Lima Uskup Hadir dan Resmikan Goa Maria Tritis

oleh

Kawasan Gua Maria Tritis merupakan tempat ziarah yang memiliki sejarah panjang. Jauh sebelum dipakai sebagai tempat ziarah umat Katolik, gua ini terkait erat dengan Ki Ageng Giring. Seorng tokoh yang terkenal pada zaman antara runtuhnya Kerajaan Pajang dan berdirinya Kerajaan Mataram.

Gerbang masuk Gua Maria Tritis yang sudah diperbarui. Foto: Heru T.

Pada hari Senen, tanggal 20 Mei 2019, Gua Maria Tritis (GMT) mencatat sejarah baru yaitu dengan adanya peristiwa peresmian beberapa fasilitas baru oleh Mgr Robertus Rubiatmoko, Uskup Keuskupan Agung Semarang. Uskup adalah pimpinan Gereja Katolik yang membawa suatu wilayah teritorial. Untuk DIY ini masuk dalam Keuskupan Agung Semarang. Kehadiran Uskup Mgr Rubi tidak sendirian, karena ditemani oleh 4 orang  Uskup  yaitu :

  • Mgr. Sylvester San, Uskup Keuskupan Bali
  • Mgr.  Christophorus Tri Harsana,Uskup Purwokerto
  •   Mgr. Antonius Subianto Bunjamin,Uskup Bandung
  •   Mgr. Agustinus Agus, Uskup Pontianak

Sehinga semuanya ada lima orang uskup yang hadir dalam peristiwa peresmian tersebut. Hal ini merupakan kejadian yang baru pertama kalinya, demikian dikatakan oleh Mgr. Rubi. Sehingga peristiwa ini disambut dengan gembira oleh seluruh umat katolik di Gunungkidul.

Mgr. Robertus Rubyatmoko, Uskup, menyampaikan kesan dan pesan kepada umat yang hadir

 

Selain para Uskup hadir pula para romo yang bertugas di Gereja Katolik Gunungkidul. Gunungkidul sebagai daerah yang paling luas di DIY dibagi ke dalam 3 Paroki (pembagian teritorial untuk gereja katolik), yaitu Paroki Wonosari, Paroki Kelor dan Paroki Bandung.Selain para Romo yang bertugas di Gunungkidul, hadir pula para Romo Dosen di Sanata Dharma. Sehingga pada malam yang cerah tersebut ada 9 orang Romo yang ikut dalam Misa Peresmian Fasilitas baru di GMT.

Para Uskup memimpin Misa

Mgr. Rubi dalam pesannya menyampaikan agar tempat ini tidak hanya menjadi tempat ziarah yang ekslusif, namun inklusif, terbuka bagi masyarakat, terbuka bagi umat lain yang ingin memanfaatkan sebagai tempat ziarah. Para peziarah tidak perlu lagi dengan bila mau ke toilet. Fasilitas baru yang termasuk juga toilet ini ada 3 kompleks. Toilet yang dibangun dengan dana dari Kelompok Doa Emmaus Jakarta ini semewah fasilitas di hotel. Materi bangunannya dipilih yang terbaik, sehingga minim biaya perawatan, demikian dikatakan Herman, dari Jakarta.

 

(Heru T. – http://gopi.link/2f274)

 

 

Tentang Penulis: Heru Tricahyanto

Heru Tricahyanto
Saya lahir di Gunungkidul menyelesaikan SMP di Wonosari, lalu selepas itu ke Jogja sampai lulus kuliah. Belum pernah kerja kantoran walau punya ijazah, buka usaha komputer di Wonosari. Saat ini sedang menekuni hobi menulis dan usaha di bidang kuliner, yaitu warung Kopi Angkringan Wonosari (http://gopi.link/2f274)