Membudayakan Kembali ‘Sambatan’ di Gunungkidul

oleh
Makanan untuk sambatan. Foto: jalanjogja.com

Gunungkidul terkenal dengan masyarakatnya yang penuh semangat dan kerja keras. Hampir di setiap daerah di mana ada masyarakat asli Gunungkidul bisa dipastikan adalah orang-orang yang gigih dalam bekerja. Tak kenal lelah dan pantang menyerah di manapun dia berada.

Tidak salah jika masyarakat Gunungkidul merupakan pekerja keras. Hal ini merupakan karakter yang terbentuk dari budaya masyarakat itu sendiri. Di Gunungkidul sejak dulu memiliki budaya gotong royong yang menjunjung tinggi kekeluargaan. Budaya gotong royong tersebut akhirnya terbawa pada generasi-generasi berikutnya di mana dia tinggal.

Sambatan

Salah satu budaya gotong royong yang bagus membangun budaya kebersamaan dan kerukunan di Gunungkidul adalah Sambatan. ‘Sambat’ berasal dari bahasa Jawa yang artinya minta pertolongan. Merupakan kegiatan membangun rumah secara bersama-sama dengan minta pertolongan tetangga.

Sambatan masih dilakukan di desa-desa yang belum banyak tersentuh perkembangan zaman. Jika membangun rumah dengan menggunakan kayu, bambu, dan bahan alam lainnya akan melibatkan orang-orang di sekitarnya. Namun jika pengerjaan rumah sudah mengalami kemajuan seperti rumah permanen dengan batu bata dan semen, orang sudah jarang melaku kegiatan Sambatan.

Sebenarnya banyak manfaat yang bisa diambil jika budaya gotong royong Sambatan ini dilakukan. Pertama, menciptakan kerukunan. Sambatan yang melibatkan tetangga sekitar untuk membangun rumah akan menciptakan kebersamaan dan kerukunan antar warga. Mengingat rumah salah seorang warga tersebut dikerjakan bersama-sama menghilangkan rasa iri dan sombong.

Kedua, meminimalisir biaya. Membangun rumah membutuhkan biaya tidak sedikit, apalagi saat ini tenaga bangunan standar upahnya juga sudah tinggi. Jika dilakukan dengan Sambatan akan dapat meminimalisir biaya pembuatan rumah. Pasalnya, masyarakat yang ikut membantu Sambatan dalam pembuatan rumah tersebut tidak dibayar a.k.a suka rela. Pemilik rumah tidak perlu menyediakan biaya tenaga orang yang membangun rumah. Otomatis, biaya pembangunan rumah dapat ditekan.

Ketiga,keuntungan ganda. Sambatan yang dilakukan di daerah-daerah desa masih menerapkan rasa kekeluargaan yang tinggi. Jika salah satu warga ada yang membangun rumah, tetangga terutama kaum ibu justru memberikan bantuan seikhlas dan semampunya. Dalam istilah jawanya ‘nyumbang’. Jenis sumbangan bervariasi mulai dari bahan pokok hingga makanan yang diperlukan untuk disuguhkan pada pekerja laki-laki saat membangun rumah.

Makanan untuk Sambatan. Foto: jalanjogja.com

Keempat, efisien dan efektif. Jika membangun rumah dengan menggunakan jasa tukang biasanya hanya dilakukan sedikit orang. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya tukang. Namun jika membangun rumah dengan cara Sambatan biasanya akan cepat diselesaikan. Sehingga lebih efisien dan efektif. Untuk pembuatan rumah tidak permanen, warga cukup menyelesaikan pendirian rumah hanya satu hari. Paling lama dua hari dan untuk penyelesaiannya biasanya dilakukan oleh yang punya rumah.

Gugur Gunung

Satu lagi kegiatan yang dilakukan masyarakat Gunungkidul yang mengedepankan gotong royong dan saling membantu. Kegiatan itu adalah Gugur Gunung. Menurut para ahli Gugur Gunung ini memiliki arti bergotong royong mengerjakan sesuatu demi kepentingan bersama, tanpa mengharapkan imbalan. Secara nyata bentuk Gugur Gunung adalah kegiatan kerja bakti di masyarakat. Jika Sambatan untuk kepentingan salah satu warga sedangkan Gugur Gunung dilakukan untuk kepentingan umum.

Gugur Gunung ini biasanya dilakukan untuk membangun jalan, membersihkan sungai, membangun masjid, balai kampong, dan sebagainya. Pada kegiatan ini hampir seluruh masyarakat turun tangan untuk melakukan kegiatan Gugur Gunung. Segala bentuk biaya dan ‘uba rampe’ dipersiapkan oleh masyarakat itu pula.

Kelebihan dari kegiatan ini hampir sama dengan kegiatan Sambatan. Hanya saja, Gugur Gunung dilakukan untuk kemaslahatan orang banyak.

Jika dilihat dari jenis pekerjaan dan kegiatannya, Sambatan dan Gugur Gunung ini sudah selayaknya dibangkitkan lagi. Jangan sampai hilang di masyarakat hingga generasi muda tak tahu lagi kegiatan ini. Generasi tua harus menjadi guru teladan dalam mengenalkan kegiatan sarat makna demi kerukunan dan gotong royong ini. Bagi generasi muda harus menjadi pelopor dalam ‘nguri-uri kabudayan.

Zaman yang sudah modern tidak boleh menghilangkan budaya gotong royong yang sudah dibangun oleh orang tua kita sejak dulu. Selain itu budaya gotong royong ini akan menjadi tameng perpecahan yang saat ini sedang merongrong kerukunan antar umat beragama dan berusaha memecah belah persatuan bangsa. (Ummi Azzura Wijana)

Facebook Comments

Tentang Penulis: Ummi Azzura Wijana

Ummi Azzura Wijana
Ibu muda, pengajar di salah satu SMK di Kota Magelang. Aktif dalam berbagai kegiatan kepenulisan. Juga aktif di FPNB dan Sastra Bukit Berbintang sebagai wujud kecintaan terhadap tanah kelahiran Gunungkidul.