Ketika Nyumbang Sudah Dikapitalisasi

oleh
"Ulih-ulih". Nasi dan lauk kiriman warga yang sedang hajatan. Foto: Slametharjo/Swara.

Nuansa hidup yang terbangun masyarakat pedesaan adalah semangat gotong-royong. Gotong-royong dapat kita lihat dalam setiap kesempatan pekerjaan atau kegiatan yang tak bisa dikerjakan sendiri, tetapi ketika perlu orang lain. Misalnya. gotong-rotong bikin jalan kampung, bikin pos ronda, bikin rumah, hajatan, dsb.

Seiring dengan kemajuan jaman, semangat gorong-royong nampaknya mulai kian tersingkir, dan mulai tergantikan dengan kapitalisasi. Bangun jalan kampung dan pos ronda dengan diborongkan, bikin rumah diborongkan, punya hajatan di serahkan kepada penyedia jasa catering, budaya nyumbang dengan barang-barang kebutuhan seperti beras, jadah, lemper, kebutuhan dapur, dll sudah lebih sering tergantikan dengan uang.

Budaya nyumbang itu dulunya seperti menabung, investasi, mirip asuransi sosial. Dulu, jika kita punya hajatan mantu, sunatan, mendirikan rumah, syukuran, dll., ada petugas yang mencatat bentuk sumbangan dari tetangga/tamu berapa sumbangannya, beras, gula, oleh-oleh, dll. Mengapa dicatat? Karena akan dipakai sebagai pedoman bahwa jika suatu saat mereka punya hajat juga akan disumbang seperti bawaan tatkala di menyumbang.

Bahkan ada harapan, bahwa besuk tetangganya akan mengembalikan sumbangan ketika kita punya hajatan. Di sinilah fungsi sumbangan seperti perlindungan soaial, seperti menabung, seperti asuransi yang suatu saat bisa di-klaim-kan kembali. Sehingga kita mampu memprediksi kebutuhan hajatan, bisa dilihat berapa kali dia nyumbang dan barang apa saja yang ia sumbangkan.

Gotong-royong lain adalah tenaga. Bagi warga miskin yang tidak mampu secara ekonomi, dia akan menggunakan tenaganya membantu hajatan “rewang ” selama pesta berlangsung. Karena di kampung ada tradisi tenaga itu dicukupkan oleh warga satu RT, RW atau bahkan dusun. Ini tergantung siapa yang punya hajat. “Biasane sak eyuping blarak“, istilahnya. Bentuk sosial lain yang begitu terasa adalah “uleh-uleh

Banyaknya uleh-uleh juga disesuaikan besarnya sumbangan. Dapat saya gambarkan isi uleh uleh itu berupa nasi, oseng-oseng, sayur lombok ijo, tempe, bonggol pisang, daging, krupuk kere dan bihun, dll, sesuai kemampuan yang punya hajat.

Namun, kondisi semacam itu kini sudah banyak berkurang. Sumbangan digantikan uang, tenaga sekitar digantikan catering. Membikin tratag sudah diganti tenda sewaan, dll. Sekarang, apapun tampaknya sudah dikapitalisasi. Bahkan, dalam kartu undangan hajatan ada yang terang-terangan menulis demikian, “TIDAK MENERIMA SUMBANGAN DALAM BENTUK SELAIN UANG”.

Maka tidak heran, bila saat ini ulih-ulih diganti dengan aneka bentuk suvenir.

Tentang Penulis: Slamet Harjo

Slamet Harjo
Warga Nglipar Gunungkidul. Saat ini menjadi anggota DPRD DIY. Aktivis dalam bidang pertanian dan juga aktif berdiskusi dalam media sosial.