Mengenal Prinsip dan Sistem Penanaman Padi Jajar Legowo

oleh
Sistem penanaman padi Jajar Legowo. Foto: BB Padi, Balitbangtan Kementan.

Sistem penanaman padi terus berkembang dari waktu ke waktu. Berbagai macam upaya yang dilakukan tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan hasil atau produksi padi yang optimal untuk setiap satuan lahan.

Sebagai contoh, pada waktu lalu, para petani lahan kering atau sawah tanah hujan di Gunungkidul menanam padi dengan cara tradisional. Jarak dan pola tanam pada umumnya tidak beraturan, karena bibit padi berupa gabah langsung disebar dengan tangan setelah lahan disiapkan. Apabila jarak antar batang sangat rapat, maka penjarangan jarak tanam biasanya dilakukan dengan mengurangi tanaman bersamaan dengan proses ndhangir. Sementara itu, untuk lahan sawah, jarak dan pola tanam pada umumnya lebih teratur. Meskipun jarak antar tanaman tidak persis sama, setidaknya pola tanam dan jarak tanam lebih teratur.

Dalam beberapa tahun terakhir, sistem dan pola tanam padi jajar legowo juga sudah dikenal dan diterapkan para petani di Gunungkidul, khususnya pada wilayah persawahan. Cara tanam padi jajar legowo merupakan salah satu teknik penanaman padi yang dapat menghasilkan produksi yang cukup tinggi serta memberikan kemudahan dalam aplikasi pupuk dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Sistem jajar legowo adalah suatu rekayasa teknologi untuk mendapatkan populasi tanaman (jumlah batang tanaman) lebih dari 160.000 per hektar. Penerapan jajar legowo selain meningkatkan populasi pertanaman, juga memungkinkan tanaman dapat berfotosintesa lebih baik.

Penerapan sistem tanam legowo disarankan menggunakan jarak tanam (25×25) cm antar rumpun dalam baris; 12,5 cm jarak dalam baris; dan 50 cm sebagai jarak antar barisan/lorong atau ditulis (25×12,5×50) cm.

Tehnik jajar legowo atau biasa yang disebut Jarwo. Tehnik jarwo ini berasal peneliti Badan Litbang Pertanian bernama Sadeli Suriapermana. Tehnik jarwo ini memodifikasi jarak tanam yang sebelumnya berbentuk kotak tegel dengan jarak 25 x 25, menjadi tipe jarwo 2 : 1 yakni jarak tanam (25×12.5×50) cm. 25 pertama merupakan jarak antar rumpun di dalam barisan, 12.5 adalah jarak antar rumpun di baris pagar, dan 50 cm merupakan jarak legowo. Tipe lain dari jarwo adalah 4 : 1, atau petani juga terkadang mempraktekkan 6 : 1. Tipe 4:1 berarti setiap 4 baris kemudian diselang jarwo dengan jarak 50 cm atau menghilangkan satu baris tanaman dan memindahkan tanaman tersebut di barisan pagar.

Dihindari penggunaan jarak tanam yang sangat rapat, misalnya (20x10x40) cm atau lebih rapat lagi, karena akan menyebabkan jarak dalam baris sangat sempit. Sistem tanam legowo 2:1 akan menghasilkan jumlah populasi tanaman per ha sebanyak 213.300 rumpun, serta akan meningkatkan populasi 33,31% dibanding pola tanam tegel (25×25) cm yang hanya 160.000 rumpun/ha. Dengan pola tanam ini, seluruh barisan tanaman akan mendapat tanaman sisipan.

Populasi

Populasi tanaman merupakan salah satu faktor penentu hasil yang dapat dicapai ketika panen padi. Penampilan varietas padi pada kondisi jarak tanam lebar dengan cukup hara dan air dapat dianggap sebagai “ekspresi genetik suatu varietas”, sedangkan pada kondisi jarak tanam sempit merupakan ekspresi genetik x lingkungan x pengelolaan. Dengan demikian populasi optimal dapat diperoleh melalui pengaturan sistem penanaman dan jarak tanam.

Variasi pola tanam sistem Jajar Legowo. Dok: BB Padi, Balitbangtan Kementan.

Alat tanam diperlukan untuk mengatasi kesulitan dan kelangkaan tenaga kerja tanam. Drum seeder adalah jenis alat tanam yang diisi benih siap sebar sekitar 40 kg/ha yang dalam operasionalnya membutuhkan tenaga kerja 5 HOK. Benih direndam dan diperam masing-masing selama 24 dan 48 jam sebelum dimasukkan alat.

Drum seeder sebagai alat mekanisasi penanaman bibit padi. Foto: BB Padi, Balitbangtan Kementan.

Jika menggunakan bibit, tanam dapat dilakukan baik secara manual maupun dengan bantuan mesin tanam. Caplak dibutuhkan untuk membuat alur barisan memanjang dan membujur sesuai dengan jarak tanam yang ditentukan. Dibutuhkan sekitar 26 HOK tenaga tanam secara manual dan 3 HOK jika menggunakan mesin transplanter.

***

Referensi: Balai Besar Penelitian Padi, Balitbangtan Kementan. (http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-teknologi/content/380-prinsip-dan-populasi-sistem-tanam-jajar-legowo)

Tentang Penulis: Swara1

Swara1
SwaraGunungkidul - Berbagi dan Berdaya