Mengenal Perbedaan Padi Inbrida dan Hibrida

oleh
Mengenal perbedaan inbrida dan hibrida. Swara/BB Tani Balitbangtan.

Varietas merupakan salah satu komponen teknologi penting yang mempunyai kontribusi besar dalam meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani padi. Komponen teknologi ini sangat berperan dalam mengubah sistem usahatani padi, dari subsisten menjadi usahatani padi komersial. Berbagai varietas unggul padi tersedia dan dapat dipilih sesuai dengan kondisi wilayah, preferensi petani, dan kebutuhan pasar.

Apa itu Varietas dan Galur?

Varietas dapat didefinisikan sebagai sekelompok tanaman dari suatu jenis atau spesies tanaman yang memiliki karakteristik  tertentu seperti bentuk, pertumbuhan tanaman, daun, bunga, dan biji yang dapat membedakan dari jenis atau spesies tanaman lain, dan apabila diperbanyak tidak  mengalami perubahan. Jenis varietas menunjukan cara varietas tersebut dirakit dan metode perbanyakan benihnya, sehingga tersedia benih yang dapat ditanam oleh petani.

Sedangkan galur adalah tanaman hasil pemuliaan yang telah diseleksi dan diuji, serta sifat unggul sesuai tujuan pemuliaan, seragam dan stabil, tetapi belum dilepas sebagai varietas. Varietas lokal adalah varietas yang telah ada dan dibudidayakan oleh petani dalam kurun waktu yang lama secara terus menerus dan telah menjadi milik masyarakat serta dikuasai negara.

Apa itu Hibrida dan Inbrida?

Varietas unggul adalah galur hasil pemuliaan yang mempunyai satu atau lebih keunggulan khusus seperti potensi hasil tinggi, tahan terhadap hama, tahan terhadap penyakit, toleran terhadap cekaman lingkungan, mutu produk baik, dan atau sifat-sifat lainnya serta telah dilepas oleh pemerintah. Varietas unggul hibrida (VUH) adalah kelompok tanaman padi yang terbentuk dari individu-individu generasi pertama (F1) turunan suatu kombinasi persilangan antar tetua tertentu. VUH memiliki potensi hasil lebih tinggi dari varietas unggul inbrida yang mendominasi areal pertanaman padi.

Secara genetik individu tanaman tanaman hibrida bersifat heterozigot, namun dalam satu populasi hibrida penampilan pertanaman akan seragam atau homogen, sehingga pertanaman hibrida bersifat heterozigot homogen (heterozigous homogenous ). Oleh karena pertanaman varietas hibrida yang ditanam secara komersial dalam skala luas akan kelihatan seragam sebagaimana halnya galur murni.

Karena tanaman hibrida bersifat heterozigot, maka benih generasi berikutnya jika ditanam akan bersegregasi sehingga penampilannya tidak seragam. Oleh karena itu, hasil panen varietas hibrida tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai benih pada pertanaman berikutnya. Hal itu berarti benih Fhibrida harus selalu diproduksi setiap musim.

Tanaman padi mempunyai bunga sempurna (organ jantan dan betina terletak pada satu bunga yang sama), karena itu tetua betina pembentuk padi hibrida harus memiliki sifat ‘mandul jantan’. Secara genetis hal itu dapat dilakukan dengan memasukan gen pengendali kemandulan atau cms (cytopasmic-genetic male sterility), sehingga tetua yang mengandung gen cms tersbut hanya berfungsi sebagai bunga betina.

Varietas padi hibrida yang berkembang di Indonesia adalah varietas padi hibrida yang dibentuk menggunakan metode tiga galur, yaitu galur mandul jantan (GMJ) atau CMS (galur A), galur pelestari atau maintainer (galur B), dan tetua jantan yang sekaligus berfungsi sebagai pemulih kesuburan atau restorer (galur R). Ketiga galur (A; B; dan R) tersebut harus dibuat dan diseleksi secara ketat untuk membentuk hibrida unggul. Metode hibrida tiga  galur mempunyai kelemahan antara lain produksi benihnya rumit, tidak setiap varietas dapat dijadikan sebagai tetua pembentuk varietas padi hibrida, dan hanya varietas yang tergolong restorner saja yang dapat dijadikan sebagai tetua jantanya.

Perakitan atau pemuliaan varietas hibrida dilandasi oleh adanya fenomena genetika yang disebut vigor hibrida atau heterosis, yaitu suatu kecenderungan bahwa individu Fhasil suatu persilangan akan tampil lebih baik dibandingkan dengan salah satu atau rata-rata kedua tetuanya.

Pada sekala komersial, keunggulan suatu varietas hibrida dinyatakan dalam nilai standar heterosis yaitu persentasi keunggulan potensi hasil suatu varietas hibrida terhadap potensi hasil varietas pembanding baku yang umumnya berupa varietas inbrida yang paling populer di daerah pengembangan.

***

Referensi: BB Padi, Balitbangtan, Kementan.

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya