Manunggal lan Mangro: Menyatu dan Mendua

oleh
Manunggal lan mangro. Dok: WG.
Manunggal lan mangro. Dok: WG.

Mana yang lebih purwa: menyatu atau mendua? Mana yang lebih mulia: wangsa manusia-kera atau raksasa?

Manusia tak bisa memungkiri bahwa pada waktu tertentu dirinya harus membelah. Seperti halnya pada suatu waktu tertentu pula manusia harus menyatu. Manusia tak bisa mengelak bahwa dalam dirinya tersimpan keraksasaan dan kekeraan. Seperti halnya raksasa dan kera meyakini dengan penuh bahwa dalam dirinya tersembunyi potensi kemanusiaan.

Dan Sayempraba: ia antara satu dan terbelah; antara manusia-kera dan raksasa; ia terpinggir di tepi antara Alengka dan Kiskenda.

Sayempraba: ia menyatukan hasratnya dengan Rahwana. Persatuan keduanya melahirkan Bukbis. Sayempraba, kemudian: ia menyatukan kamanya dengan Wanaraseta. Persatuan keduanya mewijilkan Trigangga.

Penampilan kontingen sendratari “Sayempraba” Kabupaten Gunungkidul. Dok; WG.

Tak selang berapa lama para bapa (Rahwana dan Wanaraseta) berebut kuasa: mereka adalah persatuan dengan anak adalah jalan kekuasaan. Sebaliknya, para putra (Bukbis dan Trigangga) hendak meminta alih-kuasa: persatuan dengan bapa, dengan jalan “ngawu-awu sudarma”, adalah laku-utama. Bahkan, satu-satunya jalan untuk didaku sebagai putra!

Para putra ‘campuh’ di medan laga.

Sayempraba ingin manunggal dengan para putra. Sayempraba mendua. [WG]

***