Kupu-kupu yang Singkat Umurnya

oleh
Catopsilia pomona. Dok: flickr.

“Kupu-kupu kertas, yang terbang kian kemari,

Aneka rupa dan warna, ditimpa lampu temaram.

(lagu Kupu-kupu Kertas, dipopulerkan oleh Ebiet G Ade)”

Para pembaca tentu tidak asing dengan jenis hewan kupu-kupu. Hewan ini mudah ditemui dan sangat akrab dengan kehidupan manusia. Serangga yang bersayap ini mudah dijumpai di sekitar tanaman berbunga. Warna sayapnya yang menarik seringkali mendorong kita untuk menangkapnya dan memasukkan ke dalam plastik, hanya sekedar untuk dimiliki.

Namun pernahkah pembaca mendengar nama Catopsilia. Namanya cantik bukan. Namun itu bukan nama seorang artis cantik lhooo. Catopsilia adalah sejenis kupu-kupu yang umum kita temui di daerah Gunungkidul juga daerah lain. Sayapnya berwarna hijau mudah kekuningan, dengan ukuran tubuh tidak terlalu besar, hanya sekitar 5 cm saja. Terbang bergerombol mempunyai kebiasaan hinggap di tanah-tanah basah.  Di masa kecil saya masih sering terlihat kupu-kupu ini dalam jumlah ratusan terbang dan hinggap di tepian sungai belakang rumah. Saat ini fenomena tersebut semakin jarang dijumpai lagi.

Pada akhir musim kemarau awal musim hujan serangga terbang ini bisa kita jumpai di tepi sungai atau di  pantai. Sekumpulan Catopsilia sp. hinggap di hamparan pasir pantai yang masih basah. Ketika didekati dalam jarak 2 meter saja ternyata mereka sudah bisa mendeteksi kehadiran manusia , kemudian terbang menghindar. Hewan ini  menjadi tanda awal musim penghujan akan segera musim ulat trembesi.  Masyarakat di daerah karst Gunungkidul niteni  fenomena alam tersebut. Namun perubahan iklim beberapa tahun ini tidak lagi bisa menjamin pola alami tersebut.

Apa sih peran si kupu-kupu ini bagi kehidupan manusia?  Mereka senang hinggap di bunga-bunga yang sedang mekar. Sambil menghisap madu bunga kupu-kupu membantu menyerbuki walaupun bukan merupakan serangga penyerbuk utama seperti halnya lebah dan tawon. Sebab kupu-kupu tidak memiliki organ khusus untuk membawa polen atau serbuk sari.

Apakah di sekitar rumahmu ada banyak kupu-kupu? Jika tidak ada atau hanya sedikit bolehlah kita sedikit berprasangka kondisi lingkungan sudah mulai menurun.

Memang demikianlah menurut ahli kupu-kupu Djunijanti Peggie yang meraih doktoral di bidangnya dari Universitas Cornell. Kupu-kupu memang dapat digunakan sebagai indicator kualitas lingkungan. Artinya keberadaan kupu-kupu yang beragam di suatu area dapat memberikan indikasi bahwa daerah tersebut masih alami dan belum terganggu.

Sebaliknya jika jenis kupu-kupu mulai menurun maka patut diduga daerah tersebut rendah kualitas lingkungannya. Ambil contoh di tepi jalan perkotaan yang ramai mana ada dijumpai kupu-kupu yang indah. Kupu-kupu berwarna warni hanya di jumpai di daerah yang banyak pohonnya.

“Perubahan fungsi habitat akan mempengaruhi  penyebaran kupu-kupu di suatu area. Dengan demikian kupu-kupu dapat  digunakan dalam pemantauan lingkungan untuk mengamati perubahan habitat atau tingkat kerusakan habitat,” tegas Dr. Peggie.

Bagi kupu-kupu umur panjang tidak terlalu penting karena hewan ini  hanya 4 bulan hidup. Ya, cuma 4 bulan saja lho menikmati kehidupan. Tetapi dari umur yang singkat tersebut mereka membawa banyak pesan yang bisa dibaca oleh para ahli.  Selain untuk pemantau kualitas lingkungan para ahli meneliti kupu-kupu untuk mengungkapkan rahasia evolusi dan pemahaman biogeografi yaitu ilmu yang mempelajari mengenai penyebaran suatu jenis makhluk hidup.

Kita lebih beruntung dengan umur yang mencapai puluhan tahun. Tentu lebih banyak hal yang bisa diperbuat.  Namun jangan sampai salah menetapkan pilihan  agar pesan kehidupan yang kita sampaikan ke orang-orang terdekat, lingkungan kerja, masyarakat dan dunia adalah pesan yang baik. Jangan sampai kenangan akan hidup kita adalah sesuatu yang tidak baik.

***

Tentang Penulis: Heru Tricahyanto

Heru Tricahyanto
Saya seorang manusia biasa saja, lahir besar, dan tinggal di Wonasari. Bisa jadi karena cinta Gunungkidul atau memang kepepet ndak berani merantau yaaa. Sehari-hari menjadi tukang servis komputer, bakul wedang di Kopi Angkringan Wonosari kalau malam, kadang juga kelayapan ke Jogja sekedar melepas kangen (pada siapa?). Saya ndak bisa menjadi orang yang spesial pada satu hal, alias orang generalis, sehingga ndak lulus program Doktoral, karena memang gak kuliah doktoral (hehehe).