Mengenal Jenis-jenis Tanah untuk Pertanian

oleh
Lapis subur tanah pertanian di sekitar Luweng Blimbing Pacarejo yang terkena erosi saat hujan deras. Foto: Tugi.

Mengenal jenis tanah itu sangat penting. Ada banyak sistem pengklasifikasian tanah. Itu bergantung kepentingannya. Klasifikasi tanah untuk keperluan pertanian berbeda dengan klasifikasi tanah untuk keperluan geologis, berbeda pula untuk kepentingan mekanika tanah teknik bangunan.

Masyarakat sesungguhnya sudah mempelajari secara otodidak untuk mengenali jenis-jenis tanah terutama untuk budidaya pertanian. Secara mudah, para petani sering mengatakan, tanah merah, tanah hitam, tanah pasir, tanah lempung, tanah berkerikil, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah untuk menentukan jenis tanaman apa yang paling cocok dapat berkembang di atas jenis tanah tersebut, sehingga lahan bisa dipergunakan secara optimal.

Walaupun saat ini banyak teknik budidaya yang berkembang, seperti akuaponik dan hidroponik, namun tanah tetap menjadi media tanam utama untuk pertanian.

Oleh sebab itu, kecocokan tanah untuk budidaya adalah hal paling vital dalam bertani. Semakin baik kualitas tanah yang ada, maka akan semakin baik pula hasil yang didapatkan.

Dalam bidang pertanian, tanah dikatakan ideal jika memenuhi syarat seperti halnya:

  • Tidak terdapat bagian padasnya karena akan mengganggu gerak dari akar.
  • Mempunyai tingkat kelembaban yang cukup baik walaupun pada saat musim panas sekalipun.
  • Tidak mudah memadat dan juga mengeras ketika sudah ditanami.
  • Terdapat kandungan unsur yang bersifat organik di dalam tanah.
  • Kondisi pH netral (sekitar 7).

Jika tanah pertanian memenuhi kriteria tersebut sudah bisa dipastikan bahwa tanah tersebut cocok untuk digunakan.

Setiap jenis-jenis tanah pada dasarnya memiliki sifat yang berbeda satu sama lain dan karakter yang berbeda pula. Tanaman yang cocok ditanam pada setiap jenis tanah pun berbeda-beda karena tanaman juga memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda pula.

Berikut contoh tanah yang cocok digunakan untuk bercocok tanam yang akan dijelaskan secara detail, penjelasannya sebagai berikut:

Alluvial

Tanah alluvial ialah jenis tanah yang terjadi karena endapan lumpur. Umumnya merupakan endapan lumpur yang terbawa karena aliran sungai. Karena terbawa dari hulu, tanah alluvial sering ditemukan di daerah hilir. Tanahnya sendiri biasanya bewarna coklat hingga kelabu dengan struktur sedikit lepas-lepas.

Tanah alluvial sangat cocok dimanfaatkan sebagai lahan pertanian baik pertanian padi maupun palawija, tembakau, jagung, tebu, buah-buahan dan jenis tanaman lainnya. Karena tekstur tanahnya yang lembut dan mudah digarap sehingga tidak membutuhkan kerja yang ekstra untuk menjadikannya sebagai lahan pertanian.

Tanah aluvial. Dok: farming.id.

Tanah aluvial banyak tersebar daerah di Indonesia dari Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Jawa dan Papua.

Andosol

Tanah andosol ialah salah satu jenis tanah vulkanik yang terbentuk akibat dari adanya proses vulkanisme yang ada pada gunung berapi. Tanah Andosol sangat subur dan baik untuk tanaman.

Warna dari tanah andosol coklat ke abu-abuan. Tanah ini sangat kaya dengan mineral, unsur hara dan air sehingga sangat baik untuk tanaman. Tanah andosol juga sangat cocok untuk segala jenis tanaman yang ada di dunia.

Tanah andosol. Dok: farming.id.

Untuk daerah persebarannya, tanah andosol banyak terdapat di daerah yang dekat dengan gunung berapi. Daerah di Indonesia yang banyak terdapat tanah andosol adalah daerah di Jawa, Sumatra, Bali, dan Nusa Tenggara.

Entisol

Tanah entisol ialah saudara dari tanah andosol tetapi umumnya merupakan hasil pelapukan dari material yang dikeluarkan oleh letusan gunung berapi seperti pasir, debu,lapili, dan lahar.

Tanah Entisol juga termasuk tanah yang subur dan merupakan tipe tanah yang tergolong masih muda. Tanah entisol biasanya ditemukan tidak jauh dari area gunung berapi dapat berupa permukaan tanah tipis yang belum memiliki lapisan tanah dan berupa gundukan pasir seperti yang ada di pantai Parangtritis Jogjakarta.

Tanah entisol. Dok: farming.id.

Persebaran tanah entisol biasanya terdapat disekitar gunung berapi seperti di pantai Parangtritis Jogjakarta, dan daerah Jawa lainnya yang mempunyai gunung berapi.

Grumusol

Tanah grumusol memiliki tekstur tanah yang kering dan mudah pecah terutama saat musim kemarau. Warna dari tanah grumusol sendiri adalah hitam.

Tanah grumusol biasanya berada di permukaan yang kurang dari 300 meter dari permukaan laut dan mempunyai bentuk topografi tanah yang datar hingga bergelombang. Perubahan suhu yang dialami pada daerah bertanah grumusol sangat nyata ketika hujan dan panas.

Karena memiliki teksturnya yang kering maka akan sangat bagus apabila ditanami vegetasi kuat seperti kayu jati, jagung, tebu, tembakau, kapas, kedelai dan padi.

Tanah grumusol. Dok: farming.id.

Persebaran tanah grumusol di Indonesia banyak dijumpai di daerah Jawa seperti di Jawa Tengah (Demak, Jepara, Pati, Rembang dan Blora), Jawa Timur (Ngawi, Madiun) dan ada juga di Nusa Tenggara Timur.

Organosol

Tanah organosol terbentuk dari pelapukan bahan organik. Tanah ini biasa ditemui di daerah rawa atau daerah yang bayak tergenang air. Tanah organosol ini terbagi menjadi dua macam, yaitu tanah humus dan tanah gambut.

Tanah humus adalah tanah hasil pelapukan bahan organik, khususnya dari tanaman yang sudah mati. Humus sangat subur untuk pertanian karena memiliki kandungan bahan organik tinggi sehingga warna tanah ini menjadi hitam. Humus cocok untuk tanaman seperti kelapa, nanas dan padi. Tanah humus terdapat di daerah yang ada banyak hutan. Persebaran humus di Indonesia meliputi daerah Kalimantan, Sumatera, Papua, Jawa dan sebagian wilayah dari Sulawesi.

Tanah humus. Dok: farming.id.

Tanah gambut adalah tanah hasil pembusukan bahan organik. Gambut tidak sesubur humus. Pembusukan bahan organik pada tanah gambut berlangsung dalam keadaan tergenang sehingga tanah menjadi anaerob dan terlalu masam. Gambut dapat ditanami tanaman seperti kelapa sawit, nanas, palawija, karet dan padi.

Tanah gambut. Dok: farming.id.

Inseptisol

Tanah Inseptol ialah tanah yang terbentuk dari batuan sedimen atau metamorf dengan warna yang agak kecoklatan dan kehitaman serta campuran warna agak keabu-abuan. Tanah inseptisol juga dapat menopang pengadaan hutan yang asri.

Tanah inseptisol cocok jika dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan seperti perkebunan karet ataupun sebagai lahan perkebunan lain seperti kelapa sawit.

Tanah inseptisol. Dok: farming.id.

Tanah inseptisol banyak tersebar di berbagai daerah di Indonesia seperti di Kalimantan, Sumatera dan Papua.

Latosol

Tanah latosol/laterit ialah tanah yang memiliki warna merah bata karena banyaknya kandungan zat besi dan aluminium yang terdapat dalam tanah ini.

Tanah latosol/laterit termasuk ke dalam jajaran tanah yang sudah tua sehingga kurang cocok untuk ditanami tumbuhan apapun dan juga kandungan yang terdapat di dalam tanah tersebut.

Namun beberapa jenis tanaman masih bisa tumbuh pada tanah jenis ini, di antaranya adalah cengkeh, kopi, kelapa sawit, kakao, padi, palawija, buah dan sayuran lainnya. Jenis tanah seperti ini memiliki ph mendekati netral sehingga bisa diatur kesuburannya dengan sedikit penambahan pupuk.

Tanah latosol. dok: farming.id.

Persebaran tanah latosol/laterit di Indonesia meliputi Lampung, Sumatra Utara, Kalimantan, Jawa Timur, dan Jawa Barat, Jawa Tengah dan Papua.

Regosol

Tanah regosol terbentuk dari material yang dikeluarkan letusan gunung berapi yang belum mengalami perkembangan sempurna. Tanah jenis ini bertekstur kasar dan berbahan organik rendah. Sifat demikian membuat tanah tidak dapat menampung air dan mineral yang dibutuhkan tanaman dengan baik.

Tanah regosol. Dok: farming.id.

Tanah regosol lebih cocok untuk tanaman palawija, tebu, tembakau, sayuran dan padi. Tanah ini tersebar di Jawa, Bali, Bengkulu, Sumatera dan Nusa Tenggara.

Litosol

Tanah litosol adalah tanah yang memiliki tekstur berbatu-batu. Jenis tanah ini hampir mirip dengan tanah regosol karena sama-sama terbentuk dari aktivitas gunung Merapi. Tanah ini memiliki kedalaman yang dangkal dan peka terhadap erosi. Kandungan bahan organik tanah ini masih rendah.

Tanah litosol cocok untuk tanaman seperti palawija, rumput ternak dan tanaman keras. Tanah ini tersebar di Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara, Maluku Selatan dan Papua.

Tanah litosol. Dok: farming.id.

Sebelum memulai bercocok tanam baik sayuran, buah, palawija maupun tanaman perkebunan serta tanaman keras lainnya, mengidentifikasi jenis tanah menjadi sangat penting.

Sebab tentunya, media tanam yang digunakan (jenis tanah) menjadi dasar utama kesuksesan di sektor pertanian.

***

Referensi: farming.id, infoagribisnis.com, masbidin.net.

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya