Mengenal Inseminasi Buatan atau Kawin Suntik untuk Ternak Sapi

oleh
Inseminasi buatan pada ternak sapi. Dok: Tribunews

Untuk mempertahankan predikat sebagai Gudang Ternak di DIY, Pemkab Gunungkidul terus menjaga dan meningkatkan populasi hewan ternak, utamanya sapi. Salah satu metode yang dilakukan adalah melalui program Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting atau dikenal dengan istilah UPSUS SIWAB.

“Upaya ini dilakukan melalui pelayanan intensif perkawinan sapi hingga menjaga jumlah kebuntingan,” ujar Bambang Wisnu Broto, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan pada Senin (5/2/18) di sela acara pencanangan UPSUS SIWAB sekaligus pelayanan kawin suntik/ inseminasi buatan (IB) dan pemeriksaan kebuntingan di Padukuhan Keblak, Ngeposari, Semanu.

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan teknologi “inseminasi buatan” atau masyarakat lebih mengenal dengan istilah “kawin suntik” itu?

Inseminasi Buatan (IB) adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun’.

Sejarah Inseminasi Buatan

Inseminasi Buatan (IB) pada hewan peliharaan telah lama dilakukan sejak berabad-abad yang lampau. Pada abad ke -14, seorang pangeran Arab yang sedang berperang dengan berkuda, dan dalam keadaan tersebut kuda tunggangannya sedang mengalami birahi. Kemudian dengan akal cerdiknya, sang pangeran dengan menggunakan suatu tampon kapas, ia mencuri semen dalam vagina seekor kuda musuhnya yang baru saja dikawinkan dengan pejantan yang dikenal cepat larinya.Tampon tersebut kemudian dimasukan ke dalam vagina kuda betinanya sendiri yang sedang birahi. Ternyata kuda betina tersebut menjadi bunting, dan lahirlah kuda baru yang dikenal tampan dan cepat larinya. Inilah kisah awal tentang inseminasi buatan.

Tujuan Inseminasi Buatan

Tujuan inseminasi buatan adalah sebagai berikut:

  • Memperbaiki mutu genetika ternak;
  • Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ke tempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya;
  • Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama;
  • Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
  • Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.

Keuntungan Inseminasi Buatan (IB)

Beberapa hal yang didapatkan dari teknologi inseminasi buatan:

  • Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
  • Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
  • Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
  • Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
  • Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;
  • Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar;
  • Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.

Kerugian Inseminasi Buatan

Meskipun demikian, ada beberapa kerugian dari inseminasi buatan, yaitu:

  • Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan;
  • Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil;
  • Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama;
  • Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).

Cara Penampungan Semen

Cara penampungan semen dilakukan sebagai berikut:

  • Dapat dilakukan 1-3 x /minggu
  • Harus terampil dalam menyiapkan alat penampung (vagina buatan) dan terampil dalam menampung semen
  • Evaluasi kualitas semen : gerakan massa, motilitas, LD dan konsentrasi. Hanya yang kualitas baik yang dapat diproses lebih lanjut.
  • Pengenceran dan pengawetan
  • Pengawetan : semen beku atau semen cair (chilled semen)

Waktu Melakukan Inseminasi Buatan (IB)

Pada waktu di Inseminasi Buatan (IB) ternak harus dalam keadaan birahi, karena pada saat itu liang leher rahim (servix) pada posisi yang terbuka. Kemungkinan terjadinya konsepsi (kebuntingan) bila diinseminasi pada periode-periode tertentu dari birahi telah dihitung oleh para ahli, perkiraannya adalah :

  • Permulaan birahi : 44%
  • Pertengahan birahi : 82%
  • Akhir birahi : 75%
  • 6 jam sesudah birahi : 62,5%
  • 12 jam sesudah birahi : 32,5%
  • 18 jam sesudah birahi : 28%
  • 24 jam sesudah birahi : 12%

Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Kebuntingan

Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya prosentase kebuntingan:

  • Fertilitas dan kualitas mani beku yang jelek / rendah;
  • Inseminator kurang / tidak terampil;
  • Petani / peternak tidak / kurang terampil mendeteksi birahi;
  • Pelaporan yang terlambat dan / atau pelayanan Inseminator yang lamban;
  • Kemungkinan adanya gangguan reproduksi / kesehatan sapi betina.

Faktor yang paling penting adalah mendeteksi birahi, karena tanda-tanda birahi sering terjadi pada malam hari.

Cara Mengenali Saat Tepat Melakukan Inseminasi Buatan

Oleh karena itu petani diharapkan dapat memonitor kejadian birahi dengan baik dengan cara:

  • Mencatat siklus birahi semua sapi betinanya (dara dan dewasa), dalam hal ini petugas IB perlu mensosialisasikan cara-cara mendeteksi tanda-tanda birahi.
  • Salah satu cara yang sederhana dan murah untuk membantu petani untuk mendeteksi birahi, adalah dengan memberi cat di atas ekor, bila sapi betina minta kawin (birahi) cat akan kotor / pudar / menghilang karena gesekan akibat dinaiki oleh betina yang lain.

Cara Aplikasi Hormon

Cara apikasi hormon untuk penyerentakkan birahi adalah sebagai berikut :

  • Penyuntikan hormon pertama dilaksanakan, dan memastikan bahwa: sapi betina resipien harus dalam keadaan sehat dan tidak kurus (kaheksia);
  • Sapi tidak dalam keadaan bunting, bila sapi sedang bunting dan penyerentakkan birahi dilakukan maka keguguran akan terjadi.
  • Penyuntikan hormon kedua dilaksanakan dengan selang 11 hari setelah penyuntikan pertama;
    Birahi akan terjadi 2 sampai 4 hari setelah penyuntikan kedua.

Prosedur Inseminasi Buatan

Prosedur Inseminasi Buatan adalah sebagai berikut:

  • Sebelum melaksanakan prosedur Inseminasi Buatan (IB) maka semen harus dicairkan (thawing) terlebih dahulu
  • Dengan mengeluarkan semen beku dari nitrogen cair dan memasukkannya dalam air hangat atau meletakkannya di bawah air yang mengalir. Suhu untuk thawing yang baik adalah 37oC. Jadi semen/straw tersebut dimasukkan dalam air dengan suhu badan 37 oC, selama 7-18 detik.
  • Setelah dithawing, straw dikeluarkan dari air kemudian dikeringkan dengan tissue.
  • Kemudian straw dimasukkan dalam gun, dan ujung yang mencuat dipotong dengan menggunakan gunting bersih
  • Setelah itu plastic sheath dimasukkan pada gun yang sudah berisi semen beku/straw
  • Sapi dipersiapkan (dimasukkan) dalam kandang jepit, ekor diikat
  • Petugas Inseminasi Buatan (IB) memakai sarung tangan (glove) pada tangan yang akan dimasukkan ke dalam rektum
  • Tangan petugas Inseminasi Buatan (IB) dimasukkan ke rektum, hingga dapat menjangkau dan memegang leher rahim (servix), apabila dalam rektum banyak kotoran harus dikeluarkan lebih dahulu
  • Semen disuntikkan/disemprotkan pada badan uterus yaitu pada daerah yang disebut dengan ‘posisi ke empat’.
  • Setelah semua prosedur tersebut dilaksanakan maka gun dikeluarkan dari uterus dan servix dengan perlahan-lahan.

****

Referensi: Ismaya, Bioteknologi Inseminasi Buatan pada Sapi dan Kerbau, UGM Press, 2017.

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya