji, bulu, kepoh, preh, ngunut, jambu, kemlandhingan, kemulwa, kesambi, mahoni, jati, sengon, nangka, timaha, pule, dst. Empon-empon yang umum ditemukan di pakebonan di Gunungkidul di antaranya: kunci, lempuyang, temupoh, temuireng, temugiring, dll. Palapendhem dan palakirna tak ketinggalan: gembili, uwi, tela rambat, pohung, kimpul, tales, lompong, dll.

Para taru, para empon, dan para wreksa menghuni Kebon Agung Gunungkidul; menjaga tanahnya. Para taru dan wreksa adalah lambang cikal-bakal para kulawangsa. Adalah tubuh. Adalah brubuh. Adalah pagar kehidupan. Para taru, yang adalah lambang para cikal-bakal, dihormati. Diupacarai.

Mereka menjelma nama-diri desa: paradesa, desa-purwa.

Beberapa di antara kebon Gunungkidul yang menjelma paradesa itu, sebagai pagar Ibu Gunungkidul di sisi selatan, di Saptasari (baca: tujuh desa yang sari/indah), yang merupakan salah satu nama paradesa (desa-kuno), adalah Kanigara. Ia, kanigara, pohon tepi segara. Nama bunganya tarnigara. Kanigara merupakan kekayuan yang kokoh. Kemudian oleh para leluhur kulawangsa Jawa kanigara diabadikan sebagai nama gendhing. Cara berfikir kulawangsa Gunungkidul (dan wangsa pegunungan kapur hingga ke Panaraga sana) oleh kulawangsa Jawa dilambangkan dengan ikat-kepala bercorak kanigara, yaitu iket/kuluk yang di tengahnya terdapat plipis bercabang dan berwarna keemasan, bak kilau segara memantulkan cahaya matahari. Selain kanigara, di kebon Saptasari juga tumbuh desa Krambil-Sawit, Kepek (kara yang muda), dan Monggol (kepel saponggol, satu kepal).

Kebon yang cukup luas di sisi timur Gunungkidul, di Kecamatan Rongkop (rongkob?), tumbuh desa Bohol (ara-ara jembar, padang yang luas). Nama kecamatan Rongkob menggambarkan kondisi suatu pohon yang pating klembrah daun dan rantingnya, atau akarnya yang menggantung. Di kebon Rongkop juga tumbuh Karangwuni (wuni: merica yang kecut), Melikan (suatu jenis rumput tertentu), Pringamba (areal kebun bambu yang luas), Baran (pekarangan/tegalan/ara-ara yang luas), dan Pucanganom (pohon pucang muda).

Alih-ubah pekarangan (kebon) dari kebon yang berbentuk ara-ara (pekarangan ‘liar’ yang luas) menjadi kebon di kanan-kiri hunian manusia pada level yang lebih sempit juga ditemukan pada nama desa di Tanjungsari: Banjarejo. Banjar tak lain adalah pekarangan. Banjarejo mungkin bisa diinterpretasikan sebagai pekarangan yang reja, makmur. Selain Banjarejo, di Tanjungsari juga tumbuh Desa Kemiri, yaitu merujuk pada pohon kemiri seperti yang ada di pojok timur-selatan kebon simbok-saya. Pathuk juga memiliki nama desa yang rasanya merujuk pada makna referensial ara-ara luas, seperti makna baran, yaitu Desa Ngara-ara. Selain itu, di Pathuk tumbuh nama desa yang berhubungan dengan pohon beji (Desa Beji) dan pohon salam (Desa Salam). Sangat mungkin ketika suatu kulawangsa yang menempati suatu kebon-agung menamai desanya dengan sifat aksinya, misalnya ‘pemekaran’, seperti desa yang tumbuh di wilayah Semin, yaitu Desa Mejing. Penamaan paradesa Mejing lebih berasa bahwa ini adalah pemekaran hunian para kulawangsa Semin dengan kerja merambah/membuka wilayah di luar wilayah desa menjadi pekarangan baru. Desa Karangsari di Semin mencerminkan pekarangan baru yang sari, yang indah. Konsep sari sering digunakan oleh para leluhur untuk sesuatu yang ‘arealis’, bermakna pengharapan atau cita-cita luhur, bahwa sesuatu yang lahir sebagai ‘yang baru’ diharapkan meraih titik estetis-filosofis: keindahan yang makmurake. Desa Pundhungsari  pun demikian,  dan berpusat pada pohon pundhung. Sementara itu Desa Bulurejo secara epistemologis juga hendak meraih kemakmuran dengan berpusat pada pohon bulu: pohon sakral di dalamnya.

Pohon bulu dan pohon beji merupakan dua di antara pohon-pohon khas-sakral yang banyak tumbuh di kebon-kebon di Gunungkidul dan digunakan sebagai dasar epistemologis penamaan suatu dusun/desa. Keduanya lazim bersatu-padu dengan keberadaan suatu sumber-air (tuk, sendhang, dll.). Para manusia unggul—manusia suci, para kawi, memilih tinggal di mana sumber air kehidupan mungguh. Wilayah dimana sumber-air berada diasumsikan (dan kenyataannya demikian) sangat subur sehingga kulawangsa yang hidup bisa raharja kehidupannya. Ngawen (mungkin berasal dari lingga kawi, yaitu para manusia unggul sastrawi) mempunyai Desa Beji (pohon beji) dan Desa Sambirejo (pohon kesambi). Alas Wanasa(n)di, di wilayah Beji, mengabarkan seorang tokoh ‘petani’ bernama Simbah Onggoloco (Anggaloco) mengajarkan berkebun (bertani) di sekitar wilayah Ngawen. Mbah Onggoloco—secara mitologis—berkolaborasi dengan simbol Kebon Agung Hutan Wanasa(n)di: Simbok Gadhung Mlathi. Beji, yang merujuk pada sebuah pohon sekaligus sebuah sumber-air, maka dari itu merupakan salah satu roh kebon Ngawen dan sekitarnya.

Desa Bejiharjo (beji dan harja) di Karangmojo tak bisa tidak dihubungkan dengan beji yang bermakna ‘pohon’ dan ‘sumber-air’ itu. Bejiharjo adalah wilayah beji yang makmur. Pohon gedhang, tertera jelas sebagai nama diri kecamatan Gedhangsari, merupakan pusat pengharapan kemakmuran (reja): Gedhangrejo. Pohon serut (Desa Serut di Gedhangsari) dan pohon kelor serta pohon jati (Desa Kelor dan Desa Jati Ayu di Karangmojo) menjadi titik pusat penamaan desa. Tampak jelas bahwa titik-pusat penamaan suatu desa secara ngegla (literer)—khususnya di Jawa adalah nama pohon yang dianggap paling dominan di suatu pekarangan lama (hutan atau ara-ara). Desa Karangmojo (karang dan maja) yang sekaligus nama Kecamatan Karangmojo tentu berpusat pada pohon maja; bertokoh Suramejo (sura: ksatria, maja: pohon maja) di Pongangan. Karangmojo, pertama, adalah pekarangan tempat pohon maja tumbuh, atau kedua, tafsir saya, adalah metafor atau tepatnya personifikasi (semacam sesinglon, bahasa tersembunyi untuk ‘memanusiakan’) bagi tumbuh-kembangnya kulawangsa Maja-hutan, yaitu kulawangsa Majalengka atau Majapahit yang menepi di wilayah kebon-agung yang disebut Karangmojo. Kulawangsa/trah yang tinggal di hutan ini pada akhirnya dikenal dengan nama wangsa Suramejo (Karangmojo) dan Wanakusuma (Wanantara, Gedhangsari). Suramejo dan Wanakusuma adalah penokohan ‘majapahitan’ yang memimpin kulawangsanya membuka hutan dan mengolah tanah tegalan (alas) untuk perkebunan/pertanian, bahkan liberasi (pemerdekaan) dari cengkeraman pangrabasan kekuasaan yang berasal dari luar kebon-agung Gunungkidul.

Trah Wanakusuma (wana: hutan, tegalan; kusuma: bunga, yang wangi) banyak disebut sebagai wangsa yang mengembangkan budaya pertanian di kebon-agung Gunungkidul. Di Paliyan, nama Desa Sada mengindikasikan peran tokoh ini: sada, ligan pada daun kelapa/blarak. Tentu ini adalah bagian pohon kalpa atau kelapa. Di Paliyan juga tumbuh pekarangan baru hasil babad hutan yang berpusat pada nama pepohonan yaitu Desa Karang Dhuwet (pohon dhuwet), Karang Asem (pohon asem), dan Grogol (pohon grogol).

Sebuah wilayah hutan di Playen, Alas Lo, di Logandheng, saya tafsirkan berhubungan dengan nama tumbuhan yang sentral di dalamnya, yaitu maja atau logondhang. Alas Lo, seperti halnya Alas Nangka Dhoyong, adalah kebon-agung semacam Wanasa(n)di dan Wana(n)tara yang melahirkan ‘sejarah’ (babad) salah satu brayat/kulawangsa agung di Gunungkidul. Alas Lo adalah paralambang alasnya Wangsa Logondhang atau Wangsa Maja (maja-hutan). Logondhang adalah wilaja atau maja hutan. Wilaja tak lain adalah simbar, rambut di dada yang rimbun, yang lebat. Sangat pas untuk pasemon sebuah hutan (kebon) yang lebat pepohonannya. Wangsa yang berkuasa dan mengembangkan budaya di kanan-kirinya adalah Wangsa Majapahitan; Majalengka: berkolaborasi dengan simbolisasi hutan yang diwakili Rara Kuning (pangreksa hutan). Penokohan Mangun Kartika dan Mbok Rara Kuning melambangkan para penjaga kebon Agung yang disebut Siyono dan sekitarnya. Sementara itu para pangreksa kebon Playen yang lain di antaranya: Bleber (pentil jambe), Gadhing (pohon pring gadhing), dan Ngunut (pohon, wit, kayu).

Di wilayah Wonosari, pohon yang ikut berperan penting mengembangkan paradesa tentu saja pohon nangka. Para tokoh kulawangsa Maja yang berasal dari Nglipar (Demang Damar) dan Semanu (Rara Sudarmi), berkolaborasi dengan pangreksa Hutan Nangka Dhoyong: Simbok Gadhung Mlathi, bersama-sama menumbuh-kembangkan kebon-agung yang disebut Wonosari (wana yang sari). Kebon Wonosari identik dengan tumbuhan nangka sebagai pusatnya. Meski demikian, ada beberapa nama pohon lain yang digunakan sebagai pusat penamaan desa: Dhuwet (pohon dhuwet) dan Kepek (kara yang masih muda).

Tumbuhnya suatu desa saya samakan dengan tumbuhnya suatu pohon di tengah desa yang sebelumnya berupa wilayah kebon/alas/hutan/ara-ara. Di Tepus, pohon tepus ditempatkan sebagai nama diri; pusat diri. Desa Sumber Wungu menempatkan tumbuhnya pohon wungu sebagai permodelan tumbuhnya kulawangsa di sana. Di kebon Semanu tumbuh Desa Pacarejo (pohon pacar) dan Dhadhapayu (pohon dhadhap). Di Kebon Agung Ponjong tumbuh Desa Gombang (sejenis pohon waru), Desa Karangasem (pohon asem di suatu pekarangan), dan Klumpit (pohon klumpit). Sementara itu di wilayah Nglipar tumbuh Desa Pilangrejo (pohon pilang) dan Desa Kedhungpoh (empon-emponan temu-poh).

Karena Kebon Agung Gunungkidul adalah pegunungan, atau disebut demikian karena berupa gunung-gunung di sisi selatan (dilihat dari arah Mataram-Demak-Pajang), maka tumbuhnya desa-desa menempati ruang yang banyak di antaranya berada di atas gunung-gunung (giri/arga/redi/ardi) selain yang berada di ledhokan atau ceruk yang banyak ditemukan sumber air (Balong, Girisuba). Di gunung-gunung di Girisuba tumbuh Desa Jeruk Wudel (pohon jeruk) dan Desa Pucung (pohon kluwak). Di Panggang tumbuh Desa Giri Wungu (wungu adalah nama pohon dan kembangnya) dan Desa Giri Sekar (sekar adalah bunga). Dan di Purwasari tumbuh Desa Girijati (pohon jati).

Empon di Kebon. Swara/WG.
Sejenis Empon-emponan di Kebon. Swara/WG.

Kebon simbok-saya yang bergunung-gunung dan berpusat pada jati, pada klapa, pada gedhang, pada empon-empon, pada klumpit, pada bulu, pada pring, pada jambe, pada pule, pada dhuwet, pada asem, pada beji, pada wungu, pada maja, pada nangka, dan pada pepohonan lain yang berdesakan-berhimpitan jumlahnya di atas itu merupakan himpunan bagian tak terpisahkan dari kebon dusun yang membentuk kebon desa yang membentuk kebon kecamatan yang membentuk kebon kabupaten, hingga demikian seterusnya, serta ikut berperan penting sebagai landasan berfikir serta pusat ‘proses-kemenjadian’ kebon kebonnya kebon simbok-saya terutama omah dan kulawangsanya yang hidup-berkembang di tengahnya yang disebut Kebon Agung Gunungkidul itu.

Meski hingga kini, banyak di antara kebon-kebon di Gunungkidul jadi incaran. Oleh para anak, ingin keduman warisan. Oleh para (kula)wangsa lain, hendak menyicipi—atau ‘menguasai’ karaharjan. Memang, kebon ibarat Si Perempuan yang seksi, kuning nemu giring kulitnya (empon-emponan). Ngrembuyung dedaunnya. Pating krongkob akarnya. Kebon Agung hayu nan indah. Nan subur. Yaitu kebonnya Si Simbok, Si Ibu. Para anak dan para wangsa ingin menguasai kebon, menyusunya. Menyetubuhinya. Dengan nglumpati dan nerak-nrabas brubuh. Tanpa idi. Kemudian, yang terjadi adalah peperangan. Perang-brubuh (perang amuk-amukan) harus hadir kembali. Harus berulang. Abadi. Ndhak keburu hujan. Kaselak hewan-hewan Si Simbok pating-bengok meminta jatah makan gegodhongan dan woh-wohan. Brubuh Alengka, brubuh Astina, brubuh Majalengka, brubuh Mataram, brubuh Wanagiri (Wana-sari), brubuh Wana(n)tara, telah selaras dengan lakunya jantra. Tetumbuh dan tubuh-tubuh yang tumbuh, lantas pada rubuh.

Kebon-kebon direbutkan. Tanah Ibu diributkan. Para empuan (empon) dilupakan.

Sendiri di kebonnya, simbok-saya tetap cincing: siaga aperang-brubuh.

Iring-iring peperenging ardi, tuwuh empon-empon, amepeki wana saanane, sunthi kencur jae lawan kunci, bengle lempuyang prit, myang lempuyang kapur. 
[Mijil, Wanagiri, Pigeaud]

[oleh: WG]