Makna Tari Karonsih dalam Upacara Pernikahan

oleh
Pementasan tari Karonsih dalam sebuah upacara Panggih Temanten. Dok: youtube

Perkawinan yang menggunakan adat Jawa sering sekali menampilkan tarian Jawa Karonsih. Tarian dengan ritme lembut melambangkan kasih sayang dua sejoli ini berasal dari kata ‘kekaron atau sakloron tansah asih’. Maknanya keduanya saling mengasihi.

Tak salah jika tari Karonsih sering dipertunjukkan dalam upacara perkawinan. Amsalnya, tarian ini berasal dari legenda turun temurun mengenai kisah cinta. Tarian ini pula melambangkan cinta kasih yang luar biasa antara kedua mempelai. Diharapkan dengan tarian ini kedua mempelai bisa langgeng selamanya hingga kakeh-ninen.

Berdasarkan banyak sumber, tari Karonsih menceritakan kisah cinta Dewi Sekar Taji yang memiliki nama asli Galuh Candra Kirana. Gadis ini merupakan putri Kerajaan Jenggala. Atas kecantikan Dewi Sekar Taji ini membuat jatuh cinta Panji Asmara Bangun atau Raden Inu Kertapati, putra mahkota Kerajaan Kediri. Meskipun di Kerajaan Jenggala ada dua putri yang cantik, Panji Asmara Bangun tetap memilih Dewi Sekar Taji sebagai tunangan, calon istrinya.

Usai tunangan, waktu berjalan begitu lambat. Panji Asmara Bangun merasa sangat kangen dengan calon istrinya. Bersama pengawalnya ia menuju Jenggala untuk menemui Dewi Sekar Taji. Dalam perjalanannya, ia dihadang segerombolan perampok yang sangat jahat. Segerombolan perampok itu dipimpin oleh Panji Semirang. Namun tak disangka, Panji Asmara Bangun tidak diserang oleh gerombolan perampok itu. Sebalikya, ia disambut dengan hormat dan diantarkan ke hadapan Panji Semirang.

“Mari Tuan Panji Asmara Bangun, silakan duduk.” Dengan sopan Panji Semirang menyilakan Putra Mahkota Kediri itu. Panji Asmara Bangun kaget, kenapa perlakuannya tidak sama dengan apa yang diceritakan orang-orang.

Dalam perjamuan itu, Panji Semirang mengatakan bahwa ia hanya meminta orang-orang untuk tinggal di daerahnya jika berkenan. Tidak pun tak mengapa. Atas dasar itulah, orang-orang merasa takut. Akhirnya, Panji Asmara Bangun undur diri untuk melanjutkan perjalanan ke Jenggala. Menemui tunangannya.

Mengingat Kerajaan Jenggala terkenal memiliki dua putri cantik, Panji Semirang menanyakan siapakah tunangan Putra Mahkota Kediri itu.

“Dewi Sekar Taji.” Panji Asmara Bangun mantap menjawab. Panji Semirang hanya tersenyum dan menyilakan calon raja Kediri untuk melanjutkan perjalanannya. Namun dalam hatinya, ia menyimpan pertanyaan. Ia seperti mengenal wajah yang tak asing di matanya.

Sesampai di Kerajaan Jenggala, Panji Asmara Bangun disambut gembira. Tak ketinggalan, selir raja dan putrinya Dewi Ajeng juga menyambut penuh kebanggaan. Kedatangan Pangeran Kediri itu dirayakan dengan pesta tujuh hari tujuh malam. Disela-sela pesta itulah, Panji Asmara Bangun teringat dengan tunangannya, Dewi Sekar Taji.

Selir raja menyampaikan bahwa Dewi Sekar Taji menderita penyakit lupa ingatan, hingga akhirnya meninggalkan istana, entah di mana rimbanya. Panji Asmara Bangun sungguh sangat sedih. Hingga dalam kuasa sihir sang selir, Panji Asmara Bangun akan dinikahkan dengan putrinya Dewi Ajeng. Persiapan pernikahanpun segera disiapkan.

Namun, tiba-tiba terjadi kebakaran di istana, menjadikan pengawal Panji Asmara Bangun mengajak junjungannya untuk meninggalkan Jenggala. Di tengah perjalanan, Panji Asmara Bangun baru teringat, bahwa ia dalam keadaan tersihir. Tahulah ia, selir dan putrinya, Dewi Ajeng punya niat jahat kepadanya dan Dewi Sekar Taji. Saat itulah ia teringat Panji Semirang, senyumnya adalah senyum Dewi Sekar Taji. Bergegas ia menuju daerah kekuasaan Panji Semirang. Namun Panji Semirang telah bergi bersama anak buahnya.

Panji Asmara Bangun kembali bersedih. Ia melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Kediri. Tak disangka, saat sampai di Kerajaan Gegelang, ia dimintai bantuan untuk menumpas segerombolan penjahat yang dipimpin Lasan dan Setegal.

Panji Asmara Bangun menyanggupi untuk menghadapi segerombolan penjahat itu. Singkat cerita, ia berhasil menghabisi Lasan dan Setegal bersama gerombolannya. Kejayaan Sang Panji itu dirayakan dengan pesta.

Dalam pesta itu dihadirkan seorang pendongeng cantik. Dengan penuh penghayatan, pendongeng itu mengisahkan tentang Panji Asmara Bangun yang kehilangan Dewi Sekar Taji. Panji Asmara Bangun terheran-heran, kenapa kisah dari pendongeng itu persis dengan kisah cintanya dengan Dewi Sekar Taji. Karena rasa penasarannya, ia mendesak pada raja Gegelang untuk mencari jati diri pendongeng itu. Benar. Ternyata pendongeng itu adalah Dewi Sekar Taji yang hilang selama ini.

Akhirnya, kebahagiaan melingkupi keduanya. Oleh Panji Asmara Bangun, Dewi Sekar Taji diajak kembali ke Kerajaan Kediri. Pernikahan pun akhirnya terjadi. Pesta tujuh hari tujuh malam diadakan untuk menyambut pasangan suami istri yang memiliki kisah cinta yang sangat mengharukan.

***

Dalam cerita lain dikisahkan. Panji Asmara Bangun yang sudah menjadi suami Dewi Sekar Taji itu ingin mengetahui keadaan rakyatnya secara langsung. Raja Kediri itu turun langsung di tengah kehidupan rakyatnya dengan cara menyamar. Kepergiannya tak diberitahukan kepada Dewi Sekar Taji. Karena rasa panik dan duka, Dewi Sekar Taji yang disertai inangnya nekat pergi dari istana. Mencari suaminya yang sangat dicintai.

Dalam perjalanan cinta itulah kesetiaan cinta keduanya diuji. Di mana jarak terpisah dan tidak mengetahui keberadaan masing-masing. Namun hal itu membuat Panji Asmara Bangun merasa bahagia. Akhirnya ia yang mengetahui kesetiaan istrinya pulang ke istana. Keduanya kemudian hidup rukun dalam kebahagiaan.

***

Kisah di atas hanya salah dua dari ratusan cerita tentang Panji. Menurut Prof. Achaiati selaku keynote speaker di Seminar Cerita Panji sebagai Warisan Dunia, di Perpustakaan Nasional, 28 Oktober 2014 menyebutkan, ada ratusan cerita yang mengisahkan Panji di Nusantara ini.

Sementara jika dikaitkan dengan sejarah, Panji Asmara Bangun yang menjadi raja Kediri sesudah menikahi Dewi Sekar Taji (Galuh Candra Kirana/Sri Kirana) itu bergelar Sri Maharaja Sri Kamesywara Triwikramawatara Aniwariwirya Anindhita Digjaya Uttunggadewa mulai menjabat sebagai raja.

Semasa menjadi raja, Sri Kamesywara memberikan angin segar terhadap perkembangan sastra di Kediri. Fakta ini dibuktikan dengan lahirnya karya sastra Kakawin Smradhahanakarya Mpu Dharmaja. Karya yang mengisahkan tentang lahirnya Ganesha. Dewa berkepala gajah yang kemuian menjadi lambang Kediri sampai sekarang.

Selain menjelaskan kelahiran Ganesha, Kakawin Smaradahana mengisahkan terbakarnya Bhatara Kamajaya dan Dewi Ratih di ambang kelahiran Ganesha. Pasangan dewa-dewi itu kemuian menitis ke dalam diri Sri Kamesywara dan Sri Kirana yang berasal dari Jenggala.

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa Kakawin Smaradahana merupakan persembahan (pemujaan) Mpu Dharmaja kepada raja dan permaisuri. Selanjutnya Kakawin Smaradahana kelak menjadi cikal bakal Kisah Panji yang sangat popular di tanah Jawa. Kisah cinta Panji Asmarabangun (Sri Kamesywara) dan Dewi Sekar Taji (Sri Kirana) yang melegenda di masyarakat Jawa hingga sekarang.

Terlepas dari sejarah tersebut, legenda Panji Asmarabangun dan Galuh Candrakirana atau Dewi Sekar Taji yang melegenda itu memberikan pelajaran bahwa cinta antara dua insan pada dasarnya telah ditetapkan sebelum manusia lahir. Melalui berbagai perjalanan yang tak mudah pada akhirnya keduanya akan bertemu. Itulah yang disebut jodoh. Legenda ini juga memberikan pelajaran kepada pasangan hidup. Di manapun berada, dalam kondisi seperti apapun, keduanya harus siap menghadapi ujian hidup.

***

Tulisan ini sebelumnya diunggah di:

Tentang Penulis: Ummi Azzura Wijana

Ummi Azzura Wijana
Ibu muda, pengajar di salah satu SMK di Kota Magelang. Aktif dalam berbagai kegiatan kepenulisan. Juga aktif di FPNB dan Sastra Bukit Berbintang sebagai wujud kecintaan terhadap tanah kelahiran Gunungkidul.