Klasa

oleh
Klasa Mendhong. Foto: Wg.

Yang purwa/awal/purba, biasanya; termasuk juga dalam proses pembentukan kata; karena proses pembentukan kata saya imani menggambarkan proses perkembangan dan pertumbuhan (penurunan) keluarga manusia dan alam lingkungannya, merupakan ‘gelaran-klasa’ kehidupan. ‘Gelaran-klasa’ yang purwa/awal sering dilupakan; seperti sore tadi tiba-tiba air hujan menggelontori gelaran mantol-ponco saya (mungkin mantol ponco disebut “ponco” karena di tengahnya terdapat ‘wadhah-sirah’ yang bentuknya seperti ‘pencu’ atau puting-susu, atau serupa ‘plonco’ [kepala manusia]) yang tergelar di atas motor; saya lupa ‘nyelehke’ dan ‘nglungguhke’ motor astrea-grand ’95 butut saya di tempat perlindungan yang ‘ayom-ayem’, termasuk bagi ‘wadhah-sirah’ di mantol-ponco saya itu: telah termasuki banyu.

Eh, bukan berfokus pada pusat-ponco itu ‘rerasan’ saya kali ini. Namun tentang: “gelaran-lampit” atau “gelaran-klasa”, juga “gelaran-babut”.

Saya tak begitu yakin apakah nama wilayah “gelaran” di Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo (di sana terdapat Guwa Pindhul) berhubungan dengan bentangan ‘klasa’ (tikar) atau tidak. Saya tak paham ‘sejarah’ sana. Mungkin berhubungan. Yang jelas: “gelaran” sama dengan “klasa”. “Gelaran” tak lain ya “beberan”. Dan saya berasumsi bahwa klasa-nya wilayah “gelaran” (dasaran, landasan, palemahan) berdekatan dengan isi “gulungan” wayang beber Remeng Mangunjaya dan Jaka Tarub; sekarang gulungan yang ‘asli’ masih ‘tinggal’ di Gelaran, yang fotokopian Remeng Mangunjaya berada di tempat lain (sangat mungkin juga bahwa gulungan yang dianggap ‘asli’ di Gelaran ini sebenarnya adalah fotokopian; tepatnya ‘salinan’ [tradisi penulisan manuskrip/naskah/kitab Jawa biasanya menggunakan teknik demikian]; salinan yang ‘selamat’ (karena peperangan dan intrik-politik-kerajaan, pustaka dan pusaka merupakan hal utama untuk diselamatkan/dilarikan).

Bahkan mungkin, satu di antara ‘klasa’nya kulawangsa-Gunungkidul, adalah gelaran/gulungan wayang beber Remeng Mangunjaya dan Jaka Tarub.

Teori kosmos/jagad yang dibentangkan (dibeberkan) lebar-panjang sering kita dengar. Jagad yang membentang, baik melebar maupun mengecil hingga level partikel, adalah dasaran kehidupan. Kehidupan di dalam kosmos/jagad dipenuhi ketidakhinggaan dan ketidakpastian. Dalam keserbaterbatasannya, yaitu beberapa penggal kepastian di dalam semesta ketidakpastian jagad, manusia Jawa/Nusantara ibarat tinggal “nglungguhi klasa gumelar”: hidup begitu saja dengan mudah serta bahagia di sebuah tata-jagad (tata-surya; di dalamnya terdapat bumi/lebu/tanah) yang telah tergelar luas meskipun cenderung tak-pasti ini; berbagai hipotesa bermunculan mengenai bentuk dan geraknya, di daerah tropis yang terlimpahi air, tanahnya subur serta kaya sumber daya alam. Limpahan kondisi geografis merupakan “klasa-bantal” (baca: palemahan/dasaran) bagi kehidupannya. Klasa-bantal geografis sebagai tempat tumbuh beraneka produk alam serta olah cipta, karya, dan rasa kulawangsa manusia. Ada kepang dan lampit (bambu). Ada klasa mendhong (mendhong). Ada klasa yang empuk dan lembut seperti “babut” (kulit hewan). Artinya, di palemahan/klasa Nusantara vegetasi bisa tumbuh dengan mudah. Hewan-hewan bisa hidup tidak kekurangan makanan. Manusia memiliki keleluasaan mengolahnya, memeliharanya, mudah memerolehnya. Manusia bisa “lungguh-lungguh” di klasa merasakan enaknya.

Limpahan kondisi geografis yang ‘subur’ memudahkan bertumbuh-kembangnya berbagai jenis tumbuhan dan hewan khas. Geografi Gunungkidul sedikit memiliki lahan persawahan. Kebanyakan Gunungkidul berupa beberan pategalan. Lahan persawahan dan pategalan memungkinkan menghasilkan bahan-bahan yang bisa diolah menjadi klasa/tiker/tikar, seperti mendhong. Wilayah berair seperti kali dan pantai yang cukup luas, memungkinkan menghasilkan pandhan. Mendhong dan pandhan, yang telah diolah dan ‘diawetkan’, direngga menjadi ‘nam-naman’ (anyaman). Prodhuk nam-naman mendhong atau pandhan jika digunakan sebagai alas memang dapat menjelma “anyam-anyaman nyaman” (meminjam kata-kata Sujiwo Tedjo). Anyam-anyaman mendhong dan pandhan bertipe halus (klasa-pasir) amat enak untuk ‘lungguh-lungguh’ di kala ‘selow’; kala sedang tidak bekerja di pekarangan, pategalan, atau pesawahan. Atau sehabis sibuk mengolah makanan dan minuman di pawon. Atau pas wedangan. Atau jejagongan di pelataran depan omah (latar) saat ‘padhang-rembulan’ (wulan-ndadari; purnama). Nonton bal-balan TV di cakruk, dan sebagainya.

Dulu ketika TV beserta acara-acaranya belum seramai sekarang (sinetron, dangdut, kontes-idola, bal-balan, tinju) para among tani mengisi malam hari dengan melakukan berbagai kreatifitas budaya. Pagi-sore ketika sorot Sang Bagaskara tergelar ‘padhang kencar-kencar’ dimensi kerja para among tani dipenuhi kriya among-tani di pekarangan, pakebonan, pategalan, dan pasawahan. Nandur; dhangir; macul; golek kayu atau pakan kewan; dan sebagainya. Sementara malam-hari kala Sang Surya tergulung oleh gelap, para among tani melakukan kerja budaya di dalam rumah. Para among tani menganyam klasa mendhong.

Kreatifitas menganyam anyam-anyaman (tak hanya klasa mendhong) di jaman ini berkurang pesat. Satu-dua yang masih tekun melakukannya, untuk mengatakan: satu-dua yang sekedar melakukannya. Melestarikannya. Di pasar-pasar tradisional bahan mendhong pun berkurang. Penjualnya juga. Mungkin karena proses penganyaman klasa mendhong membutuhkan waktu lama dan produknya tidak ‘payu’ sehingga sepi pengrajin.

Mendhong yang dijual di pasar-pasar tradisional, misal di Pasar Tengeran Karangmojo dan Pasar Argasari Wanasari, biasanya sudah dalam kondisi kering (garing). Mendhong-kering dibeli di pasar tradisional dan siap untuk dianyam. Sebelum dianyam, jika dikehendaki pola motif, mendhong bisa diwarnai lebih dulu. Mendhong ‘dikemplong’, dipukuli dengan pukul kayu pada lambaran kayu (ada yang ditutu di lesung), agar kondisi mendhong ‘gepeng’ dan padat, hingga mudah dianyam. Mendhong-mendhong digandheni (gandhen: pukul besar, kepalanya berbahan kayu).

Menganyam gelaran mendhong, kecuali oleh seseorang yang pekerjaannya memang menganyam, merupakan kegiatan sambilan (orang dhusun menyebutnya: ‘samben’). Menganyam gelaran/klasa mendhong lazim dilakukan oleh para estri kala malam hari sebagai pekerjaan ‘samben’. Mendhong memiliki dua sifat: keras di siang hari dan ‘memes’ (lentur) serta ‘wuled’ di malam hari. Oleh karena itu, barangkali, mengapa para ibu rumah tangga seperti Mugilah (tetangga simbok-saya itu) menggarap nam-naman klasa mendhong seringnya pada malam hari, bukan siang atau sore hari (terlebih karena siang hari digunakan Mugilah untuk buruh tani). Tanpa pekerjaan sambilan (samben) seperti ‘anam-klasa’ ini, biasanya orang dhusun tak kuat “melek-wengi”; telah kelelahan bekerja pada siang hari. Menganyam klasa, minimal, bisa digunakan sebagai ‘cagak-melek’, ‘ganjel-mata’, bagi orang-orang dhusun agar tetap terjaga. Yang lebih dituju adalah, kerja menganyam mendhong dalam kerangka ‘samben’ memang untuk menambah penghasilan. Sebenarnya sama: bagi orang modhern-kota, pekerjaan sambilan (side-job) pun, didukung kekuatan lembut medsos (dan ‘aplikasi’), sebenarnya bisa menghasilkan tambahan ‘pametu’ yang lumayan; bahkan terkadang malah menjelma menjadi dimensi kerja yang ‘disruptif’, mengganggu/merongrong pekerjaan utama.

Dalam tafsir positif, pekerjaan ‘samben anam-klasa’ justru bisa menggantikan, tak melulu merongrong, pekerjaan-utama lain (‘disrupting’) karena terkadang malah menghasilkan kapital lebih (‘pametu’). Pekerjaan ‘sambilan’ oleh orang dhusun di dunia tradisional, jika pun tidak sejajar, ya mendekati sama tujuannya dengan pekerjaan-sambilan orang kota di dunia modern.

Produk-produk budaya desa-tradisional’memang terasa paradoks, lebih-lebih jika dipasangkan dengan produk dunia kota-global. Klasa mendhong yang sekarang susah dicari berpasangan dengan klasa plastik yang mudah dicari. Tidak ‘tahan lama’ dan ‘lebih tahan lama’. Proses pengerjaan butuh waktu-lama dan waktu-singkat. Benda-benda teknologis tradisional identik dengan ‘rangas’ atau rayap. Kayu dimakan rangas. Gedheg dimakan rangas. Klasa mendhong juga dimakan rangas. Sementara bahan sintetis alam seperti plastik dan karet, tidak. Lebih ‘awet’.

Dua-duanya menggambarkan pasangan dunia. Dua-duanya menggambarkan “jagad nglangkib” atau “jagad-gumulung” dengan “jagad-mlumah” atau “jagad-gumelar”; “dunia-terlipat” dengan “dunia-terbuka”. Memang, terdapat dunia yang tertutup, terlipat, serta ternaungi gelap (seperti lembar-lembar kertas di dalam kitab/buku) di dalam klasa; ada ruang-ruang yang terbuka, tergelar, serta terang (seperti lembar-lembar kertas di dalam kitab/buku yang terbuka) di atas klasa.

Klasa-klasa ditekuk/dilipat.

Klasa-klasa, setelah selesai digunakan, digulung.

Klasa-mendhong dan klasa-plastik, klasa terlipat dan tergulung, merupakan ‘gelaran’ kulawangsa manusia. Biasanya, hanya biasanya, di dunia tradisional, suatu gelaran yang terlipat, tergulung, atau tertutupi itu merupakan ‘dasaran’ atau ‘palemahan’ ilmu pengetahuan yang ‘sengaja’ dilipat dan digulung oleh leluhur agar tak tampak ‘wuda’, ‘ngegla’, dan ‘wantah’, sementara di dunia-modern sesuatu yang dilipat, ditekuk, digulung, biasanya justru sebaliknya: menyimpan suatu motif hegemoni, agresi, atau ordinasi.

Dan jika gelaran-lemah atau hamparan-tanah adalah klasa-nya kulawangsa manusia (lemah/leseh: klasa), maka lemah (seperti klasa) terkadang “kerig”. Lemah-obah: tanah bergerak. Tanah ‘ngulet’. Tanah/lemah melakukan kriya membersihkan diri. Menyuburkan diri.

Hal apalagi yang membahagiakan dan menentramkan hati para among tani di dusun jika bukan karena gelaran-klasanya yang berupa tanah persawahan, pategalan, dan pekarangan tetap dalam kondisi gembur-subur: mampu menumbuhkan beraneka-warna tanaman hasil-bumi (‘pala’), terjauhkan dari mala-bencana? Di mana lagi para among-tani, atau lebih luas lagi: para manusia, dusun atau kota, akan mendudukkan dan meletakkan (‘nyelehake’) badan, pikiran, dan rasanya jika bukan di klasa-nya alam? Di klasa/tanah persawahan, pategalan, pekarangan, goa, hutan?

Manusia pun ‘lungguh-lungguh’ dan leseh-leseh di klasa/palemahan alam.

Nalar lungguh-lesehan di gelaran klasa kala jajan di warung makan misalnya, atau ketika sarasehan, atau saat ‘camping’ di bumi/tanah perkemahan, mengisyaratkan suasana yang ‘santai’, penuh kebahagiaan, serta kekeluargaan. Saya menduga: bumi adalah gelaran klasa/lemah yang memenuhi prasyarat ketiga standar-penciptaan kosmos ini. Hangat kala dingin, adhem kala panas. Menyenangkan. Membahagiakan. Manusia dengan gembira “ngglasah neng lemah”, ‘leyeh-leyeh’ dan ‘leseh-leseh’ di atas bumi. Mungkin, hanya mungkin, di sekitar Utan/Wana/Alas Bunder disebut “tleseh” karena di sana bisa digunakan sebagai tempat-menyenangkan untuk ‘leseh-leseh’, ‘leyeh-leyeh’, duduk-duduk, utamanya di jaman ini bagi para pengendara dan pengembara, bagi para pelancong-pikniker, atau para penglaju Yogya-Wonosari dan sebaliknya. Duduk-duduk lungguhan di sana, di atas rerumputan, di bawah rindang pepohonan, bisa meraih suasana santai, terlindungi, dan bahagia: ‘ayom-ayem’.

Mengobati pikiran dan hatinya yang ‘bolong’ sana-sini.

Klasa dinam lagi; klasa bolong sana-sini karena rayap, karena pengap, karena umur. Jarang dijemur. Terkadang manusia perlu meniru laku klasa/palemahan: “ngerig-erig” sampah-sampah yang memenuhi tetanah. Memegang bagian ‘pencu’ (mewakili gambaran puting susu) di dua ujungnya (berupa ujung mendhong yang dilipat/ditali), “ngebutke” kotoran biar hilang. Atau memegang bagian klasa yang bolong-rusak dengan “mencu”, seperti memegang puting susu, kemudian menganyamnya dengan nam-naman baru. Atau menggelontor klasa dengan alir air. Terkadang lemah pun perlu digelontor air. Para among tani perlu mengganti tanaman-tanaman lama di tanah-tanah garapan mereka dengan yang baru. Yang lilitnya kuat. Yang melahirkan air. Melahirkan tanah-tanah ‘baru’. Kehidupan baru. Jalinan nam-naman klasa-mendhong di antara keluarga-keluarga yang tadinya sempat ‘tugel’ karena ‘getas’ (patah oleh panas, terik) perlu ditambal ‘jadah’: pangiket (perekat) antar kulawangsa. Jadah adalah “pulay”: yang merekatkan. Yang memulihkan nam-naman klasa.

Beras-pulut.

Dan, pada suatu saat yang begitu senggang dan padhang akan duduk-duduk di atas klasa sambil wedangan pacitan jadah (beras-pulut) untuk memulihkan tenaga dan pikiran, terkadang kita tak cukup hanya “ngerig-erig/ngebut-ngebutke klasa reged” saja sebelum ‘gelaran-klasa’ itu dipakai kembali; sebelum lemah (baca: klasa) ditanami kembali; sebelum konsep pariwisata-geowisata-ekowisata, pembangunan, dan kemajuan ‘dinam’ (dianyam) dan digalakkan lagi. Bahkan, jika perlu, kita dengan sengaja dan penuh kesadaran perlu: “ngudan-udanake klasa reged” (menghujan-hujankan tikar kotor), di bawah derasnya hujan, agar kotoran-kotoran bekas makanan, minuman, daki, atau ‘hasrat’ yang menempel-lembut di klasa/palemahan hilang tergelontor air hujan, kemudian menjemurnya di bawah sorot Bagaskara atau Bagaspati, agar bakteri pada mati, agar ‘waluya’ (sehat jiwa-raga) kembali.

Agar hujan, agar alam, mempercepat ritus-penyucian atau ritus-pembersihan ‘klasa’nya kulawangsa manusia yang tergelar sekian waktu. Jika pun demikian kejadiannya, maka kita ‘nrima’ saja: agar merasakan ‘manjing’ dengan perih. Agar prihatin; “sepi ing pamrih”. Agar di tubuh lemah/klasa segera tumbuh rerindangan, rerumputan, mendhong-mendhongan, pandhan-pandhanan, biji-bijian buah-buahan, serta kuntum-bunga kuntum-bunga baru; kita bisa menggelar gulungan-klasa untuk ‘teturon’ (tetiduran), ‘lungguh-lungguh’, ‘leyeh-leyeh’, atau ‘leseh-leseh’ dengan enaknya.

‘Sumeleh’ di atasnya.

Kalau pun ada yang ingin ikut serta, atau mampir di sela kembaranya ke gunung ke kali ke goa ke pantai ke luweng ke embung-telaga, silakan saja.

[Wage]

Facebook Comments