Lek Gobang dan TOA Tuanya

oleh
Corong speaker TOA jaman dahulu. Dok: Tulungagungtimes.

Kotak persegi panjang hitam di depan Lek Gobang itu tergores tulisan angka “1970”. Tampak seperti penanda tahun pembelian. Tombol-tombol berderet di samping tulisan itu: knop-knop volume, bass-treble, dan pengatur microfon. Tumpukannya dua tingkat.

Piranti itu sudah tertata rapi di dalam kotak terbuat dari kayu jati dan ditempatkan di belakang tembok pagar samping halaman rumah. Kabel-kabel keluar dari kotak itu, tampak terhubung ke speaker bulat dan stand microfone di depan teras rumah pagi itu.

Bendera putih kecil dengan tiang bambu terlihat merunduk di depan pagar, bergoyang-goyang pelan. Ada yang mulai berdatangan, beberapa mengenakan kerudung warna hitam. Seorang lelaki setengah tua yang saya kenal tengah duduk di dekat kotak itu.

“Saya dulu waktu kecil nritik…“, jawab Lek Gobang. Ia tersenyum sambil menggeser kursi kecil.

Ia menaikkan alis matanya, tampak konsentrasi memperhatikan alunan lagu dari perangkat pengeras suara. Dahinya tampak mengalir keringat. Rupanya ia sedang me-nyeting tombol-tombol amplifier ketika saya menanyakan awal mula nama panggilannya.

Nritik alias suka iseng, apa-apa dipegang dan dicoba, termasuk suka pegang gobang atau pisau besar,” terangnya.

“Oooo, nggih ta…,” saya mengangguk sambil tersenyum.

“Ooo, takkira artinya goblok banget…” batinku agak geli.

Memang, saya mengenal orang yang suka mengenakan peci hitam belel ini, Lek Gobang, demikian nama panggilannya. Dulu saya kira itu singkatan dari “Goblok Banget”, eh, ternyata salah, ternyata gobang berarti pisau besar.

Sebenarnya nama aslinya Samidi, namun tetangga kampung kelahiran saya di Bantul ini lebih dikenal dengan nama panggilan “Gobang”. Dia penjual jasa pengeras suara di kampung kelahiran saya. Populernya dikenal sebagai orang yang ‘nyewakke son‘.

Angka 1969 adalah tahun pertama karya Lek Gobang. Modal utamanya adalah nritik merangkai perangkat sound system. Ia belajar merangkai perangkat itu secara otodidak. Ia bahkan sama sekali tidak mengenyam pendidikan teknik atau bergelar sarjana elektronik.

Jika ada panggilan sewa datang, ia pun mengusung kotak kayu dengan gerobak kecil atau keseran dan ditarik dengan sepeda onthel menuju pemesan. Sejak 1970, mengalir job mulai dari pertunjukan ketoprak, wayangan, mantenan, sripahan, bahkan kampanye politik.

“Kampanye Megawati nggih nate…”, tuturnya bangga.

Acara-acara pemerintah memang pernah dijamah, bahkan acara Menteri Penerangan ‘daripada’ Harmoko pada era Orde Baru dahulu.

“Lha, pernah kok kula ngeson acara lawak Trio Kwartet zaman Ateng, Iskak,” paparnya mengungkap  ingatan masa keemasan persewaan sound systemnya. Tampak matanya berbinar mengenang apa yang pernah dilakukan pada puluhan tahun silam.

Persewaan son Lek Gobang sudah merambah penjuru Kota Geplak. Ia setia menggunakan amplifier TOA keluaran 1969 dan 1970. Beberapa horn yang disewakan juga bermerk TOA. Boleh dikatakan usaha persewaannya cukup laris.

Kini, gerobaknya ditarik motor roda dua. Bahkan sekarang, ia sudah punya sound system komplit dengan kapasitas ribuan watt. Meski sudah hebat, ia tidak melupakan TOA tuanya.

“Sesuai kebutuhan Mas…”, kata Lek Gobang kalem.

***
Upacara pemakaman belum mulai. Ini adalah sripahan seorang perempuan yang dulu ngemong atau mengasuhku, bernama Yu Yah. Beliau kuanggap sebagai orangtuaku. Seminggu lalu aku sempat menjenguknya dan mengajak beliau menyanyi dan berdoa bersama.

Kami akan mengiring ke peristirahatannya jam 14.00 WIB. Lek Gobang melayani pemberangkatan menggunakan amplifier keluaran 1969 dan 1970. Sembari duduk, kedua kotak hitamnya terus dijaganya. Piranti itu seperti sebuah mata air yang jernih, keluarannya mengusap rasa kehilangan sosok Yu Yah.

Terima kasih untuk dia yang suka nritik mencoba, namun tidak meninggalkan yang lama nan bermakna, Lek Gobang dan Toa tuanya.

***

Tentang Penulis: Stef Listiantoro

Stef Listiantoro
Pelayan umat dan pegiat gerakan kemanusiaan lintas iman. Hobby menulis pengalaman perjalanan hidup. Tinggal di Semanu Gunungkidul.