Kenali Perbedaan Sapi PO, Simmetal, dan Brahman

oleh
Berbagai jenis sapi di Pasar Hewan Siyonoharjo Wonosari. Dok: youtube

Meski kondisi geografisnya relatif kering, wilayah Kabupaten Gunungkidul tetap dikenal sebagai lumbung ternak bagi Provinsi DIY. Ternak yang paling dominan diusahakan oleh masyarakat adalah ternak sapi. Hampir setiap rumah tangga perdesaan di Gunungkidul memelihara ternak sapi.

Ada berbagai jenis ternak sapi yang dipelihara masyarakat Gunungkidul. Seperti sapi Jawa putih, sapi Jawa peranakan yang sering disebut PO (Peranakan Ongole), sapi merah bata belang Simmetal, maupun sapi coklat Limousine. Pilihan jenis ternak sapi sangat bergantung pada minat atau kesukaan masyarakat terhadap keunggulan masing-masing jenis sapi tersebut, karena hewan ternak ini juga menjadi “kelangenan” bagi pemiliknya.

Berikut dipaparkan perbedaan dan kelebihan masing-masing jenis sapi antara PO (Peranakan Ongole), Simmetal, dan Brahman. Ketiga jenis sapi yang sangat populer di tengah masyarakat pemelihara ternak di Gunungkidul ini.

Peranakan Ongole (PO)

Pada tahun 1906, Pemerintah Hindia Belanda mendatangkan Sapi Ongole langsung dari Madras India ke Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur. Selanjutnya tahun 1916, Sapi Ongole yang sudah berkembang biak di Sumba mulai menyebar ke tempat-tempat lain di Indonesia dengan sebutan Sumba Ongole (SO).

Pada tahun 1930-an, Pemerintah Hindia-Belanda dengan kebijakan di bidang pertenakan yang disebut ongolisasi mengawinsilangkan sapi SO dengan sapi Jawa, untuk memperbaiki ukuran dan bobot badan sehingga lahirlah sapi Peranakan Ongole (PO).

Sapi peranakan ongole memiliki bulu berwarna putih atau kelabu, bentuk kepala pendek melengkung, telinga panjang menggantung, dan perut agak besar. Pada sapi PO jantan, kadang dijumpai bercak-bercak berwarna hitam pada lututnya, mata besar  terang, dan dilingkari kulit berjarak sekitar 1 cm dari mata berwarna hitam.

Ciri khas yang membedakan sapi PO dengan sapi-sapi  lainnya adalah punuk di atas gumba, kaki panjang berurat kuat, serta ada gelambir menggelantung dari bawah kepala, leher sampai perut.

Saat dewasa, jantan PO bisa mencapai bobot sekira 600 kg dan yang betina rata-rata 450 Kg. Pertambahan bobot sapi PO berkisar antara 0,4—0,8 kg/hari. Pada saat ini, sapi PO murni mulai sulit ditemukan karena telah banyak disilangkan dengan sapi Brahman.

Sesuai induk persilangannya, sapi Peranakan Ongole terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja. Jenis PO ini mempunyai kemampuan beradaptasi yang tinggi perbedaan kondisi lingkungan, tenaga yang kuat, serta aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah beranak.

Keunggulan Sapi Peranakan Ongole

  • Persilangan sapi Ongole dengan sapi lokal Indonesia,
  • Tipe sapi pedaging dan sapi pekerja,
  • Mampu berdaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan,
  • Cepet bereproduksi,
  • Berat badan 600 kg
  • Pertumbuhan bobot harian 0,75 kg/ekor/hari.

Simpo (Sapi Simmental Ongole)

Sapi Simmental murni sulit ditemukan di Indonesia. Kebanyakan sapi Simmental yang ada di Indonesia merupakan sapi Simmental cross atau telah disilangkan dengan sapi lain. Salah satunya adalah hasil persilangan dengan sapi Ongole yang dikenal dengan sapi Simmental Ongole (Simpo). Sapi Simpo sudah tidak memiliki gelambir dengan bulu berwarna merah bata, merah tua, hingga coklat muda.

Ciri khas sapi Simpo adalah adanya warna putih berbentuk segitiga diantara kedua tanduknya. Para peternak bisanya sangat menyukai sapi ini dibandingkan dengan sapi PO, karena sapi Simpo adalah sapi unggulan, di mana saat memiliharanya pertumbuhan bobot harinya bisa mencapai 2kg/hari. Sapi Simpo hasil Inseminasi Buatan telah mewariskan 50% sifat dari kedua sapi ini, jika kita bandingkan dengan sapi PO yang tahan akan panas dibandingkan dengan sapi Simmental, sedangkan pertumbuhan bobot hariannya Simmental lebih tinggi dibandingkan dengan sapi Ongole.

3. Brahman Cross

Sapi Brahman cross atau terkenal dengan BX adalah ternak sapi hasil persilangan Brahman dengan berbagai jenis sapi lainnya. Dengan demikian campuran darah dalam setiap keturunan sangat bervariasi. Sapi Brahman Cross adalah persilangan sapi Brahman dengan sapi dengan sapi eropa atau dalam bahasa latin dikenal dengan nama Bos Tuarus. pada mulanya adalah bangsa sapi Brahman Amerika yang dikirim ke Australia pada tahun 1933. Jenis ini selanjutnya dikembangkan di Australia.

Sapi ini adalah hasil kawin silang antara sapi Brahman, Shorthorn, Hereford, dengan perbandingan 50%, 25%, 25%. Sehingga jika dilihat secara fisik tampak mirip sapai American Brahman. Maksud utama dari perkawinan silang ini adalah menghasilkan sapi potong yang mempunyai produktifitas yang tinggi, tetapi memiliki daya tahan pada suhu yang tinggi, tahan terhadap caplak, kutu, dan bisa menyesuaikan dengan lingkungan tropis.

Keunggulan Sapi Brahman Cross

  • Tipe sapi potong terbaik di daerah tropis,
  • Tahan panas,
  • Resisten atau tahan panas,
  • Tahan terhadap gigitan caplak dan nyamuk,
  • Tidak terlalu selektif terhadap pakan,
  • Bobot lebih kuran 800 kg,
  • Pertambahan bobot harian 0,91 kg/ekor/hari.

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya