Lajon

oleh
Seni visual berjudul “Lajon” karya Puji Widodo. Swara/Tugi.

“Lajon”, demikian sebuah karya seni visual yang ikut terpajang pada Pameran Seni Rupa Portal yang digelar di eks gedung Pengadilan Agama Kabupaten Gunungkidul (14/7 – 14/8/2018). Setidaknya ada 5 benda yang dipasang begitu rupa pada dinding ruang pamer, yaitu: jaket, sepatu, ban motor vespa, kunci dan tang di sekeliling gambar busi motor yang mengeluarkan percikan api. Juga ada gambar pegunungan di belakang helm.

Bagian atas bertuliskan LAJON dengan huruf “O”-nya memakai ban motor vespa. Kemudian di bagian bawah bertuliskan plus minus 80km/hari. Tulisan itu makin menegaskan, karya seni visual ini melukiskan sebuah proses kehidupan bernama “LAJON”.

Tri Suci Puji Widodo, si pembuat karya menjelaskan, banyak warga Gunungkidul yang mempunyai aktivitas di Kota Yogyakarta. Entah sebagai pelajar/mahasiswa, buruh, pegawai swasta, PNS, dan lain sebagainya. Beberapa dari mereka ada yang menetap di Kota Yogyakarta, ada pula yang nglaju Gunungkidul – Yogyakarta atau sebaliknya setiap harinya. Mereka yang memilih menetap di Yogyakarta seringkali satu minggu sekali atau pun pada hari libur pulang ke Gunungkidul.

Kendaraan yang mereka pakai cukup beragam. Ada yang memakai angkutan umum, motor, ataupun mobil pribadi. Namun banyak orang memilih motor karena lebih ekonomis dalam hal bahan bakar dan lebih nyaman ketika menemui kemacetan akibat padanya pengguna jalan.

“Beberapa orang yang memilih memakai motor dengan menempuh jarak kurang lebih 80 km setiap harinya menarik untuk saya bahas ke dalam karya visual. Jarak tempuh yang bisa dibilang cukup jauh dengan akses jalan naik-turun berkelok tentunya membutuhkan kondisi fisik yang sangat prima. Konsentrasi dalam berkendara sangat dibutuhkan untuk menempuh jarak dengan medan jalanan yang seperti itu. Belum lagi cuaca di akhir-akhir ini yang tidak menentu,” urai Puji Widodo.

Puji Widodo tampaknya ingin menggambarkan kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat Gunungkidul yang bekerja jauh dari habitat di mana mereka tinggal. Mereka yang tetap tinggal di perdesaan Gunungkidul, namun bekerja di seputar area Kota Yogya.

Sang pembuat karya mendedikasikan Lajon tidak hanya untuk mereka yang berkesempatan bekerja formal di kantor pemerintah atau swasta. Tetapi juga untuk mereka yang sedang sekolah atau kuliah, mereka yang kerja di pabrik, di toko, di pasar rakyat, atau mereka yang mengadu nasib menjadi pekerja sektor informal di pinggir jalan protokol sekalipun. Entah sudah berapa lama, dan sudah ada yang berpuluh-puluh tahun menjalani seni kehidupan menganyam rejeki jauh dari tempat tinggalnya.

Sebaliknya, tidak sedikit orang-orang yang bermukim di Kota Yogya, Sleman, Bantul dan Kulonprogo, dan lainnya yang bekerja di wilayah Gunungkidul. Setiap subuh mereka sudah bergegas “munggah gunung” untuk bekerja, dan sore harinya pulang kembali ke rumahnya.

Kendala menglaju Wonosari-Jogja atau sebaliknya yang sangat kentara barangkali adalah masalah ketersediaan angkutan umum yang masih langka. Angkutan bis atau mikrobus Jogja-Wonosari cukup memadai, namun angkutan umum dari pusat Wonosari sampai kota-kota kecamatan atau desa-desa penting masih terasa langka. Ini menyebabkan biaya yang sangat mencekik leher, apabila tidak memiliki kendaraan sendiri atau sepeda motor.

Lajon atau nglaju sesungguhnya adalah keniscayaan. Kemestian yang lumrah terjadi di mana pun. Tidak melulu dalam ruang yang terbatas di lingkup Wonosari – Jogja. Menglaju untuk bekerja itu sudah lumrah dan jamak terjadi di Jabodetabek. Para perantau yang bekerja di wilayah DKI Jakarta tetapi sudah tidak mungkin memiliki rumah di seputar Menteng, Slipi, Cempaka Putih, Kebayoran Baru, Grogol, Pasar Minggu, atau perkampungan warga asal Gunungkidul di Pangkalan Jati pasti menjadi penglaju.

Menglaju kerja di metropolitan Jakarta sebenarnya juga tidak lebih ringan perjuangannya dibandingkan menglaju Wonosari – Jogja. Sebelum subuh, para perantau yang tinggal di Cikarang, Karawang, Cikampek, Tajur Bogor, Cisauk Serpong sampai Maja Pandeglang mesti harus bersiap berangkat kerja. Belum lagi mesti umpel-umpelan berjuang naik angkutan umum, entah naik bus, angkot, kereta komuter, ataupun naik sepeda motor agar tidak telat bekerja di metropolitan Jakarta.

Mereka yang tinggal di Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Gresik, dan lain-lainnya juga ada yang saben hari menglaju ke arah Surabaya Raya untuk bekerja. Ini sesungguhnya persis sama dengan pola lajon Wonosari-Jogja atau lajon di metropolitan Jakarta.

Lajon atau menglaju itu memang tidak ringan. Berbagai risiko yang terkadang harus diterima. Mulai dari kebiasaan bergegas bangun sebelum subuh, berperilaku dalam irama lebih cepat, belum lagi risiko macet atau kerepotan di tengah perjalanan.

Lajon atau menglaju itu sesungguhnya bukan predikat untuk para pekerja “ecek-ecek” karena tidak memperoleh kesempatan kerja di lingkungan tempat ia tinggal. Menglaju juga tidak mungkin sebuah perilaku seseorang bermental “tempe gembus”. Menglaju adalah sebuah ritme kerja yang serius. Butuh daya juang dan daya tahan. Selalu membakar semangat karena memang membutuhkan keberanian ekstra.

Ngomong-omong tentang penglaju, saya tiba-tiba menjadi teringat kerabat saya yang tinggal Mojokerto. Paklek saya ini mengalami kecelakaan lalu lintas, meninggal tertabrak truk di daerah Krian sewaktu mau berangkat kerja ke Surabaya. Sedih rasanya mengingat peristiwa itu. Tetapi, itulah risiko menjalani hidup, bekerja keras demi membahagiakan anak-anak dan istrinya. Hidup memang sebuah keberanian menghadapi dari satu risiko ke risiko lainnya.

Kebiasaan lajon atau menglaju kini sesungguhnya telah terjadi dalam lingkup antarkota besar. Cobalah sesekali amati penerbangan pada jam pagi subuh dan sore atau malam hari di berbagai bandara kota-kota besar. Penerbangan pasti dominan berisi para pekerja kreatif yang mondar-mandir Jogja-Jakarta, Surabaya-Jakarta, Lampung-Jakarta, Palembang-Jakarta, Makassar-Jakarta, dan lain-lainnya. Boleh dikatakan sudah menjadi jadwal mingguan atau bulanan mereka berangkat pagi-pagi ke Jakarta, kemudian sore atau malamnya balik lagi ke kota asalnya.

Lantas, apa makna tersembunyi di balik karya visual Lajon itu? Ini sebuah fenomena menarik, ada banyak orang yang nyinyir, suka maido, dan suka memberi cap plonga-plongo kepada Presiden Jokowi yang tegar bersikukuh semboyan “kerja, kerja, kerja!”. Ada pesan moral dibalik kata yang disebut sampai 3 kali itu. Tidak ada sebuah perubahan menuju kemaslahatan bisa dicapai tanpa melakukan sebuah upaya yang bernama “kerja” Cobalah lihat apa yang dihasilkan oleh orang yang lebih suka angkling-angkling theklik berlagak bisa ngempyaki jagat, pasti “Do less, talk more”.

“Lajon” adalah sebuah keniscayaan hidup yang dijalani setiap anak manusia yang bernama “kerja” atau “karya”. Setiap pekerjaan atau hasil karya yang berguna bagi setiap orang dan alam raya.

****

Tentang Penulis: Tugi Widi

Tugi Widi
Lahir Setu Legi awal 1970 di Karangmojo Gunungkidul. Ngulandara ke mana rejeki boleh dihampiri. Gemar membaca, memotret, dan menulis.