Mengapa Lebih Mudah Meyakini Hoaks?

oleh
Kampanye Melawan Hoaks. Dok: PRFM

Derasnya informasi yang bersliweran di sekitar kita seiring perkembangan teknologi dan ditunjang adanya media sosial memudahkan kita menerima berbagai informasi. Dalam hal ini termasuk informasi benar atau pun informasi bohong alias hoaks.

Meski gerah dengan maraknya penyebaran hoaks atau informasi bohong, sekarang ini fenomena tersebut tidak bisa kita hindari. Jika tidak cermat, kita pun bisa dengan mudah terperangkap meyakini hoaks, apalagi hoaks yang menyebar lewat media sosial. Lantas, sebenarnya apa alasan yang membuat orang justru lebih mudah percaya informasi hoaks?

Menurut pakar psikologi, secara alami setiap orang memiliki kecenderungan untuk mempercayai informasi yang mudah dicerna. Berdasarkan pemindaian aktivitas otak, pada saat kita berhasil memahami fakta atau pernyataan tertentu, otak akan melepaskan hormon dopamine. Hormon ini bertanggung jawab untuk menimbulkan perasaan nyaman, bahagia dan membuat kita merasa positif. Sebaliknya, ketika kita menerima informasi yang rumit dan butuh analisis mendalam, bagian otak yang mengatur rasa sakit dan muak jadi lebih aktif.

Penyebar hoaks juga memanfaatkan mekanisme berpikir otak yang cenderung menyukai hal yang lebih mudah dipahami, dan terkadang memanfaatkan sentimen-sentimen rasialis, keyakinan, ataupun chauvinistik. Ada banyak berita hoaks yang dibuat sesuai dengan mekanisme ini. Yakni menyajikan informasi yang mudah dipahami, menarik, dan mengandung unsur sentimen-sentimen yang disebutkan tadi.

Akibatnya, hoaks sangat mudah menyerang masyarakat dengan kemampuan literasi yang masih kurang. Mereka yang lebih suka menerima informasi tanpa mencari kebenaran atau kritis melakukan check silang agar mendapatkan fakta yang lebih jelas, maka informasi bohong langsung dianggap benar. Sisi lain yang berpengaruh, kemalasan untuk berpikir juga berpengaruh terhadap hoaks. Tidak sedikit anggota masyarakat yang berpendidikan tinggi juga bisa tergelincir dalam jerat hoaks.

Langkah Praktis Mengenali Hoaks

Lantas bagaimana caranya agar tak terhasut apalagi ikut menjadi penyebar hoaks? Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menguraikan lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana informasi hoaks dan mana informasi asli. Berikut ini penjabarannya.

1. Hati-hati dengan Judul Provokatif

Berita hoaks kerapkali membubuhi judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa dicomot dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoaks. Karena itu, apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya cari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan begini, setidaknya pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

2. Cermati Alamat Situs

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi – misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan. Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

3. Periksa Fakta darimana Berita Berasal? Siapa Sumbernya?

Apakah dari institusi resmi? Sebaiknya jangan lekas percaya apabila informasi berasal dari pihak yang tidak jelas dan tidak kredibel. Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh. Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

4. Cek Keaslian Foto

Di era teknologi digital, bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca. Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

5. Ikuti Grup Diskusi Anti-hoaks

Dalam facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci. Di grup-grup diskusi ini, netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.

Cara Melaporkan Hoaks

Apabila menjumpai informasi hoaks, bagaimana cara mencegahnya supaya tidak merugikan orang banyak? Pengguna internet bisa melaporkan hoaks tersebut melalui sarana yang tersedia di masing-masing media. Untuk Facebook, gunakan fitur Report Status dan kategorikan informasi hoaks sebagai hatespeech/harrashment/rude/threatening, atau kategori lain yang sesuai. Jika ada banyak aduan dari netizen, biasanya Facebook akan menghapus status tersebut. Untuk Google, bisa menggunakan fitur feedback untuk melaporkan situs dari hasil pencarian apabila mengandung informasi palsu. Twitter memiliki fitur Report Tweet untuk melaporkan twit yang negatif, demikian juga dengan Instagram.

Pengguna internet dapat mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan melayangkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id. Masyarakat Indonesia Anti Hoax juga menyediakan laman data.turnbackhoax.id untuk menampung aduan hoax dari netizen. TurnBackHoax sekaligus berfungsi sebagai database berisi referensi berita hoax.

***
Sumber: Teens dan Kompas.

 

 

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya