Kenali Perbedaan Demam Berdarah dengan Malaria

oleh
Perbedaan malaria dan dbd. Dok: health1.id.
Perbedaan malaria dan dbd. Dok: health1.id.

Malaria dan demam berdarah dengue (DBD) merupakan jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Nyamuk memang merupakan hewan yang dapat dengan mudah menyebarkan penyakit, bahkan hanya dalam satu kali gigitan.

Namun jelas ada yang berbeda dari malaria dan demam berdarah. Meski sama-sama disebabkan oleh nyamuk, jenis nyamuk penyebab malaria dan demam berdrah berasal dari jenis yang berbeda. DBD ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti sedangkan malaria ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina.

Nyamuk Aedes Aegypti berkembang di air bersih, berbeda dengan nyamuk Anopheles yang lebih menempati air kotor. Aedes Aegypti membawa virus dengue yang kemudian ditularkan ke manusia melalui gigitannya, sementara Anopheles membawa parasit yang masuk ke peredaran darah menuju sel-sel hati dan kemudian menyerang sistem tubuh.

Inilah yang menyebabkan gejala penyakit yang timbul pada pasien malaria dan DBD juga berbeda. Demam berdarah menyerang manusia secara mendadak dan dalam waktu lama, sementara pasien malaria menunjukkan waktu gejala yang jauh lebih pendek.

Penyebab

Menurut penjelasan dr. Yenti Puspita Sari, General Practitioner dari RSUS Siloam Karawaci ada beberapa perbedaan dalam gejala malaria dan DBD meskipun sedikit sulit untuk membedakan sifat demamnya terlebih jika demam baru dirasakan selama dua hari.

Gejala DBD biasanya diikuti dengan demam tinggi yang berlangsung selama 2-7 hari, nyeri di bagian otot, muncul tanda-tanda pendarahan seperti bintik-bintik di kulit dan bahkan timbul mimisan atau gusi berdarah.

“Sementara gejala pada malaria biasanya tergantung jenis parasit penyebabnya. Ada malaria tertiana yang ditandai demam periodik 3 hari sekali, kemudian malaria kuartana 4 hari sekali dan tropikana yang ditandai dengan demam secara terus menerus. Demam diawali dengan fase menggigil, kemudian demam lalu berkeringat. Kemudian disertai juga nyeri otot, mual dan muntah,” papar dr. Yenti.

Selain itu, riwayat pasien juga harus diperiksa terlebih dahulu, Malaria biasanya terjadi di daerah-daerah endemis, maka jika pasien memang baru saja datang dari daerah endemis, dokterpun akan cenderung mendiagnosisnya ke arah penyakit malaria. Sementara jika pasien tidak pernah ke daerah endemis, maka diagnosis awal dari dokter ialah pasien terserang demam berdarah. Pemeriksaan laboratorium juga diperlukan untuk menentukan apakah pasien menderita malaria atau DBD.

Lebih lanjut dr. Yenti juga menyarankan, jika demam sudah berlangsung lebih dari 3 hari agar segera dibawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis.

“Kalau demam baru berlangsung selama 1-3 hari bisa dirawat di rumah dulu dan diberikan paracetamol. Jangan lupa untuk minum yang banyak serta tetap menjaga asupan makanan. Namun jika demam sudah lebih dari 3 hari dan tidak bisa masuk makanan atau minuman, maka harus segera dibawa ke dokter untuk menghindari kekurangan cairan,” pungkas dr. Yenti.

Selalu waspada jika Anda atau buah hati mengalami demam tinggi yang tak kunjung turun selama lebih dari 3 hari. Pastikan juga untuk sering memakai lotion anti nyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Anopheles yang dapat menularkan penyakit. Jaga juga lingkungan rumah Anda tetap bersih agar selalu sehat dan terhindari dari serangan penyakit.

***

Sumber: health1.id

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya